Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Little Swimmer

Saat berenang bersama Nana, beberapa pengunjung lain sering bertanya pada saya, bagaimana caranya mengajarkan anak seusia Nana bermain di kolam renang. Mereka berpendapat, Nana cukup berani untuk anak seusianya. Tapi sebenarnya, Nana sama seperti anak lain. Dia juga pernah ketakutan saat kakinya tidak menginjak dasar kolam atau khawatir ketika wajahnya "tenggelam". Lalu bagaimanakah caranya supaya anak tidak trauma dan mau mencoba lagi bermain air di kolam renang?


Sebelum memulai tips, saya ingin meyakinkan siapapun bahwa berenang adalah aktivitas yang positif bagi siapapun, termasuk bayi dan batita. Saat berenang, berat badan kita ditopang oleh air sehingga tidak membebani lutut. Itulah sebabnya, bayi yang belum bisa berjalan sekalipun boleh diajak berenang karena tidak ada tekanan pada tulang dan sendi kakinya. Apabila anak sudah terbiasa berenang sejak dini, dia akan terbiasa melakukan olahraga air ini sampai dewasa. Olahraga berenang baik untuk menjaga kesehatan sendi-sendi, jantung, serta melatih pernafasan. Selain itu, berenang adalah olahraga yang bisa dilakukan sampai tua.

Tips pertama yang bisa saya sarankan adalah membiasakan anak berada di air sejak lahir. Mandi dengan menggunakan jolang atau ember adalah salah satunya. Ketika anak sudah bisa duduk, biarkan dia bermain di jolang mandinya sendiri. Jangan terlalu "mengkhawatirkan"nya, biarkan dia bereksperimen dengan air, botol, dan gelas plastik.

Kedua, jika pertama kali diajak ke kolam renang, bawalah ke kolam yang airnya hangat. Ini mencegah anak terkejut karena dinginnya air. Selain itu, jangan bawa anak berenang di kolam yang itu-itu saja. Ajak dari satu kolam ke kolam lain, termasuk yang airnya dingin.

Ketiga, setelah badan anak cukup besar, belikan pelampung. Setelah itu, cobalah untuk melepasnya perlahan-lahan. Apabila anak tidak keberatan, jangan segan-segan membiarkannya berenang sendiri. Perlu diperhatikan - keseimbangan anak umumnya belum sempurna sehingga kalau berenang sering miring. Awasi jangan sampai air masuk ke telinganya, karena dia bisa merasa cemas sekali. Cukup dengan memegang ujung jarinya dan membiarkan kakinya bebas, anak bisa menikmati pengalaman pertama berenangnya dengan gembira.

Keempat, bawalah mainan favoritnya (yang tahan air, tentu saja) ke dalam kolam. Dulu Nana senang sekali bola berwarna hijau, dan dengan membawa mainan itu ke air, dia lebih semangat bermain.


Kelima, jika anak sudah cukup dewasa, ajak dia membeli baju renang. Biarkan anak memilih sendiri. Jangan omeli anak jika membeli baju renang yang modelnya aneh, atau warnanya kurang pas dengan kulitnya. Biarkan dia memilih sesuai keinginannya. Yang penting, ukurannya cocok.

 

Tips keenam, yang juga paling penting, adalah mengajak anak melihat orangtua atau saudaranya berenang. Prinsipnya, anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Jika orangtuanya rutin berenang, niscaya anak pun akan beranggapan bahwa berenang adalah sesuatu yang biasa. Pencapaian terbaiknya adalah ketika anak tertarik ingin mencemplungkan tangan atau kakinya bilamana melihat orangtua atau saudaranya sedang berenang. Tapi jika anak masih menangis dan memanggil orangtua atau saudaranya yang sedang berenang, itu artinya anak masih merasa kolam air adalah sesuatu yang menakutkan.



Tips terakhir, berikan reward kecil apabila anak mau berenang. Misalnya, izinkan dia makan sosis goreng kesukaannya atau jus favorit setelah berenang. Jangan lupa, tutupi badannya dengan handuk supaya tidak kedinginan. Ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman dan menyenangkan setelah berenang.

Senin, 29 Oktober 2012

Pindah Rumah

Hari ini adalah malam terakhir saya dan keluarga tinggal di rumah lama. Sejak beberapa hari yang lalu, kami sudah sibuk berbenah, tapi sampai hari terakhir pun ternyata masih belum sepenuhnya selesai. Ternyata pindahan itu sangat merepotkan dan melelahkan ya? Sampai-sampai saya datang bulan sepuluh hari lebih cepat daripada jadwal karena kecapaian naik-turun.

Ada tiga kesan yang muncul ketika membereskan seisi rumah sebelum kami menyerahkan kunci pada pemilik baru rumah kecil kami. Pertama, adalah betapa banyaknya barang yang kami simpan padahal jarang atau bahkan tidak pernah kami gunakan. Hal ini membuat saya belajar bahwa ternyata sifat konsumerisme saya dan suami memang cukup parah. Kami membeli banyak barang hanya karena lucu, bagus, sepertinya akan berguna, unik, atau murah... padahal kami tidak terlalu membutuhkannya. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk ke depannya. Kami perlu lebih selektif dalam membeli barang-barang.

Kesan kedua, adalah excited - karena kami akan menempati rumah baru ( meskipun saat blog ini ditulis, rumah baru kami belum selesai renovasi ). Walaupun demikian, saat membereskan furniture dan peralatan elektronik, otak saya penuh dengan khayalan... di rumah baru nanti, dalam ruang manakah kami akan meletakkan barang-barang ini?

Kesan ketiga, adalah hal yang menurut kami pasti dirasakan oleh kebanyakan orang yang pernah pindah rumah, adalah rasa terharu. Meskipun rumah lama ini kecil dan sederhana, tapi di sinilah saya dan suami membangun keluarga pertama kali. Di sini kami membesarkan putri kami sampai berusia dua setengah tahun. Di sini kami bermain petak umpet dari sore sampai malam sampai Nana harus mandi dua kali. Di sini juga kami memelihara sembilan belas ekor ikan koi (satu di antaranya mati karena melompat keluar) serta empat ekor kura-kura brazil yang sekarang ukurannya lebih besar daripada telapak tangan saya. Di sini juga kami membuat kebun mini bunga bakung yang setiap tiga bulan sekali berbunga begitu indah. Kebetulan, saat ini pun bunga bakung mini kami sedang berkembang dengan indahnya. Ada begitu banyak kenangan di setiap sudut rumah ini sehingga terasa berat meninggalkannya. Bahkan si kecil Nana pun merasa gelisah dengan kepindahan ini. Dia bahkan pernah meminta papanya untuk membeli kembali rumah ini. Kami harus menjelaskan panjang lebar bahwa rumah ini harus kita tinggalkan karena kita akan pindah ke rumah baru yang lebih dekat dengan sekolah dan tempat kerja papanya.

Walaupun demikian, life must go on. Saya berdoa supaya kami betah di rumah baru, sebagaimana kami betah di rumah lama yang kecil ini. Saya yakin bukan soal "rumah"nya yang membuat kami bahagia, tapi bagaimana kami hidup bersama-sama di bawah satu atap. Saya juga berdoa semoga keluarga yang menempati rumah lama kami pun akan betah dan merasakan kegembiraan yang selama ini kami rasakan.

I will never forget you
every inch of you
everything about you
You are a beautiful part
in my life
Where miracles happened
Where I understand
how great God has done
in our life
I will never forget you
Goodbye

Jumat, 14 September 2012

Nana Goes To Lombok

Awal September 2012, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mengabulkan permintaan Nana yang dipendam sejak beberapa bulan sebelumnya: naik pesawat! Selama 2,5 tahun hidupnya, Nana selalu senang melihat pesawat melintas di angkasa. Rumah kami memang berdekatan dengan gunung di mana terdapat dengan radar pesawat, sehingga banyak pesawat melintas sepanjang hari. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih terbang ke Lombok. Saya juga mengajak mama saya ikut ke Lombok; kebetulan beliau sudah cukup lama tidak berlibur, sehingga langsung setuju begitu diajak.

Pukul setengah delapan pagi, saya dan keluarga sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Nana bersikap sangat sabar selama menunggu di ruang tunggu. Saya sudah menyiapkan mainan untuknya, yaitu seperangkat sticker dan buku menempel. Selama di pesawat, Nana bersikap sangat sabar. Dia mau duduk sendiri, menggunakan seat belt, dan menghabiskan dua jam perjalanan dengan tidur lelap. Begitu landing, dia langsung terbangun.Yaay, Nana tiba di Lombok!


Di Lombok, kami menginap di Hotel Santosa yang terletak di Senggigi. Hotelnya bagus sekali: luas, asri, nyaman, dan semua staffnya ramah. Bukan itu saja, mereka memberikan potongan harga dari harga yang mereka publish lewat internet; dari 1,2 juta per malam per kamar, menjadi 900 ribu saja. Terima kasih Santosa! Mereka juga menawarkan seorang guide yang bisa kami bayar per hari untuk mengantarkan ke berbagai tempat yang kami suka. Namanya Bapak Kesul, orang suku Sasak, penduduk asli Lombok. Dia orang yang ramah, asyik diajak ngobrol, berpengetahuan luas, dan akrab dengan Nana!


Sentosa menghiasi kamar dengan bunga.
Begitu tiba, Nana mengumpulkan bunga-bunga itu dan bercentil ria.




Tapi hari pertama kami tidak kemana-mana karena Nana sudah nampak cukup lelah dengan perjalanan. Jadi kami menghabiskan hari pertama dengan bermalas-malasan di hotel: menikmati kolam renang yang luas, bermain water tube, dan jajan snack! Karena Hotel Sentosa terletak di tepi pantai, kami mengajak Nana bermain pasir sambil menikmati sunset.





Hari kedua, kami pergi ke tiga pulau Gili: yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Meskipun Gili Trawangan adalah salah satu icon wisata Lombok yang beken sampai ke luar negeri, tapi saya tidak terlalu lama menghabiskan waktu di sini. Pasalnya, tempat ini penuh dengan orang! Banyak wisatawan asing yang berlibur di sini. Kami hanya berkeliling dengan menggunakan delman yang disebut cidomo, setelah itu berangkat ke pulau lain: yaitu Gili Air. Nana paling senang naik perahu, dia bahagia sekali ketika wajahnya kena cipratan air laut. Tukang perahu sampai tersenyum geli melihat Nana yang berteriak kegirangan ketika perahu "melompat-lompat" di atas ombak. Dia selalu berkata, "Lagi! Lagi!"


Pemandangan Gili Trawangan ketika naik cidomo
Snorkeling di Pulau Gili memang menyenangkan! Banyak ikan laut yang bisa diberi makan roti. Mereka mendekati kita dan makan roti dari tangan kita. Sayangnya saya tidak punya kamera bawah air sehingga tidak bisa mengabadikan lucunya ikan-ikan tersebut. Nana menonton dari perahu, sambil sesekali melemparkan roti.

Gili Meno dilihat dari perahu

Selama bepergian ke kepulauan Gili, saya tidak terlalu banyak mengambil foto karena lupa -_-; Yah, mau bagaimana lagi? Tempat ini memang bikin lupa segalanya! Rasanya kepingin bermain sampai malam. Sepulang dari Gili, kami kembali ke hotel. Sebelumnya, kami mampir dulu dulu di Pura Batu Bolong. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi bagus. Saya selalu senang mengunjungi bangunan yang terbuat dari batu. Kesannya, kuno tapi megah!



Hari ketiga, kami harus pulang -_-; sedih rasanya karena tiga hari memang sangat kurang untuk berkeliling Lombok. Tapi Pak Kesul, sang guide, mengajak kami mengunjungi Tanjung Aan dan Pantai Kute terlebih dahulu. Dia bilang tempat ini indah. Wah, jadi penasaran dong! Ternyata ucapan Pak Kesul 100% benar! Tidak perlu berbacot ria, cukup foto-foto ini yang menceritakan keindahannya!






 


Itulah laporan perjalanan Nana ke Lombok. Menyenangkan bukan? Lombok adalah tempat yang menyenangkan untuk anak berusia 2,5 tahun, lingkungannya bersih, dan anak-anak bisa bergembira di pantai yang indah! Saya pasti kembali lagi ke sini bersama Nana! Yaay!

Selasa, 21 Agustus 2012

Liburan Lebaran : Reina & Ikan & Burung!

Sehari sebelum lebaran, saya bersama suami dan Reina, memutuskan untuk pergi liburan ke Jakarta. Kami berasumsi Jakarta jauh lebih sepi dari biasanya karena sebagian besar pemudik sudah keluar kota. Meskipun tidak hafal jalanan di Jakarta, cukup dengan mengandalkan GPS, kami melaju ke Ancol, dengan tujuan Sea World Indonesia.

Sesuai dugaan, jalan menuju Jakarta sangat sepi. Perjalanan dari Bandung ke Ancol kami tempuh dalam waktu kurang dari 2 jam saja. Pemandangan lengang kota Jakarta terasa asing di mata saya, seolah-olah kota paling modern se-Indonesia ini sedang "tidur". Udara panas membuat kepala agak pening, tapi kesan yang ditimbulkan dari hutan beton ini tetap dingin dan kaku. Walaupun demikian, saya dan keluarga tetap bersemangat karena ingin mengajak Nana melihat akuarium terbesar di Indonesia.

Setiba di Sea World Ancol, Nana langsung menuju akuarium Arapaima, ikan air tawar terbesar di dunia dari Sungai Amazon. Nana langsung berseru, "Besaaaaaar banget!" Sesuai dugaan saya, Nana sangat senang melihat dunia air dengan ratusan jenis ikan. Namun Nana paling senang melihat ikan favorit yang namanya selalu disebut sepanjang perjalanan: Ikan Hiu! Nana juga sangat senang bermain di touch pool, di mana dia bisa menyentuh beberapa hewan laut seperti penyu hijau, ikan hiu kecil (entah jenisnya apa), dan bintang laut.

berfoto di touch pool

Seaworld menyediakan berbagai spot foto yang menarik, salah satunya adalah patung gurita

ikan favorit Nana

spot foto yang lain: lukisan terumbu karang yang "glow in the dark"

Puas melihat-lihat ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya, kami makan siang dan segera melanjutkan perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah. Menurut mama, saya pernah ke sini waktu kecil... tapi tidak ingat tuh! Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi TMII sekedar merefresh ingatan saya. Ternyata... TMII sangat luas! Tidak mungkin mengelilinginya hanya dalam waktu beberapa jam saja. Oleh karena itu, kami harus memilih pergi ke Taman Burung.

Di sini, berbagai jenis burung dibiarkan terbang bebas, berkeliaran di mana-mana. Kita bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung tersebut, tapi tetap harus berhati-hati! Kita juga bisa berfoto dengan berbagai jenis burung yang jinak, dibantu oleh pawangnya. Cukup dengan membayar lima ribu rupiah, kita bisa bergaya dengan berbagai burung yang cantik. Wow!

Nana, Papih, dan Elang yang gagah

Nana, Mamih, dan burung kakak tua yang cantik! Burung ini adalah icon pensil warna Faber Castle

Meskipun bukan Blue Macau, Nana memanggil burung ini "RIO"

Sejenis kakak tua, dengan jambul berdiri seperti Rocker! Yeah!

Setelah jam menunjukkan pukul empat sore, kami memutuskan untuk pulang. Masih banyak spot di TMII yang belum kami kunjungi, jadi kami berencana akan kembali jika ada waktu. Sungguh menyenangkan mengajak balita berwisata ke tempat-tempat di mana dia bisa berinterkasi dengan binatang. Selain untuk mengajarkan rasa sayang hewan dan kekaguman pada Tuhan yang menciptakannya, dia juga belajar tentang kekayaan alam semesta ini. Semoga di kemudian hari Nana serta generasinya akan selalu ingat untuk mencintai lingkungannya agar hewan-hewan cantik ini tidak punah!

Minggu, 12 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan

Apa yang pertama kali muncul di benak kita ketika mendengar kata Hari Kemerdekaan? Pada masa kini, ketika rakyat berpikir jauh lebih kritis daripada dua atau tiga puluh tahun yang lalu, Hari Kemerdekaan Indonesia seolah hanya menjadi simbol ironi saja. Banyak literatur yang menyebut bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka; rakyat Indonesia masih terjajah oleh kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, pembodohan, dll.

Tapi.... bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Saya ingin membahas soal memperkenalkan Hari Kemerdekaan pada anak-anak. Sebagai seorang ibu, saya tidak menganggap hari kemerdekaan hanya sebagai sekedar hari libur saja. Anak saya harus tahu dan mengerti bahwa tanggal 17 Agustus tetaplah hari keramat yang harus kita ingat, hargai, dan maknai. Mengapa? Alasan saya sederhana: untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sedari dini.

Menurut saya, anak-anak (juga orangtuanya) zaman sekarang kurang mencintai tanah air mereka sendiri. Misalnya, mereka lebih suka berlibur ke luar negeri daripada keliling negeri sendiri. Atau mengganggap ekstrakulikuler angklung tidak bergengsi jika dibandingkan modern dance atau berenang. Film anak-anak  seperti Garuda di Dadaku, Rumah Tanpa Jendela, dan Denias dianggap film kelas dua. Anak-anak lebih suka menonton Spiderman dibanding film-film anak buatan bangsa sendiri. Lebih ekstrim lagi, orangtua memilih menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, sehingga anak-anak mereka berbicara seperti Cinta Laura! Wow! (Kalau begitu, kenapa nggak sekalian pindah saja ke Inggris atau USA?)

Berangkat dari pemikiran itulah, saya merasa perlu menumbuhkan rasa cinta tanah air - minimal pada anak saya sendiri. Moment hari kemerdekaan saya gunakan untuk memperkenalkan apa itu "Indonesia". Menjelang awal Agustus, saya mencoba memperkenalkan lagu Indonesia Raya pada Nana. Di usianya yang 2,5 tahun, Nana sudah bisa mengingat lagu dan liriknya meskipun belum sempurna. Selain itu, saya juga membeli beberapa bendera kecil dari penjaja di perempatan jalan, lalu memasangnya di jendela mobil dan meja makan. Dalam perjalanan ke sekolah, saya menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Bendera Merah-Putih dan Tanah Air Beta, dan lain-lain. Tidak lupa, membeli sepasang baju baru bernuansa merah dan putih - Nana menyebutnya "baju bendera".

Di rumah, saya mengajak Nana melakukan simulasi upacara bendera bersama boneka-bonekanya. Saat itu Nana belum tahu apa itu upacara bendera. Saya mengajarkan dengan bahasa sederhana: upacara itu artinya kita harus baris dengan rapi dan mengikuti petunjuk pemimpin. Kalau pemimpin menyuruh hormat, maka kita harus hormat. Kalau pemimpin menyuruh menyanyi, maka kita harus menyanyi. Kalau pemimpin membaca Pancasila, maka kita harus mengikuti.



Hasilnya terlihat hari ini, ketika Nana mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan di Sekolah Minggu. Ketika anak-anak sebayanya lari-lari ke sana kemari, Nana berdiri tegak memandang bendera sambil memberikan hormat. Dia juga mencoba mengikuti ucapan Pembina Upacara ketika membacakan Pancasila. Konyolnya, saat menyanyikan lagu 17 Agustus, Nana menyanyi sambil joget! Jadi bahan tertawaan deh... tapi Nana masih kecil, jadi semakin ditertawakan, malah semakin semangatlah dia. Overall, sungguh terharu rasanya melihat Nana mengikuti upacara bendera pertamanya.

Program lain yang saya lakukan secara rutin dalam memperkenalkan rasa cinta tanah air pada Nana adalah dengan mengajaknya mendoakan Indonesia. Cukup dengan doa yang simpel, misalnya: "Tuhan, tolong berkati Indonesia agar selalu damai dan sejahtera. Amin". Meskipun terdengar klise, tapi saya yakin Tuhan mendengarkan doa anak-anak.

Sedangkan program terakhir untuk memperkenalkan Indonesia dan hari kemerdekaan adalah dengan membeli kue berwarna merah putih, lengkap dengan lilin 67. Saya bermaksud mengajak Nana meniup lilin dan makan kue saat 17 Agustus nanti. Simpelnya, saya mengajarkan bahwa setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia berulang tahun - sama seperti Nana, mama, dan papa. Jadi kami akan tiup lilin dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun! Saya rasa cara ini akan cukup efektif dan menyenangkan, mengingat umumnya anak-anak bersemangat dengan ritual tiup lilin dan potong kue!

Happy Birthday, Indonesia! God bless Indonesia always!

Jumat, 27 Juli 2012

Ketika Kanker Mengintai...

Dalam dua pekan ini, pikiran saya banyak tersita oleh masalah yang sedang menimpa kakak ipar suami, kami memanggilnya Cihe.

Semua berawal pada bulan Mei tahun ini, ketika Cihe dinyatakan hamil dua minggu. Cihe dan suaminya memang telah berencana ingin mempunyai anak kedua, sehingga berita kehamilan ini tentu membawa sukacita. Sayangnya, kehamilan Cihe tidak berjalan mulus karena janin yang dikandungnya tidak berkembang dengan baik. Bukan itu saja, akhirnya Cihe pun keguguran. Cihe pun kembali ke dokter untuk memeriksakan diri apakah rahimnya sudah bersih atau belum.

Hasil USG yang menunjukkan ada serpihan dalam rahim

Bulan lalu, rahim Cihe dinyatakan sudah bersih. Tapi untuk memersiapkan kehamilan lagi, Cihe perlu berkonsultasi pada dokter kandungan karena dia baru keguguran. Dari sini, masalah muncul. Mendadak, di dalam rahim Cihe muncul "gumpalan" seukuran telur. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata gumpalan itu telah pecah menjadi serpihan yang berserakan di seluruh dinding rahim. Cihe pun mengalami pendarahan hebat. Ternyata, Cihe mempunyai kanker ganas di rahimnya. Dokter kandungannya pun angkat tangan. Dia mereferensikan Cihe pada seorang spesialis penyakit kandungan, namun beliau sedang pergi liburan sampai awal Agustus nanti.

Melalui serangkaian pertimbangan, akhirnya Cihe pergi ke dokter spesialis lain. Dokter tersebut berusaha untuk meminimalisir perkembangan kanker dengan suntikan obat. Rencananya, setelah lima kali, Cihe perlu dikemoterapi. Namun baru setengah jalan, Cihe sudah pendarahan lagi. Akhirnya dokter memutuskan untuk segera mengangkat rahim Cihe karena perkembangan kankernya begitu cepat. Sekarang Cihe masih terbaring di rumah sakit, menjalani beberapa kali perawatan kemoterapi untuk memastikan kankernya tidak menyebar ke organ lain.

Setiap malam, saya sekeluarga berdoa - mengharapkan mujizat Tuhan agar Cihe sembuh total. Ada kalanya saya bertanya-tanya, mengapa Cihe harus mengalami penyakit seganas itu. Tapi saya yakin Tuhan tidak buta. Dia mengizinkan Cihe memiliki kanker di rahimnya, namun pasti ada rencana besar yang indah di balik semua itu. Saya yakin Tuhan mengasihi Cihe sama seperti anak-anakNya yang lain.

Rahim yang baru diangkat, dengan kanker telah yang menyerang dinding-dindingnya

Kejadian ini membuat saya sadar, bahwa kanker rahim adalah resiko yang bisa dialami oleh perempuan manapun - termasuk saya. Saya teringat peribahasa Latin : "bona valetudo melior est quam maximae divitae, good health is worth more than the greatest wealth." Ya, kesehatan adalah aset paling berharga yang bisa kita miliki. Sehat dalam arti jasmani dan rohani, tentu saja. Oleh karena itu, saya berusaha menguatkan hati Cihe, agar meskipun tubuhnya sakit, tetapi hatinya tetap sehat - seperti kata Firman Tuhan dalam Amsal 17:22, "hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang". Ketika saya menengok Cihe kemarin, saya lihat meskipun masih agak pucat, tapi Cihe lebih bersemangat untuk menjalani pemulihan. Saya yakin, Cihe pasti bisa pulih lagi!

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak agar semua wanita lebih hati-hati akan bahaya kanker rahim. Silahkan googling untuk informasi mengenai gejala, penyebab, dan pencegahan kanker rahim. Marilah kita pelihara dengan baik organ tubuh yang Tuhan berikan hanya kepada kaum hawa ini. Pesan saya, apabila terjadi gejala yang mengarah pada kanker rahim, segera periksakan ke spesialis penyakit kandungan. Ingatlah bahwa kanker rahim bisa berkembang dalam hitungan hari dan bisa menyebabkan kematian. Kedua, marilah kita jalani pola hidup yang sehat. Kebanyakan penyakit berbahaya seperti kanker bisa dicegah dengan rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, menjauhi rokok/obat-obatan terlarang/seks yang tidak sehat, serta melakukan aktivitas relaksasi yang positif agar terhindar dari stress. Kebanyakan dari kita mengorbankan kesehatan demi pekerjaan atau uang - tapi apalah arti segunung uang kalau kita sakit-sakitan dan akhirnya mati juga? Ketiga, apabila kita memang berdiagnosis memiliki kanker rahim, ataupun penyakit apapun, jangan patah semangat atau menyerah begitu saja. Berdoa dan berusahalah, jangan sia-siakan hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita. Hidup dan mati kita memang berada di tangan Tuhan, tapi saat hidup maupun saat mati, tetaplah kita percaya dan setia kepada Tuhan.

God bless you, all!

Rabu, 18 Juli 2012

Sekolah di Preschool : First days!

Minggu kemarin, Reina ( 2 tahun 4 bulan ) mulai bersekolah di TK BPK Penabur 246 Bandung, di jenjang "toddler". Tantangannya cukup berat, karena selain sifat Nana yang takut pada situasi/orang baru, dia juga sedang tidak enak badan. Tapi saya tetap membawanya ke sekolah, sekedar untuk mengenalkan lingkungan kelas. Seperti dugaan, Nana menolak masuk kelas. Hari kedua juga sama, Nana nangis sejadi-jadinya. Tapi hari ketiga dan selanjutnya, Nana mulai menunjukkan progress yang positif. Dia tidak menangis lagi, bisa mengikuti instruksi miss (guru), dan bisa mengikuti aktivitas kelas. Syukurlah!


Hari-hari pertama sekolah, terutama di jenjang preschool, tentunya menjadi buah simalakama bagi orang tua. Di satu sisi, tentunya orangtua ingin anak-anaknya bisa mengembangkan kemampuannya di sekolah. Di sisi lain, orangtua juga tentunya merasa kasihan melihat anak-anak yang menangis karena merasa jauh dari orangtuanya. Saya juga merasakannya. Di sekolah, saya banyak mengobrol dengan orangtua yang lebih berpengalaman, dalam artian lebih dewasa dari saya dan lebih berpengalaman dalam menyekolahkan anak. Dari hasil obrolan itu, saya menyimpulkan beberapa hal :

1. Sebaiknya orangtua "merelakan" anak-anaknya di dalam kelas tanpa didampingi, terutama pada hari ketiga sekolah dan selanjutnya. Jika orangtua ragu-ragu (misalnya mengintip ruang kelas, ragu saat menyerahkan anak pada guru), maka anak akan menganggap bahwa guru adalah orang lain yang mencoba mengambil/merebut dirinya dari orangtuanya.

2. Berikan pengertian pada anak bahwa sekolah bukan berarti orangtuanya meninggalkannya, tapi sekolah menawarkan seribu satu aktivitas yang tidak ditemukan di rumah. Sebagai contoh, saya sering mengajak Nana mengobrol seperti ini: "Na, di sekolah asyik banget ya? Kalau di rumah 'kan Nana main sama Mbak Ayu doang, tapi kalau di sekolah ada Richel, ada Elston, ada Nada, ada Elvina, ada Jay, ada Edward, ada Miss Yenna, ada Miss Zanneta, dan ada Miss Camel. Banyak ya!" Jelaskan pada anak-anak bahwa di sekolah dia bisa bermain sambil belajar bersama guru yang baik dan pandai, serta bersenang-senang dengan teman-teman seusianya yang mungkin sulit ditemukan di lingkungan rumah. Cara memberikan pengertian bisa dengan mengobrol dengan bahasa yang sederhana. Ingat nama-nama guru dan teman sekelas anak, sebutkan nama-nama itu di rumah.

3. Jelaskan juga bahwa orangtua tidak bisa mendampingi anak-anak di sekolah, dengan alasan yang sederhana dan bisa diterima anak. Saat pertama meninggalkan Nana sekolah, suami saya berkata pada Nana : "Nana main di kelas sama Miss dan teman-teman ya, Papih dan Mamih tunggu di luar. Soalnya kelas 'kan buat anak-anak kecil, jadi Mamih dan Papih nggak boleh di sini." Awalnya Nana tidak terima, tapi pada hari keempat, Nana rela lepas dari gendongan papanya dan beringsut-ingsut ke kelas dengan ucapan itu.

4. Pujilah penampilan anak saat mengenakan perlengkapan sekolah. Saat anak-anak menggunakan seragam, membawa tas, memakai kaos kaki dan sepatu sekolah, pujilah mereka dengan ekspresi yang kagum. Katakan kalau mereka cantik atau tampan, gagah, dan keren. Kalau perlu, foto mereka dengan kamera HP dan segera tunjukkan foto mereka.

5. Sebaiknya orangtua bangun lebih pagi dan mempersiapkan segalanya lebih baik. Jangan terburu-buru karena anak akan merasa khawatir. Jaga mood anak pada pagi hari supaya dia tidak merasa bete dan keberatan masuk ke dalam kelas. Jika anak menolak sarapan, jangan dipaksa. Beri susu atau biskuit yang dia suka. Pola sarapan yang baik bisa diterapkan setelah dia terbiasa ke sekolah. Berusahalah untuk tidak marah pada ketika anak hendak ke sekolah meskipun dia rewel, sebaliknya sebaiknya tunjukkan bahwa orangtua juga bersemangat.

6. Tanyalah pada guru, kegiatan apa yang mereka lakukan di kelas. Setelah itu, ulangi di rumah. Tanya juga pada anak apa yang mereka kerjakan, dan tanyalah lagu apa yang tadi mereka nyanyikan. Bila mereka merespon pertanyaan kita, berilah pujian dan senyuman bangga. Katakan pada mereka betapa hebatnya mereka bisa melakukan hal-hal tersebut. Tanyalah apakah mereka menangis atau tidak, dan katakan betapa bangganya kita apabila anak tidak menangis.

Saya rasa itu adalah tips-tips dari para orangtua yang saya temui di sekolah, dan setelah saya coba, hasilnya cukup memuaskan. Masih banyak yang harus Nana lalui, tapi saya yakin dia pasti bisa. Ganbatte kudasai, Reina-chan!

Minggu, 17 Juni 2012

Father Day

Ketika sedang googling, tanpa sengaja saya menemukan foto ini. 


Ini adalah foto seorang narapidana di sebuah penjara Amerika Serikat yang dipertemukan dengan keluarganya pada perayaan Hari Ayah. Foto ini membuat saya sesaat termenung... ada seribu perasaan yang terlukis dalam wajah-wajah itu. Seorang narapidana yang identik dengan kekerasan dan kejahatan, ternyata bisa menunjukkan wajah selembut itu bersama keluarganya. Sangat menyentuh!

Sesaat saya jadi teringat pada papa saya sendiri. Beliau bukan narapidana (meskipun saya dengar beliau pernah ditahan polisi karena kasus kekerasan pada saat masih bujangan), tapi papa adalah orang yang tidak kalah keras dan galak dari narapidana sekalipun. Bahkan saya sendiri sering bertengkar atau setidaknya beradu argumen dengan papa. Tapi mau sekeras apapun, he's my father and I love him so much.

Papa adalah seorang pekerja keras, dia mendedikasikan dirinya pada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dia bahkan mengorbankan waktu dan kesehatannya demi pekerjaan. Tapi papa selalu memberikan waktu bagi saya dan keluarga. That's why I really look up to him. Meskipun tidak sempurna, gampang marah, sering salah paham, tapi papa selalu berusaha untuk mengerti anak-anaknya dan tidak ragu meminta maaf jika salah. Dia juga tidak pernah ragu untuk membela orang yang ditindas atau difitnah. Oleh karena itulah, meskipun temperamennya keras, tapi papa sangat disukai banyak orang!

These are my latest memory about my beloved daddy:

May 2008, saat saya engagement.

July 2008, saat saya graduation.

April 2009, saat saya menikah.

April 2009, saat pemberkatan. He was crying so hard.

March 2011, saat ulang tahun pertama putri saya, Reina.


Kamis, 07 Juni 2012

Finding New Home

Sudah sejak sebulan yang lalu, saya disibukkan dengan proses pembelian rumah dan pengajuan KPR ke bank OCBC NISP. Ini pertama kalinya saya membeli rumah dengan fasilitas KPR, dan ternyata lumayan melelahkan juga. Tapi nggak apa-apa deh, setidaknya jadi pengalaman berharga.

Alasan saya membeli rumah adalah karena sebentar lagi putri saya akan sekolah (toddler), dan rumah kami yang sekarang tidak ada sekolah Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah bekas di sekitar tempat usaha suami, dengan harga kisaran 350 sampai 400 juta. Kami mengajak mama hunting rumah, sebab kami pikir orangtua mempunyai pemikiran yang lebih matang daripada anak muda. Namun setelah seharian berkeliling, tidak ada satupun yang cocok. Hari sudah sore sehingga kami memutuskan untuk pulang.

Namun dalam perjalanan pulang, kami mampir di sebuah perumahaan baru yang tidak terlalu besar. Unit yang tersisa hanya tinggal dua, namun mama merasa cocok sekali dengan perumahaan itu. Suami juga suka rumah itu, begitu pula putri kami yang baru berusia 2 tahun. Dia langsung betah, berlari-lari gembira di rumah yang masih kotor. Sayangnya, developer tidak mau menerima "uang tanda jadi". Dia bilang, jika berminat, kami harus segera melunasi DP sebesar 20%. Memang sih, perumahan itu laku banget. Kami hanya diberi waktu dua hari untuk menyetorkan DP, itu pun terpotong hari Minggu.

Kami pulang dengan menyisakan perdebatan. Bagi orang seukuran saya, harga rumah itu terlalu tinggi, 700 juta.  20%-nya saja sudah 140juta. Padahal saya hanya menyediakan dana untuk DP sebesar 70-80 juta rupiah. Suami juga tidak mau memaksakan, dia khawatir DP yang terlalu besar akan mengganggu cash flow. Namun, mama merasa rumah itu lebih cocok untuk keluarga kami. Akhirnya mama bersedia menutupi sebagian uang DP dengan tabungan pribadinya. Orangtua suami juga bersedia menambahkan untuk PPN yang nilainya cukup besar. Beliau merasa antusias karena rumah yang akan kami beli lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mereka.

Alhasil, saya dan suami "gagal" membeli rumah dengan usaha kami sendiri karena lagi-lagi orangtua memberikan subsidi. Di satu sisi kami bersyukur karena mempunyai orangtua yang selalu menginginkan segala yang terbaik bagi anak dan cucunya, tapi di sisi lain saya merasa tidak kunjung "dewasa dan mandiri". Mungkin itu resikonya menikah di usia muda. Saya dan suami langsung mengatur strategi agar cicilan rumah bisa kami tangani sendiri - sebagai pembuktian pada diri sendiri bahwa kami bisa menyelesaikan apa yang kami mulai, tanpa perlu merepotkan orangtua lebih jauh lagi.

Ya, itulah pengalaman pertama kami mencari rumah baru. Saya harap semuanya lancar. Sampai sekarang kami masih mengurus proses KPR yang hanya tinggal menunggu akad kredit saja. Semangat!

Kamis, 24 Mei 2012

Friendship and Marriage

Setiap manusia pasti membutuhkan sahabat. Meskipun tidak semua orang pandai bersahabat, tapi saya yakin pada dasarnya manusia membutuhkan keberadaan sahabat. Sewaktu kita sekolah, seringkali keberadaan sahabat menjadi poin krusial yang menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak.

Setelah menikah, kedudukan sahabat dalam hidup kita bergeser akibat munculnya peran-peran baru (sekaligus tanggung jawab baru) yang mesti kita lakukan. Bagi saya semua itu adalah hal yang wajar, sebab sudah kodratnya bagi manusia untuk lebih memperhatikan keluarganya, apalagi jika pernikahan itu baru seumur jagung. Walaupun demikian, persahabatan tidak boleh dibiarkan mati karena terlindas pernikahan. Meskipun seseorang telah menikah, dia tetap membutuhkan komunitas di mana dia dapat bertumbuh menjadi makhluk sosial yang positif dan sehat.

Walaupun demikian, setelah beberapa tahun menikah, saya baru merasakan bahwa persahabatan dan pernikahan tidak selamanya meluncur mulus. Sebagai seorang istri yang bekerja dan ibu dari seorang anak batita, saya merasakan bagaimana sulitnya mencari kesempatan untuk hang out dengan teman-teman lama. Sebagian besar sahabat saya tinggal/bekerja di luar kota, beberapa di luar negeri, sehingga jarang sekali saya bisa bertemu mereka. Dalam setahun, paling hanya satu kali saja saya bisa bertatap muka dengan mereka. Satu-satunya sahabat dekat yang masih tinggal sekota adalah teman sejak SMP, seorang cowok dan masih bujangan. Namun sebagai seorang wanita yang sudah menikah, saya menemui segudang kendala untuk bersahabat dengan seorang pria berstatus jomblo.

Cross-sex friendship (CSF) atau persahabatan dengan lawan jenis ternyata tidak semudah itu diterima oleh masyarakat. Umumnya mereka mengaitkan CSF dengan keinginan untuk affair/perselingkuhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka beranggapan sepolos itu, terutama jika CSF itu berlangsung sejak lama atau sejak kecil. Saya pikir, jika memang saya tertarik pada sahabat saya itu, tentunya sudah sejak dulu pun saya sudah pacaran dengannya. Justru karena saya merasa nyaman bersahabat dengannya, maka persahabatan itu bisa kami jaga dari remaja sampai sekarang. Apakah argumentasi itu cukup bagi orang lain untuk tidak berprasangka negatif? Sayangnya, jawabannya adalah tidak cukup. Silahkan cek lewat search engine mengenai CSF, banyak pendapat yang menolak atau setidaknya membatasi. Rupanya, persahabatan antara seorang wanita menikah dengan pria jomblo tetap menuai kontroversi, bahkan di negara bebas sekalipun.

Jumat, 04 Mei 2012

Home Sweet Home

Sekarang saya sedang mencari rumah di pusat kota Bandung karena sebentar lagi Nana akan sekolah (toddler). Dari dulu sampai sekarang, saya tinggal di Padalarang dan sekolah ke Bandung - jadi untuk pergi sekolah memerlukan waktu hampir sejam; itu pun kalau tidak terlalu macet. Dulu saya mengalami bagaimana harus berangkat subuh supaya tidak terlambat. Ngantuk, terlewat sarapan, mengerjakan PR di kelas, belajar di mobil... semua itu saya rasakan hampir setiap hari. Saya tidak mau Nana mengalami hal yang sama dengan saya, sebab banyak waktu terbuang percuma. Daripada habis di jalan, lebih baik digunakan untuk istirahat yang di rumah.

Mencari rumah di pusat kota Bandung tidak semudah yang saya pikirkan. Terutama untuk saya, seorang yang lahir dan dibesarkan di daerah pinggiran. Dulu orangtua saya bukan orang kaya; mereka tidak punya uang untuk membeli rumah di kota, sehingga hanya bisa membeli rumah di kaki gunung. Tapi, kehidupan di sini sangat menyenangkan! Saya tumbuh dengan melihat pemandangan matahari terbit di balik gunung, sawah yang luas, dan lapangan berumput dengan jalan setapak yang dipenuhi kupu-kupu (dan ulat tentu saja). Rumah kami memiliki tanah belakang yang cukup luas untuk saya memelihara ikan, burung, kelinci, ayam, tupai, dll. Selain itu kami juga mempunyai kebun yang ditanami berbagai jenis pohon dan sayuran..

Sementara di Bandung, daerah seperti ini sangat sulit ditemukan. Rumah-rumah standar memiliki luas tanah hanya sekitar 90-120 meter persegi, harganya pun selangit (bandingkan dengan saya yang dibesarkan di rumah seluas 600 meter persegi). Saya jadi mengerti mengapa anak-anak zaman sekarang tidak biasa berinteraksi dengan alam - sebab banyak dari mereka yang bahkan tidak punya taman di rumah mereka sendiri. Anak-anak menghabiskan waktu dengan permainan yang mereka lakukan di dalam rumah. Akibatnya anak-anak kurang bergerak atau tidak cukup terkena paparan sinar matahari dan udara segar.

Saya rasa semakin hari, semakin sulit mencari tempat tinggal yang ideal di daerah perkotaan. Tuntutan pekerjaan orangtua, kebutuhan akan sekolah yang berkualitas, atau sekedar gengsi membuat masyarakat rela tinggal berdesak-desakan di kota. Sepertinya masa kecil yang saya alami semakin sulit dirasakan oleh anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Semoga saja suatu saat pemerintah membangun sebuah taman yang sangat besar di tengah kota, sehingga anak-anak kota pun masih memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan alam secara aktif. Jika tidak, yang ada bukan lagi home sweet home, tapi "home sempit home"!

Jumat, 23 Maret 2012

Goodbye Sus!

Terhitung kemarin siang, Suster (pengasuh) yang mengurus Nana sejak berusia sebulan, resmi meninggalkan rumah keluarga kami. Dua hari sebelumnya mendadak Suster berkata kalau dia akan pulang kampung dan tidak akan kembali lagi karena urusan keluarga. Keputusan dadakan ini membuat saya dan suami sempat kebingungan karena kami sudah mempunyai sejumlah rencana untuk beberapa minggu ke depan yang tidak mungkin terlaksana jika tidak ada Suster. Apalagi saya dan suami bekerja, ditambah lagi sekarang adalah bulan pelaporan pajak, tentu saja kami sangat sibuk. Tapi apa boleh buat, saya tidak punya hak untuk melarang Suster pulang sehingga dengan lapang dada kami merelakan rencana-rencana tersebut terbengkalai.

Aku mengajak Nana mengantarkan Suster pergi, dan nampak wajah Nana yang bingung saat melihat orang yang selalu menemaninya selama dua tahun ini pergi meninggalkannya. Nana tidak menangis, tapi ada kekecewaan yang terpancar di wajahnya. Saya berusaha merespon keheranan Nana secara positif; saya bilang pada Nana kalau Suster mempunyai adik bayi yang harus diurus, sementara Nana sudah besar sehingga tidak perlu ditemani Suster lagi. Nana menerima penjelasan saya sehingga tidak bertanya lagi mengapa Suster tidak ada di rumah.

Jika dilihat ke belakang, sebenarnya, kami tidak sepenuhnya cocok dengan Suster. Bagi kami yang hanya keluarga kecil dengan penghasilan cukup, dia terlalu mata duitan. Gajinya lebih tinggi daripada UMR, ditambah uang tiga bulanan, keperluan sehari-harinya, bahkan kalau dia sakit seperti batuk, obatnya tidak mau beli sendiri. Dia juga sudah cukup berumur sehingga agak keras kepala dan cenderung tidak mau menerima gagasan dari pasangan muda seperti saya dan suami. Dia juga kurang apik dalam menggunakan peralatan rumah tangga; mulai dari kompor, microwave, hingga rice cooker. Namun hal paling parah yang kadang membuat saya gregetan adalah sikap judesnya pada PRT ( pembantu rumah tangga ). Selama dua tahun tinggal bersama kami, sudah 6 kali kami berganti PRT dengan alasan tidak cocok atau bertengkar dengan Suster. Tetapi saya tetap mempertahankan Suster karena dia telaten dalam mengurus Nana. Dia sabar jika Nana sakit atau rewel, tidak menyerah jika Nana susah makan, juga tidak malas menjalankan rutinitas anak seperti ganti pampers, makan buah, vitamin, dan lain-lain. Itulah sebabnya saya tutup mata pada segala kekurangan Suster dan mempercayakan putri semata wayang kami padanya.

Kini setelah Suster pergi, saya menyadari bahwa meskipun sifatnya tidak sempurna, tapi Suster juga telah berjasa banyak pada keluarga kami. Di satu sisi saya berharap mendapatkan pengganti yang baik seperti Suster, di sisi lain saya juga berharap Suster bahagia dengan pekerjaannya sekarang.

Ketiadaan Suster membuat saya ekstra sibuk dengan pekerjaan kantor dan mengurus Nana. Sampai nanti saya mendapatkan pengganti Suster, kira-kira tanggal 10 April nanti, saya akan membawa Nana ke kantor (di satu sisi saya bersyukur karena bekerja di perusahaan orangtua, sebab saya tidak seleluasa ini jika bekerja di tempat lain). Saya selalu berusaha melihat segala sesuatu secara lebih positif. Setidaknya kalau saya capek karena banyak yang harus saya lakukan, program diet saya pun akan terbantu. Selain itu saya punya suami dan keluarga yang pengertian sehingga saya merasa tidak terlalu lelah. Prinsip saya yang "semua ada waktunya" membuat saya yakin kalau semua kesulitan yang saya jalani sekarang akan membuat saya lebih bijaksana, lebih dewasa, dan lebih tahan banting.

Minggu, 18 Maret 2012

PLAY-DOH TIME!!!


Akhir-akhir ini saya sedang kegandrungan bermain PLAY-DOH. Waktu saya masih kecil dulu, saya mengenalnya dengan sebutan lilin malam atau kemudian disebut clay. Permainan ini merupakan permainan membentuk/mencetak dengan menggunakan adonan yang berwarna-warni.

Awal Maret ini Nana sudah resmi berusia dua tahun sehingga saya memberanikan diri untuk memberinya Play-Doh. Mainan yang satu ini bukan cuma asyik dilakukan oleh Nana, tapi juga oleh pengasuhnya (termasuk saya dan suami). Selain mudah digunakan dan menyanangkan, Play-Doh juga aman karena terbuat dari bahan makanan, edukatif, serta mendorong kreativitas.

Saya selalu berusaha untuk tidak mengkritik apapun yang Nana buat. Misalnya ketika dia mencetak PlayDoh berbentuk bawang dengan warna biru – sebenarnya saya ingin mengajarkan Nana bahwa tidak ada bawang yang berwarna biru. Walaupun demikian saya berusaha untuk fokus pada usahanya untuk mencetak dan menyebutkan bentuk-bentuk yang bisa dia buat. Hasilnya luar biasa; selain perbendaharaan kata Nana semakin banyak, dia juga sudah mahir mengkombinasikan kata dengan baik, misalnya dengan berkata : “Ini bawang biru!”


Ngomong-ngomong, tahukah Anda kalau ternyata, pada awalnya Play-Doh diciptakan sebagai pembersih wallpaper? Namun  karena bentuk dan bahannya mirip adonan clay biasa, ditambah punya kelebihan tidak beracun dan mudah dibersihkan, pencipta Play-Doh yaitu Joe McVicker menyulapnya menjadi permainan anak yang hebat. Setelah memproduksi Play-Doh, Joe McVicker menjadi miliuner sebelum usianya yang ke-27. Wow!