Tampilkan postingan dengan label Aktivitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivitas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Ragnarok 2 : Legend of the Second

Sebenarnya saya suka game online lho. Memang sudah beberapa tahun ini saya tidak main game online karena sibuk ngantor dan punya baby. Tapi dari SMA sampai kuliah, saya adalah online gamers. Game yang paling saya suka adalah Nexia, Ragnarok, dan World of Warcraft.

Setelah Nana lebih besar dan bisa tidur sendiri, maka jam tidur siangnya saya gunakan untuk main game online. Dan game yang saya minati saat ini adalah... Ragnarok II : Legend of the Second. Memang masih open beta sih, jadi banyak bugs, kalo peak hour jadi lag banget, error ini-itu, sering maintenance... tapi kalo udah demen mau gimana lagi? Hihi...

Gameplay RO2 (sangat) mirip dengan WoW. Ada quest dengan variasi yang mirip (grinding/killing boss/gathering/delivering/escorting/reporting), dungeon, repairing equipment, profession, casting time potion, bounding equipment, dll. Namun ada beberapa khas RO yang dipertahankan seperti penggunaan card (meskipun ada perubahan signifikan dibandingkan pendahulunya) dan perubahan job.

Meskipun mirip, tapi RO2 tetap bisa dinikmati dengan cara yang berbeda dibandingkan WoW. Paling mencolok, adalah penampilan char yang lebih "cute" dibandingkan "cool".  Dan yang penting, mainnya gratis! Yaay!

Char pertama yang saya buat adalah swordman (atau swordwoman kali ya). Tapi bosan karena huntnya lama. Akhirnya buat char baru, yaitu Thief yang sekarang sudah menjadi Assassin. Sebetulnya sudah mencoba untuk keluar dari zona nyaman dengan mencoba membuat archer. Tapi ternyata kurang betah mainnya. Saya memang lebih suka char melee daripada range apalagi magic atau healer. Kalau dipikir-pikir, semua char saya tipenya melee semua. Di Nexia, saya bermain Warrior. Di RO pertama, saya bermain Assassin dan Monk. Sempet membuat char Priest, tapi nggak sampai aura. Di WoW, saya bermain Elf Rogue dan Tauren Warrior. Yah... maybe next game...



Kamis, 08 November 2012

Little Swimmer

Saat berenang bersama Nana, beberapa pengunjung lain sering bertanya pada saya, bagaimana caranya mengajarkan anak seusia Nana bermain di kolam renang. Mereka berpendapat, Nana cukup berani untuk anak seusianya. Tapi sebenarnya, Nana sama seperti anak lain. Dia juga pernah ketakutan saat kakinya tidak menginjak dasar kolam atau khawatir ketika wajahnya "tenggelam". Lalu bagaimanakah caranya supaya anak tidak trauma dan mau mencoba lagi bermain air di kolam renang?


Sebelum memulai tips, saya ingin meyakinkan siapapun bahwa berenang adalah aktivitas yang positif bagi siapapun, termasuk bayi dan batita. Saat berenang, berat badan kita ditopang oleh air sehingga tidak membebani lutut. Itulah sebabnya, bayi yang belum bisa berjalan sekalipun boleh diajak berenang karena tidak ada tekanan pada tulang dan sendi kakinya. Apabila anak sudah terbiasa berenang sejak dini, dia akan terbiasa melakukan olahraga air ini sampai dewasa. Olahraga berenang baik untuk menjaga kesehatan sendi-sendi, jantung, serta melatih pernafasan. Selain itu, berenang adalah olahraga yang bisa dilakukan sampai tua.

Tips pertama yang bisa saya sarankan adalah membiasakan anak berada di air sejak lahir. Mandi dengan menggunakan jolang atau ember adalah salah satunya. Ketika anak sudah bisa duduk, biarkan dia bermain di jolang mandinya sendiri. Jangan terlalu "mengkhawatirkan"nya, biarkan dia bereksperimen dengan air, botol, dan gelas plastik.

Kedua, jika pertama kali diajak ke kolam renang, bawalah ke kolam yang airnya hangat. Ini mencegah anak terkejut karena dinginnya air. Selain itu, jangan bawa anak berenang di kolam yang itu-itu saja. Ajak dari satu kolam ke kolam lain, termasuk yang airnya dingin.

Ketiga, setelah badan anak cukup besar, belikan pelampung. Setelah itu, cobalah untuk melepasnya perlahan-lahan. Apabila anak tidak keberatan, jangan segan-segan membiarkannya berenang sendiri. Perlu diperhatikan - keseimbangan anak umumnya belum sempurna sehingga kalau berenang sering miring. Awasi jangan sampai air masuk ke telinganya, karena dia bisa merasa cemas sekali. Cukup dengan memegang ujung jarinya dan membiarkan kakinya bebas, anak bisa menikmati pengalaman pertama berenangnya dengan gembira.

Keempat, bawalah mainan favoritnya (yang tahan air, tentu saja) ke dalam kolam. Dulu Nana senang sekali bola berwarna hijau, dan dengan membawa mainan itu ke air, dia lebih semangat bermain.


Kelima, jika anak sudah cukup dewasa, ajak dia membeli baju renang. Biarkan anak memilih sendiri. Jangan omeli anak jika membeli baju renang yang modelnya aneh, atau warnanya kurang pas dengan kulitnya. Biarkan dia memilih sesuai keinginannya. Yang penting, ukurannya cocok.

 

Tips keenam, yang juga paling penting, adalah mengajak anak melihat orangtua atau saudaranya berenang. Prinsipnya, anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Jika orangtuanya rutin berenang, niscaya anak pun akan beranggapan bahwa berenang adalah sesuatu yang biasa. Pencapaian terbaiknya adalah ketika anak tertarik ingin mencemplungkan tangan atau kakinya bilamana melihat orangtua atau saudaranya sedang berenang. Tapi jika anak masih menangis dan memanggil orangtua atau saudaranya yang sedang berenang, itu artinya anak masih merasa kolam air adalah sesuatu yang menakutkan.



Tips terakhir, berikan reward kecil apabila anak mau berenang. Misalnya, izinkan dia makan sosis goreng kesukaannya atau jus favorit setelah berenang. Jangan lupa, tutupi badannya dengan handuk supaya tidak kedinginan. Ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman dan menyenangkan setelah berenang.

Senin, 15 Oktober 2012

Fitness for Fit Mom

Selama sebulan terakhir ini, saya memulai kembali aktivitas fitness secara rutin. Bukan sekedar treadmill di private gym milik papa, tapi pergi ke salah satu fitness center terkenal di Bandung yaitu Rai Fitness di Jalan Cihamplas ( Itu lho, fitness centre yang dikelola oleh Ade Rai. Kalau nggak kenal Ade Rai, keterlaluan! ) Pada dasarnya saya suka berolahraga, terutama olahraga permainan seperti pingpong dan basket. Tapi setelah menikah dan punya anak, saya susah mencari teman dan waktu untuk main basket. Oleh karena itu, olahraga yang dilakukan sendiri seperti renang dan gym menjadi pilihan yang lebih baik. Tapi kalau berenang, tidak bisa sesering gym, karena air kaporit membuat rambut dan kulit rusak sehingga saya harus keluar uang ekstra untuk perawatan. Oleh karena itu, ketika kakak mengajak fitness, saya langsung setuju.

Ada tiga alasan mengapa saya memutuskan untuk mulai fitness lagi, yaitu ingin lebih sehat, ingin lebih ramping, dan sambil mengisi waktu sambil menunggu anak sekolah. Sejak Nana sekolah, saya banyak "nangkring" di sekolah sambil jajan ini dan itu sehingga badan semakin melar. Bayangkan, dengan tinggi badan hanya 160 cm lebih, berat badan saya 68,5 kilo! Terima kasih mie baso, cakue, lumpia, dan cimol! Selain itu, saya merasa kesehatan saya sering terganggu, selain sering batuk dan pilek, saya juga mudah lelah tapi sulit tidur.

Nana bersekolah tiga hari seminggu; hari Senin dan Rabu dari jam 8.00 sampai jam 10.15, sedangkan hari Jumat jam 8.00 sampai jam 9.30. Dengan kata lain, waktu saya fitness hanya sekitar 1 - 1,5 jam, hanya 3 kali seminggu. Setelah berkonsultasi sana-sini, termasuk dengan para trainer di RF, saya berhasil mengatur pola latihan mengikuti jadwal sekolah Nana.

Sebelum memulai latihan, saya pemanasan dengan elliptical trainer selama 10 - 15 menit. Menurut saya, alat ini membuat badan lebih cepat panas daripada treadmill. Setelah itu, jangan lupa stretching untuk menghindari kram atau cedera otot. Setelah pemanasan, saya memulai latihan angkat beban dengan jadwal sbb.

Senin : Latihan Otot Kaki + Dada + Pinggang
Rabu : Latihan Otot Triceps + Bahu + Perut Atas
Jumat : Latihan Otot Punggung + Biceps + Perut Bawah

Setiap jenis latihan, saya lakukan secara bervariasi. Misalnya hari Senin minggu pertama, latihan otot kaki dikonsentrasikan pada otot paha bagian depan, sedangkan pada Senin minggu kedua dikonsentrasikan pada otot paha bagian belakang. Pada minggu selanjutnya, lebih dipusatkan pada betis. Latihan yang dipadatkan mungkin lebih efektif / cepat untuk membentuk otot dan merampingkan badan, tapi badan terasa jauh lebih lelah. Dengan kesibukan sebagai ibu yang harus pergi ke kantor juga, tentu kinerja tidak boleh menurun karena kecapekan fitness.

Variasi kedua adalah dengan tidak memborong semua jenis alat dalam 1 hari yang sama. Selain menghabiskan banyak waktu (mengingat waktu latihan saya sempit), otot yang dilatih jadi sakit tidak tertahankan sehingga ujung-ujungnya malas latihan lagi. Misalnya untuk latihan dada minggu pertama, saya lebih banyak menggunakan dumbbell. Sedangkan untuk minggu selanjutnya, saya menggunakan alat seperti cable crossover dan pec deck. Kita bisa bertanya pada orang-orang yang lebih berpengalaman atau trainer mengenai berbagai variasi angkat beban supaya latihan kita tidak membosankan.

Variasi ketiga dilakukan dengan pola repetisi. Misalnya pada minggu pertama saya, setiap satu jenis latihan saya lakukan 4 set dengan masing-masing 15 kali pengulangan. Sedangkan pada minggu kedua, 3 set dengan pengulangan bertahap yaitu 15, 20, dan 25. Pada saat menambah beban, saya melakukan 4 set dengan 12 kali pengulangan. Jangan lupa untuk beristirahat selama 30 detik sampai 1 menit setelah melakukan satu set atau setelah melakukan satu jenis latihan.

Biasanya, durasi angkat beban berkisar antara 30 sampai 40 menit, tergantung banyaknya jenis latihan yang saya lakukan. Setelah selesai angkat beban, saya melakukan latihan cardio dengan treadmill selama 10-30 menit, sesuai dengan waktu yang tersedia. Setelah itu, saya menghabiskan 5 menit di atas sepeda santai untuk cooling down atau sekedar mengeringkan keringat sebelum mandi.

Apabila kita punya uang lebih, kita bisa menyewa personal trainer atau PT. PT bisa membuat pola latihan yang lebih bagus dan progresif sehingga target kita lebih cepat tercapai. Namun faktor lain yang menentukan keberhasilan latihan kita bukan hanya di fitness center saja, tapi juga di luar. Menjaga asupan makanan yang bergizi, menghindari jajanan tidak sehat, memilih air putih daripada minuman lainnya, serta pola makan yang teratur membuat target lebih cepat tercapai.

Saya tidak mengatakan bahwa saya telah berhasil mencapai target selama sebulan ini. Bagi saya, proses masih panjang. Tapi setelah satu bulan penuh latihan tiga kali seminggu tanpa bolos, tanpa menggunakan supplement apapun, saya berhasil menurunkan berat badan sebanyak 3 kilo setengah. Selain itu, saya tidak merasa over-tired alias terlalu lelah, saya masih punya stamina untuk bekerja di kantor dan mengurus anak.

Intinya, fitness bagi ibu rumah tangga harus diprogram supaya tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Lebih baik prosesnya lama tapi menyenangkan, daripada cepat tapi melelahkan atau membosankan. Jika di hari lain punya waktu luang, lebih baik kita habiskan di gym. Jangan lupa, target kita sebenarnya adalah mendapatkan tubuh yang sehat, sedangkan badan yang bagus adalah hadiahnya. Yay!

Jumat, 14 September 2012

Nana Goes To Lombok

Awal September 2012, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mengabulkan permintaan Nana yang dipendam sejak beberapa bulan sebelumnya: naik pesawat! Selama 2,5 tahun hidupnya, Nana selalu senang melihat pesawat melintas di angkasa. Rumah kami memang berdekatan dengan gunung di mana terdapat dengan radar pesawat, sehingga banyak pesawat melintas sepanjang hari. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih terbang ke Lombok. Saya juga mengajak mama saya ikut ke Lombok; kebetulan beliau sudah cukup lama tidak berlibur, sehingga langsung setuju begitu diajak.

Pukul setengah delapan pagi, saya dan keluarga sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Nana bersikap sangat sabar selama menunggu di ruang tunggu. Saya sudah menyiapkan mainan untuknya, yaitu seperangkat sticker dan buku menempel. Selama di pesawat, Nana bersikap sangat sabar. Dia mau duduk sendiri, menggunakan seat belt, dan menghabiskan dua jam perjalanan dengan tidur lelap. Begitu landing, dia langsung terbangun.Yaay, Nana tiba di Lombok!


Di Lombok, kami menginap di Hotel Santosa yang terletak di Senggigi. Hotelnya bagus sekali: luas, asri, nyaman, dan semua staffnya ramah. Bukan itu saja, mereka memberikan potongan harga dari harga yang mereka publish lewat internet; dari 1,2 juta per malam per kamar, menjadi 900 ribu saja. Terima kasih Santosa! Mereka juga menawarkan seorang guide yang bisa kami bayar per hari untuk mengantarkan ke berbagai tempat yang kami suka. Namanya Bapak Kesul, orang suku Sasak, penduduk asli Lombok. Dia orang yang ramah, asyik diajak ngobrol, berpengetahuan luas, dan akrab dengan Nana!


Sentosa menghiasi kamar dengan bunga.
Begitu tiba, Nana mengumpulkan bunga-bunga itu dan bercentil ria.




Tapi hari pertama kami tidak kemana-mana karena Nana sudah nampak cukup lelah dengan perjalanan. Jadi kami menghabiskan hari pertama dengan bermalas-malasan di hotel: menikmati kolam renang yang luas, bermain water tube, dan jajan snack! Karena Hotel Sentosa terletak di tepi pantai, kami mengajak Nana bermain pasir sambil menikmati sunset.





Hari kedua, kami pergi ke tiga pulau Gili: yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Meskipun Gili Trawangan adalah salah satu icon wisata Lombok yang beken sampai ke luar negeri, tapi saya tidak terlalu lama menghabiskan waktu di sini. Pasalnya, tempat ini penuh dengan orang! Banyak wisatawan asing yang berlibur di sini. Kami hanya berkeliling dengan menggunakan delman yang disebut cidomo, setelah itu berangkat ke pulau lain: yaitu Gili Air. Nana paling senang naik perahu, dia bahagia sekali ketika wajahnya kena cipratan air laut. Tukang perahu sampai tersenyum geli melihat Nana yang berteriak kegirangan ketika perahu "melompat-lompat" di atas ombak. Dia selalu berkata, "Lagi! Lagi!"


Pemandangan Gili Trawangan ketika naik cidomo
Snorkeling di Pulau Gili memang menyenangkan! Banyak ikan laut yang bisa diberi makan roti. Mereka mendekati kita dan makan roti dari tangan kita. Sayangnya saya tidak punya kamera bawah air sehingga tidak bisa mengabadikan lucunya ikan-ikan tersebut. Nana menonton dari perahu, sambil sesekali melemparkan roti.

Gili Meno dilihat dari perahu

Selama bepergian ke kepulauan Gili, saya tidak terlalu banyak mengambil foto karena lupa -_-; Yah, mau bagaimana lagi? Tempat ini memang bikin lupa segalanya! Rasanya kepingin bermain sampai malam. Sepulang dari Gili, kami kembali ke hotel. Sebelumnya, kami mampir dulu dulu di Pura Batu Bolong. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi bagus. Saya selalu senang mengunjungi bangunan yang terbuat dari batu. Kesannya, kuno tapi megah!



Hari ketiga, kami harus pulang -_-; sedih rasanya karena tiga hari memang sangat kurang untuk berkeliling Lombok. Tapi Pak Kesul, sang guide, mengajak kami mengunjungi Tanjung Aan dan Pantai Kute terlebih dahulu. Dia bilang tempat ini indah. Wah, jadi penasaran dong! Ternyata ucapan Pak Kesul 100% benar! Tidak perlu berbacot ria, cukup foto-foto ini yang menceritakan keindahannya!






 


Itulah laporan perjalanan Nana ke Lombok. Menyenangkan bukan? Lombok adalah tempat yang menyenangkan untuk anak berusia 2,5 tahun, lingkungannya bersih, dan anak-anak bisa bergembira di pantai yang indah! Saya pasti kembali lagi ke sini bersama Nana! Yaay!

Selasa, 21 Agustus 2012

Liburan Lebaran : Reina & Ikan & Burung!

Sehari sebelum lebaran, saya bersama suami dan Reina, memutuskan untuk pergi liburan ke Jakarta. Kami berasumsi Jakarta jauh lebih sepi dari biasanya karena sebagian besar pemudik sudah keluar kota. Meskipun tidak hafal jalanan di Jakarta, cukup dengan mengandalkan GPS, kami melaju ke Ancol, dengan tujuan Sea World Indonesia.

Sesuai dugaan, jalan menuju Jakarta sangat sepi. Perjalanan dari Bandung ke Ancol kami tempuh dalam waktu kurang dari 2 jam saja. Pemandangan lengang kota Jakarta terasa asing di mata saya, seolah-olah kota paling modern se-Indonesia ini sedang "tidur". Udara panas membuat kepala agak pening, tapi kesan yang ditimbulkan dari hutan beton ini tetap dingin dan kaku. Walaupun demikian, saya dan keluarga tetap bersemangat karena ingin mengajak Nana melihat akuarium terbesar di Indonesia.

Setiba di Sea World Ancol, Nana langsung menuju akuarium Arapaima, ikan air tawar terbesar di dunia dari Sungai Amazon. Nana langsung berseru, "Besaaaaaar banget!" Sesuai dugaan saya, Nana sangat senang melihat dunia air dengan ratusan jenis ikan. Namun Nana paling senang melihat ikan favorit yang namanya selalu disebut sepanjang perjalanan: Ikan Hiu! Nana juga sangat senang bermain di touch pool, di mana dia bisa menyentuh beberapa hewan laut seperti penyu hijau, ikan hiu kecil (entah jenisnya apa), dan bintang laut.

berfoto di touch pool

Seaworld menyediakan berbagai spot foto yang menarik, salah satunya adalah patung gurita

ikan favorit Nana

spot foto yang lain: lukisan terumbu karang yang "glow in the dark"

Puas melihat-lihat ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya, kami makan siang dan segera melanjutkan perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah. Menurut mama, saya pernah ke sini waktu kecil... tapi tidak ingat tuh! Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi TMII sekedar merefresh ingatan saya. Ternyata... TMII sangat luas! Tidak mungkin mengelilinginya hanya dalam waktu beberapa jam saja. Oleh karena itu, kami harus memilih pergi ke Taman Burung.

Di sini, berbagai jenis burung dibiarkan terbang bebas, berkeliaran di mana-mana. Kita bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung tersebut, tapi tetap harus berhati-hati! Kita juga bisa berfoto dengan berbagai jenis burung yang jinak, dibantu oleh pawangnya. Cukup dengan membayar lima ribu rupiah, kita bisa bergaya dengan berbagai burung yang cantik. Wow!

Nana, Papih, dan Elang yang gagah

Nana, Mamih, dan burung kakak tua yang cantik! Burung ini adalah icon pensil warna Faber Castle

Meskipun bukan Blue Macau, Nana memanggil burung ini "RIO"

Sejenis kakak tua, dengan jambul berdiri seperti Rocker! Yeah!

Setelah jam menunjukkan pukul empat sore, kami memutuskan untuk pulang. Masih banyak spot di TMII yang belum kami kunjungi, jadi kami berencana akan kembali jika ada waktu. Sungguh menyenangkan mengajak balita berwisata ke tempat-tempat di mana dia bisa berinterkasi dengan binatang. Selain untuk mengajarkan rasa sayang hewan dan kekaguman pada Tuhan yang menciptakannya, dia juga belajar tentang kekayaan alam semesta ini. Semoga di kemudian hari Nana serta generasinya akan selalu ingat untuk mencintai lingkungannya agar hewan-hewan cantik ini tidak punah!

Minggu, 12 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan

Apa yang pertama kali muncul di benak kita ketika mendengar kata Hari Kemerdekaan? Pada masa kini, ketika rakyat berpikir jauh lebih kritis daripada dua atau tiga puluh tahun yang lalu, Hari Kemerdekaan Indonesia seolah hanya menjadi simbol ironi saja. Banyak literatur yang menyebut bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka; rakyat Indonesia masih terjajah oleh kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, pembodohan, dll.

Tapi.... bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Saya ingin membahas soal memperkenalkan Hari Kemerdekaan pada anak-anak. Sebagai seorang ibu, saya tidak menganggap hari kemerdekaan hanya sebagai sekedar hari libur saja. Anak saya harus tahu dan mengerti bahwa tanggal 17 Agustus tetaplah hari keramat yang harus kita ingat, hargai, dan maknai. Mengapa? Alasan saya sederhana: untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sedari dini.

Menurut saya, anak-anak (juga orangtuanya) zaman sekarang kurang mencintai tanah air mereka sendiri. Misalnya, mereka lebih suka berlibur ke luar negeri daripada keliling negeri sendiri. Atau mengganggap ekstrakulikuler angklung tidak bergengsi jika dibandingkan modern dance atau berenang. Film anak-anak  seperti Garuda di Dadaku, Rumah Tanpa Jendela, dan Denias dianggap film kelas dua. Anak-anak lebih suka menonton Spiderman dibanding film-film anak buatan bangsa sendiri. Lebih ekstrim lagi, orangtua memilih menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, sehingga anak-anak mereka berbicara seperti Cinta Laura! Wow! (Kalau begitu, kenapa nggak sekalian pindah saja ke Inggris atau USA?)

Berangkat dari pemikiran itulah, saya merasa perlu menumbuhkan rasa cinta tanah air - minimal pada anak saya sendiri. Moment hari kemerdekaan saya gunakan untuk memperkenalkan apa itu "Indonesia". Menjelang awal Agustus, saya mencoba memperkenalkan lagu Indonesia Raya pada Nana. Di usianya yang 2,5 tahun, Nana sudah bisa mengingat lagu dan liriknya meskipun belum sempurna. Selain itu, saya juga membeli beberapa bendera kecil dari penjaja di perempatan jalan, lalu memasangnya di jendela mobil dan meja makan. Dalam perjalanan ke sekolah, saya menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Bendera Merah-Putih dan Tanah Air Beta, dan lain-lain. Tidak lupa, membeli sepasang baju baru bernuansa merah dan putih - Nana menyebutnya "baju bendera".

Di rumah, saya mengajak Nana melakukan simulasi upacara bendera bersama boneka-bonekanya. Saat itu Nana belum tahu apa itu upacara bendera. Saya mengajarkan dengan bahasa sederhana: upacara itu artinya kita harus baris dengan rapi dan mengikuti petunjuk pemimpin. Kalau pemimpin menyuruh hormat, maka kita harus hormat. Kalau pemimpin menyuruh menyanyi, maka kita harus menyanyi. Kalau pemimpin membaca Pancasila, maka kita harus mengikuti.



Hasilnya terlihat hari ini, ketika Nana mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan di Sekolah Minggu. Ketika anak-anak sebayanya lari-lari ke sana kemari, Nana berdiri tegak memandang bendera sambil memberikan hormat. Dia juga mencoba mengikuti ucapan Pembina Upacara ketika membacakan Pancasila. Konyolnya, saat menyanyikan lagu 17 Agustus, Nana menyanyi sambil joget! Jadi bahan tertawaan deh... tapi Nana masih kecil, jadi semakin ditertawakan, malah semakin semangatlah dia. Overall, sungguh terharu rasanya melihat Nana mengikuti upacara bendera pertamanya.

Program lain yang saya lakukan secara rutin dalam memperkenalkan rasa cinta tanah air pada Nana adalah dengan mengajaknya mendoakan Indonesia. Cukup dengan doa yang simpel, misalnya: "Tuhan, tolong berkati Indonesia agar selalu damai dan sejahtera. Amin". Meskipun terdengar klise, tapi saya yakin Tuhan mendengarkan doa anak-anak.

Sedangkan program terakhir untuk memperkenalkan Indonesia dan hari kemerdekaan adalah dengan membeli kue berwarna merah putih, lengkap dengan lilin 67. Saya bermaksud mengajak Nana meniup lilin dan makan kue saat 17 Agustus nanti. Simpelnya, saya mengajarkan bahwa setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia berulang tahun - sama seperti Nana, mama, dan papa. Jadi kami akan tiup lilin dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun! Saya rasa cara ini akan cukup efektif dan menyenangkan, mengingat umumnya anak-anak bersemangat dengan ritual tiup lilin dan potong kue!

Happy Birthday, Indonesia! God bless Indonesia always!

Rabu, 18 Juli 2012

Sekolah di Preschool : First days!

Minggu kemarin, Reina ( 2 tahun 4 bulan ) mulai bersekolah di TK BPK Penabur 246 Bandung, di jenjang "toddler". Tantangannya cukup berat, karena selain sifat Nana yang takut pada situasi/orang baru, dia juga sedang tidak enak badan. Tapi saya tetap membawanya ke sekolah, sekedar untuk mengenalkan lingkungan kelas. Seperti dugaan, Nana menolak masuk kelas. Hari kedua juga sama, Nana nangis sejadi-jadinya. Tapi hari ketiga dan selanjutnya, Nana mulai menunjukkan progress yang positif. Dia tidak menangis lagi, bisa mengikuti instruksi miss (guru), dan bisa mengikuti aktivitas kelas. Syukurlah!


Hari-hari pertama sekolah, terutama di jenjang preschool, tentunya menjadi buah simalakama bagi orang tua. Di satu sisi, tentunya orangtua ingin anak-anaknya bisa mengembangkan kemampuannya di sekolah. Di sisi lain, orangtua juga tentunya merasa kasihan melihat anak-anak yang menangis karena merasa jauh dari orangtuanya. Saya juga merasakannya. Di sekolah, saya banyak mengobrol dengan orangtua yang lebih berpengalaman, dalam artian lebih dewasa dari saya dan lebih berpengalaman dalam menyekolahkan anak. Dari hasil obrolan itu, saya menyimpulkan beberapa hal :

1. Sebaiknya orangtua "merelakan" anak-anaknya di dalam kelas tanpa didampingi, terutama pada hari ketiga sekolah dan selanjutnya. Jika orangtua ragu-ragu (misalnya mengintip ruang kelas, ragu saat menyerahkan anak pada guru), maka anak akan menganggap bahwa guru adalah orang lain yang mencoba mengambil/merebut dirinya dari orangtuanya.

2. Berikan pengertian pada anak bahwa sekolah bukan berarti orangtuanya meninggalkannya, tapi sekolah menawarkan seribu satu aktivitas yang tidak ditemukan di rumah. Sebagai contoh, saya sering mengajak Nana mengobrol seperti ini: "Na, di sekolah asyik banget ya? Kalau di rumah 'kan Nana main sama Mbak Ayu doang, tapi kalau di sekolah ada Richel, ada Elston, ada Nada, ada Elvina, ada Jay, ada Edward, ada Miss Yenna, ada Miss Zanneta, dan ada Miss Camel. Banyak ya!" Jelaskan pada anak-anak bahwa di sekolah dia bisa bermain sambil belajar bersama guru yang baik dan pandai, serta bersenang-senang dengan teman-teman seusianya yang mungkin sulit ditemukan di lingkungan rumah. Cara memberikan pengertian bisa dengan mengobrol dengan bahasa yang sederhana. Ingat nama-nama guru dan teman sekelas anak, sebutkan nama-nama itu di rumah.

3. Jelaskan juga bahwa orangtua tidak bisa mendampingi anak-anak di sekolah, dengan alasan yang sederhana dan bisa diterima anak. Saat pertama meninggalkan Nana sekolah, suami saya berkata pada Nana : "Nana main di kelas sama Miss dan teman-teman ya, Papih dan Mamih tunggu di luar. Soalnya kelas 'kan buat anak-anak kecil, jadi Mamih dan Papih nggak boleh di sini." Awalnya Nana tidak terima, tapi pada hari keempat, Nana rela lepas dari gendongan papanya dan beringsut-ingsut ke kelas dengan ucapan itu.

4. Pujilah penampilan anak saat mengenakan perlengkapan sekolah. Saat anak-anak menggunakan seragam, membawa tas, memakai kaos kaki dan sepatu sekolah, pujilah mereka dengan ekspresi yang kagum. Katakan kalau mereka cantik atau tampan, gagah, dan keren. Kalau perlu, foto mereka dengan kamera HP dan segera tunjukkan foto mereka.

5. Sebaiknya orangtua bangun lebih pagi dan mempersiapkan segalanya lebih baik. Jangan terburu-buru karena anak akan merasa khawatir. Jaga mood anak pada pagi hari supaya dia tidak merasa bete dan keberatan masuk ke dalam kelas. Jika anak menolak sarapan, jangan dipaksa. Beri susu atau biskuit yang dia suka. Pola sarapan yang baik bisa diterapkan setelah dia terbiasa ke sekolah. Berusahalah untuk tidak marah pada ketika anak hendak ke sekolah meskipun dia rewel, sebaliknya sebaiknya tunjukkan bahwa orangtua juga bersemangat.

6. Tanyalah pada guru, kegiatan apa yang mereka lakukan di kelas. Setelah itu, ulangi di rumah. Tanya juga pada anak apa yang mereka kerjakan, dan tanyalah lagu apa yang tadi mereka nyanyikan. Bila mereka merespon pertanyaan kita, berilah pujian dan senyuman bangga. Katakan pada mereka betapa hebatnya mereka bisa melakukan hal-hal tersebut. Tanyalah apakah mereka menangis atau tidak, dan katakan betapa bangganya kita apabila anak tidak menangis.

Saya rasa itu adalah tips-tips dari para orangtua yang saya temui di sekolah, dan setelah saya coba, hasilnya cukup memuaskan. Masih banyak yang harus Nana lalui, tapi saya yakin dia pasti bisa. Ganbatte kudasai, Reina-chan!

Senin, 02 Juli 2012

Reina & Taman Bunga Nusantara

Tengah bulan Juni kemarin, saya dan suami memutuskan untuk mengajak Reina, putri kami yang berusia 2 tahun, ke Taman Bunga Nusantara yang terletak di Cipanas, kawasan Puncak. Tanpa tahu jalan dan hanya dengan mengandalkan papan petunjuk jalan, sampailah kami ke taman bunga tersebut. Lokasinya memang tidak terlalu sulit dijangkau, hanya saja jalan menuju lokasi agak sempit dan berbatu. Tapi perjuangan Honda Jazz kami tidak sia-sia; hanya dalam waktu tempuh 2 jam, kami tiba di taman bunga yang sangat indah seluas 35 hektar! Satu kata: beautiful!




Begitu tiba, kami langsung disambut dengan topiari Burung Merak, serta kolam yang besar. Saat itu cuacanya agak panas, jadi saya memutuskan untuk membawa payung. Agak repot memang, sebab selain harus membawa tas berisi botol minum, saya juga harus memfoto Reina juga. Walaupun demikian lebih baik panas daripada hujan. Ya kan?



Taman Bunga Nusantara dibagi menjadi beberapa sub-area, semuanya bisa kita kunjungi dengan berjalan kaki atau menumpang mobil wara-wiri. Ada taman bertema Jepang, Perancis, taman mawar, taman bermain anak-anak, air mancur, area piknik, dan lain-lain. Semuanya indah, bersih, dan terawat. Sayangnya, saya melihat ada sekelompok anak-anak berusia 13-15 tahunan sedang bermain sepakbola; mereka menginjak-injak rumput dan tanaman di sekitarnya.


Kami berkeliling selama lebih dari 4 jam, karena taman bunga itu sangat luas. Di sana Reina melihat berbagai jenis angsa di kolam nan luas. Dia juga nampak terpesona dengan berbagai bentuk dan warna bunga yang cantik. Ketika melihat spot yang menurutnya menarik - layaknya seorang model - Reina juga langsung ambil posisi dan minta difoto. Huh, kecil-kecil udah narsis! *tapi yah, kalau bukan nurun dari bapaknya, pasti dari ibunya kan?* Anehnya, meskipun banyak bunga, tapi saya tidak terlalu banyak melihat kupu-kupu. Mungkin karena tanaman di sini diberi banyak pestisida, supaya tidak berulat. Sebagai ulat-phobia, saya bersyukur.


Taman Bunga Nusantara sangat cocok untuk dikunjungi oleh siapapun, usia berapapun. Jika membawa anak kecil, jangan lupa untuk membawa makanan kecil dan minuman kesukaan, sebab tempat makan di sini kurang cocok untuk batita. Saya berpapasan dengan sepasang calon pengantin yang sedang difoto pra-wedding. Hmm, rasanya seperti melihat Ratu Marie Antoinette dan pacar gelapnya, Fersen. Saya juga melihat seorang kakek berusia sekitar 70 tahun, sedang berjalan sambil mendorong kursi roda seorang nenek sambil mengobrol santai. Jadi saya rasa, orangtua pun cocok bersantai di tempat ini, sekedar melepas kepenatan di tengah kota. Untuk anak-anak remaja, jangan lupa bawa kamera karena tempat ini benar-benar beautiful! Pesan saya, jangan sampai merusak taman atau mengotorinya dengan sampah.







Overall, Taman Bunga Nusantara adalah lokasi wisata yang menyenangkan, murah meriah, dan mendidik. Kita bisa membawa siapa saja ke sini. Tips dari saya, jika hendak mengunjungi TBN, bawa topi dan tas yang bisa digendong karena tangan kita pasti repot dengan kamera ^_^ Jangan lupa minum untuk menghindarkan dehidrasi.

Senin, 02 April 2012

Aku Cinta Olahraga!


Semua orang pasti sudah pernah mendengar manfaat berolahraga. Bagi sebagian orang, olahraga adalah inti kehidupannya. Bagi sebagian yang lain, berolahraga merupakan gaya hidup sehat yang wajib dilakukan setiap hari. Sebagian yang lain berpendapat bahwa olahraga adalah hobi – jadi dilakukan jika ada waktu senggang saja. Namun saya juga mengenal beberapa orang yang menganggap berolahraga adalah penderitaan.

Saya adalah tipe orang yang “lengket” dengan olahraga. Saya berolahraga bukan sekedar untuk menurunkan berat badan setelah hamil dan melahirkan, tapi untuk mengembalikan stamina seperti masih remaja dulu. Selain itu, berolahraga juga membuat percernaan saya lebih lancar, tidur nyenyak, merasa bersemangat sepanjang hari. Terlebih, saya ingin menularkan semangat berolahraga pada anak saya yang berusia dua tahun. Menurut saya, olahraga adalah gaya hidup yang harus dibiasakan sejak kecil.

Saya selalu percaya bahwa kesehatan tubuh adalah aset yang sangat penting. Saya selalu berprinsip, apa artinya punya duit banyak tapi sakit-sakitan? Itulah sebabnya saya menyeimbangkan pola hidup antara bekerja dan menerapkan gaya hidup sehat, salah satunya dengan berolahraga. Dengan sehat, kita bisa menikmati hidup dengan cara yang positif.

Salah seorang teman yang malas berolahraga dan suka makan enak, bertanya pada saya bagaimana cara menurunkan berat badan. Saya juga bukan tipe orang yang bisa menahan lapar, saya mencintai makanan sebesar saya mencintai olahraga. Saya bilang, satu-satunya cara adalah dengan belajar menyukai olahraga. Bagaimana caranya?

  1. Buang jauh-jauh pikiran bahwa olahraga adalah sumber penderitaan. Ganti dengan pemikiran bahwa olahraga sangat menyenangkan. Cari olahraga permainan seperti basket, badminton, atau futsal. Kelemahan olahraga permainan adalah kita tidak bisa melakukannya sendiri. Di satu sisi, kita lebih bersemangat jika ada teman yang menemani; di sisi lain, kalau teman sedang malas, kita juga jadi terbawa malas. Untuk mengatasinya, carilah komunitas atau teman-teman yang menyukai olahraga atau mempunyai komitmen untuk menjalankan hidup sehat.
  2. Kalau ingin berolahraga sendiri, misalnya fitness, cobalah sambil mendengarkan lagu atau nonton film. Saya juga sering berjalan di atas treadmill sambil bbm-an. Tidak usah berlari terlalu cepat, yang penting stabil. Setengah sampai satu jam cukup untuk membuat badan kita berkeringat.
  3. Krisis kepercayaan diri membuat sebagian orang enggan mendatangi pusat-pusat kebugaran. Mereka malu jika berolahraga bersama orang yang bentuk badannya jauh lebih baik dibandingkan kita. Berpikirlah bahwa setiap orang di pusat kebugaran umumnya memikirkan latihan/aktivitas diri sendiri, jadi mereka tidak terlalu mempedulikan lingkungan sekitarnya. Jangan biarkan orang-orang itu membuat kita enggan untuk berolahraga.
  4. Masih berkaitan dengan poin ketiga, jika memang kita merasa sangat malu karena tubuh kita yang kelewat bengkak atau kelewat kurus, gunakanlah jaket. Ingat, pilih jaket khusus olahraga. Kalau ingin berenang tanpa perlu memperlihatkan gumpalan lemak di seluruh tubuh, pilih baju renang yang agak tertutup. Cari di toko-toko pakaian renang, pasti ada. Percayalah bahwa dengan rajin datang ke pusat kebugaran, niscaya bentuk badan kita akan membaik dan semakin enak dilihat.
  5. Jika anda punya budget lebih, carilah trainer atau pelatih. Saya sendiri belum pernah mempunyai trainer pribadi, tapi beberapa teman mengatakan bahwa dengan mempunyai trainer, kita akan menjadi lebih terarah dan disiplin sehingga tidak salah langkah dalam melakukan latihan kita.
  6. Hindari kebiasaan nonton TV/DVD sambil nyemil. Ganti aktivitas nyemil dengan mengayuh sepeda elliptical. Ada banyak peralatan olahraga yang dijual dengan harga murah (sekitar 500 ribu – 5 juta rupiah ) yang bisa kita gunakan sambil nonton. Barbel seberat satu sampai lima kilo perpasang bisa dibeli dengan harga di bawah 200 ribu rupiah. Jika kita bisa menabung untuk membeli gadget seperti iPod atau Blackberry, masa kita tidak bisa membeli alat-alat olahraga dengan harga yang kurang lebih sama?
  7. Hadiahi diri sendiri dengan busana olahraga yang bagus. Saya membeli baju renang yang bermerk, bagus dan lumayan bikin dompet kering, tapi membuat saya semakin rajin berenang. Pakaian olahraga yang nyaman dan stylish pun bisa kita dapatkan di berbagai toko pakaian dengan harga yang bervariasi. Ada beberapa orang yang bisa meningkatkan mood dengan berpenampilan gaya. Percayalah, banyak orang yang kelihatan tampan/cantik dengan gaya sporty.
  8. Jangan lupa minum air putih dan makan yang sehat. Saat diet, kita cenderung mengurangi asupan makanan sehingga tubuh terasa lelah dan malas bergerak. Lebih baik kita makan secara normal, dan bergerak lebih aktif. Jangan lupa, sarapan sesehat dan selengkap mungkin!
  9. Gunakan sepatu olahraga yang tepat. Jika menggunakan alas kaki yang tidak pas dengan aktivitas dan ukuran kita, kita akan merasa tidak nyaman ketika berolahraga. Selain itu, resiko cedera menjadi semakin besar.
  10. Terakhir, hindarilah gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok, minum minuman alkohol, dan begadang –  apalagi ngedrugs. Hal-hal seperti itu membuat nafas kita pendek dan mudah lelah.

Minggu, 18 Maret 2012

PLAY-DOH TIME!!!


Akhir-akhir ini saya sedang kegandrungan bermain PLAY-DOH. Waktu saya masih kecil dulu, saya mengenalnya dengan sebutan lilin malam atau kemudian disebut clay. Permainan ini merupakan permainan membentuk/mencetak dengan menggunakan adonan yang berwarna-warni.

Awal Maret ini Nana sudah resmi berusia dua tahun sehingga saya memberanikan diri untuk memberinya Play-Doh. Mainan yang satu ini bukan cuma asyik dilakukan oleh Nana, tapi juga oleh pengasuhnya (termasuk saya dan suami). Selain mudah digunakan dan menyanangkan, Play-Doh juga aman karena terbuat dari bahan makanan, edukatif, serta mendorong kreativitas.

Saya selalu berusaha untuk tidak mengkritik apapun yang Nana buat. Misalnya ketika dia mencetak PlayDoh berbentuk bawang dengan warna biru – sebenarnya saya ingin mengajarkan Nana bahwa tidak ada bawang yang berwarna biru. Walaupun demikian saya berusaha untuk fokus pada usahanya untuk mencetak dan menyebutkan bentuk-bentuk yang bisa dia buat. Hasilnya luar biasa; selain perbendaharaan kata Nana semakin banyak, dia juga sudah mahir mengkombinasikan kata dengan baik, misalnya dengan berkata : “Ini bawang biru!”


Ngomong-ngomong, tahukah Anda kalau ternyata, pada awalnya Play-Doh diciptakan sebagai pembersih wallpaper? Namun  karena bentuk dan bahannya mirip adonan clay biasa, ditambah punya kelebihan tidak beracun dan mudah dibersihkan, pencipta Play-Doh yaitu Joe McVicker menyulapnya menjadi permainan anak yang hebat. Setelah memproduksi Play-Doh, Joe McVicker menjadi miliuner sebelum usianya yang ke-27. Wow!