Hari ini adalah malam terakhir saya dan keluarga tinggal di rumah lama. Sejak beberapa hari yang lalu, kami sudah sibuk berbenah, tapi sampai hari terakhir pun ternyata masih belum sepenuhnya selesai. Ternyata pindahan itu sangat merepotkan dan melelahkan ya? Sampai-sampai saya datang bulan sepuluh hari lebih cepat daripada jadwal karena kecapaian naik-turun.
Ada tiga kesan yang muncul ketika membereskan seisi rumah sebelum kami menyerahkan kunci pada pemilik baru rumah kecil kami. Pertama, adalah betapa banyaknya barang yang kami simpan padahal jarang atau bahkan tidak pernah kami gunakan. Hal ini membuat saya belajar bahwa ternyata sifat konsumerisme saya dan suami memang cukup parah. Kami membeli banyak barang hanya karena lucu, bagus, sepertinya akan berguna, unik, atau murah... padahal kami tidak terlalu membutuhkannya. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk ke depannya. Kami perlu lebih selektif dalam membeli barang-barang.
Kesan kedua, adalah excited - karena kami akan menempati rumah baru ( meskipun saat blog ini ditulis, rumah baru kami belum selesai renovasi ). Walaupun demikian, saat membereskan furniture dan peralatan elektronik, otak saya penuh dengan khayalan... di rumah baru nanti, dalam ruang manakah kami akan meletakkan barang-barang ini?
Kesan ketiga, adalah hal yang menurut kami pasti dirasakan oleh kebanyakan orang yang pernah pindah rumah, adalah rasa terharu. Meskipun rumah lama ini kecil dan sederhana, tapi di sinilah saya dan suami membangun keluarga pertama kali. Di sini kami membesarkan putri kami sampai berusia dua setengah tahun. Di sini kami bermain petak umpet dari sore sampai malam sampai Nana harus mandi dua kali. Di sini juga kami memelihara sembilan belas ekor ikan koi (satu di antaranya mati karena melompat keluar) serta empat ekor kura-kura brazil yang sekarang ukurannya lebih besar daripada telapak tangan saya. Di sini juga kami membuat kebun mini bunga bakung yang setiap tiga bulan sekali berbunga begitu indah. Kebetulan, saat ini pun bunga bakung mini kami sedang berkembang dengan indahnya. Ada begitu banyak kenangan di setiap sudut rumah ini sehingga terasa berat meninggalkannya. Bahkan si kecil Nana pun merasa gelisah dengan kepindahan ini. Dia bahkan pernah meminta papanya untuk membeli kembali rumah ini. Kami harus menjelaskan panjang lebar bahwa rumah ini harus kita tinggalkan karena kita akan pindah ke rumah baru yang lebih dekat dengan sekolah dan tempat kerja papanya.
Walaupun demikian, life must go on. Saya berdoa supaya kami betah di rumah baru, sebagaimana kami betah di rumah lama yang kecil ini. Saya yakin bukan soal "rumah"nya yang membuat kami bahagia, tapi bagaimana kami hidup bersama-sama di bawah satu atap. Saya juga berdoa semoga keluarga yang menempati rumah lama kami pun akan betah dan merasakan kegembiraan yang selama ini kami rasakan.
I will never forget you
every inch of you
everything about you
You are a beautiful part
in my life
Where miracles happened
Where I understand
how great God has done
in our life
I will never forget you
Goodbye
Tampilkan postingan dengan label House Things. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label House Things. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Oktober 2012
Kamis, 25 Oktober 2012
Kitchen Set: Perlu atau Tidak?
Berhubung rumah baru saya sudah mencapai tahap finishing, saya mulai sibuk dengan urusan design interior. Salah satu yang paling menyita perhatian (juga biaya) adalah interior bagian dapur atau kitchen set. Saya bukanlah seorang ahli - tapi sebagai pengguna, saya merasakan betapa pentingnya membuat kitchen set. Bahkan ketika membeli rumah, saya segera mengatur budget untuk kitchen set. Bagi saya pribadi, daripada membeli sofa cantik nan mahal untuk ruang tamu, lebih baik saya menggunakan uang tersebut untuk membuat kitchen set yang bagus.
Kenapa sih saya keukeuh (keras kepala) banget jika sudah berbicara soal mengenai kitchen set? Padahal saya bukan orang yang senang berlama-lama di dapur, bahkan memasak pun cuma bisa yang simpel-simpel saja. Alasan saya adalah :
1. Rumah zaman sekarang umumnya sempit dan bergaya minimalis. Dengan kata lain, area dapur cenderung lebih sempit dibandingkan rumah zaman dulu yang biasanya memisahkan dapur kotor dengan dapur bersih. Selain itu, lokasi dapur biasanya berbatasan langsung dengan ruang makan, bahkan ada yang berbatasan dengan ruang keluarga. Apabila kita asal memilih perabotan dan peralatan dapur, tentu tidak enak dipandang dan berkesan jorok.
2. Masih berkaitan dengan alasan pertama; dapur yang tidak tertata dengan baik tentu nampak lebih berantakan. Bagi keluarga yang masih mempunyai anak kecil, situasi ini bisa membahayakan. Kitchen set yang baik tentu bisa menampung berbagai peralatan ke dalam lemari-lemarinya sehingga tidak terlalu banyak yang terpajang di luar. Dengan demikian, resiko bisa diminimalisir.
3. Alasan ketiga adalah kebersihan. Kitchen set yang baik bisa menampung peralatan dapur di dalam lemari/rak yang tertutup sehingga tidak mudah terkena debu. Selain itu, hewan pengganggu seperti cicak dan tikus tidak mudah masuk ke dalam lemari sehingga tidak mengontaminasi peralatan makan atau memasak. Selain itu, dapur dengan kitchen set lebih mudah dibersihkan sehingga ibu-ibu yang bekerja tidak perlu membuang banyak waktu untuk membersihkan dapur.
Suami saya punya teori yang berbeda. Ketika baru menikah, saya dan suami mempunyai budget terbatas untuk rumah. Kami dihadapkan dua pilihan: rumah tipe 56, atau rumah tipe 45 yang selisihnya sekitar 20 juta. Kami memilih yang kedua. Selisih dananya kami gunakan untuk membuat kitchen set + dining set. Tapi setelah selesai dipasang, rumah kami yang sempit itu jadi terlihat manis. Dengan penempatan yang tepat, area dapur yang bersatu dengan ruang makan menjadi cantik, lega, rapi, bahkan muncul kesan mewah. Belakangan ketika rumah ini dijual, harganya pun lumayan bagus, sekitar 120% daripada nilai sebenarnya. Alasannya, karena interiornya bagus. Sang pembeli memang belum pernah punya kitchen set sebelumnya sehingga dia merasa tidak rugi membayar lebih untuk rumah yang sudah tertata rapi. Pembeli puas, kami pun senang ^_^ Jadi suami saya berpendapat, kitchen set yang bagus bisa meningkatkan nilai rumah itu.
Jadi saya berkesimpulan, kitchen set adalah sesuatu yang perlu - terutama bagi keluarga di perkotaan. Saya mengerti bahwa harga kitchen set memang tidak murah, apalagi yang kualitasnya bagus. Tapi kalau kita bisa menabung untuk motor atau mobil, saya rasa mestinya kitchen set pun bisa. Namun jangan terburu-buru untuk merancang kitchen set. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatian.
Pertama, jangan "lapar mata". Desain yang bagus belum tentu cocok dengan rumah kita atau kebutuhan kita. Sebaiknya pertimbangankan masak-masak. Saya lebih menyarankan interior designer daripada kita mendesain sendiri, kecuali kalau kita memang berprofesi sebagai desaigner. Pilih designer yang kompeten. Hati-hati terjebak dengan harga murah, jangan-jangan kualitasnya hancur lebur.
Kedua, apabila kita menempati rumah baru yang masih kosong, sebelum membeli peralatan dapur, lebih baik bekerja sama dengan designer untuk membicarakan peralatan yang kita butuhkan. Terutama untuk apartemen yang menerapkan beberapa peraturan (misalnya, beberapa apartemen melarang penggunaan kompor gas sehingga kompor listrik).
Ketiga, jangan segan-segan untuk mengutarakan kebutuhan dan kebiasaan kita sehari-hari. Tapi kita harus bisa membedakan mana keinginan atau kebutuhan. Kebutuhan tentu didahulukan daripada keinginan. Misalnya kita merasa kompor empat tungku terlihat keren dan mewah daripada kompor dua tungku biasa; tapi sebenarnya untuk makan pun kita mengandalkan catering. Tentunya ini menjadi permasalahan, apabila ruangan yang tersedia sempit.
Keempat, perawatan kitchen set sebisa mungkin tidak menyulitkan kita. Kitchen set dengan granit India yang putih nan halus memang terlihat sangat cantik, tapi perawatannya pun sulit karena granit putih akan terlihat kusam apabila terkena asam (air jeruk, cuka, dll). Oleh karena itu, pertimbangkan dulu kapabilitas kita. Bila tidak sanggup merawat, tapi ingin menggunakan granit, pilihlah warna yang lebih gelap.
Kenapa sih saya keukeuh (keras kepala) banget jika sudah berbicara soal mengenai kitchen set? Padahal saya bukan orang yang senang berlama-lama di dapur, bahkan memasak pun cuma bisa yang simpel-simpel saja. Alasan saya adalah :
1. Rumah zaman sekarang umumnya sempit dan bergaya minimalis. Dengan kata lain, area dapur cenderung lebih sempit dibandingkan rumah zaman dulu yang biasanya memisahkan dapur kotor dengan dapur bersih. Selain itu, lokasi dapur biasanya berbatasan langsung dengan ruang makan, bahkan ada yang berbatasan dengan ruang keluarga. Apabila kita asal memilih perabotan dan peralatan dapur, tentu tidak enak dipandang dan berkesan jorok.
2. Masih berkaitan dengan alasan pertama; dapur yang tidak tertata dengan baik tentu nampak lebih berantakan. Bagi keluarga yang masih mempunyai anak kecil, situasi ini bisa membahayakan. Kitchen set yang baik tentu bisa menampung berbagai peralatan ke dalam lemari-lemarinya sehingga tidak terlalu banyak yang terpajang di luar. Dengan demikian, resiko bisa diminimalisir.
3. Alasan ketiga adalah kebersihan. Kitchen set yang baik bisa menampung peralatan dapur di dalam lemari/rak yang tertutup sehingga tidak mudah terkena debu. Selain itu, hewan pengganggu seperti cicak dan tikus tidak mudah masuk ke dalam lemari sehingga tidak mengontaminasi peralatan makan atau memasak. Selain itu, dapur dengan kitchen set lebih mudah dibersihkan sehingga ibu-ibu yang bekerja tidak perlu membuang banyak waktu untuk membersihkan dapur.
Suami saya punya teori yang berbeda. Ketika baru menikah, saya dan suami mempunyai budget terbatas untuk rumah. Kami dihadapkan dua pilihan: rumah tipe 56, atau rumah tipe 45 yang selisihnya sekitar 20 juta. Kami memilih yang kedua. Selisih dananya kami gunakan untuk membuat kitchen set + dining set. Tapi setelah selesai dipasang, rumah kami yang sempit itu jadi terlihat manis. Dengan penempatan yang tepat, area dapur yang bersatu dengan ruang makan menjadi cantik, lega, rapi, bahkan muncul kesan mewah. Belakangan ketika rumah ini dijual, harganya pun lumayan bagus, sekitar 120% daripada nilai sebenarnya. Alasannya, karena interiornya bagus. Sang pembeli memang belum pernah punya kitchen set sebelumnya sehingga dia merasa tidak rugi membayar lebih untuk rumah yang sudah tertata rapi. Pembeli puas, kami pun senang ^_^ Jadi suami saya berpendapat, kitchen set yang bagus bisa meningkatkan nilai rumah itu.
Jadi saya berkesimpulan, kitchen set adalah sesuatu yang perlu - terutama bagi keluarga di perkotaan. Saya mengerti bahwa harga kitchen set memang tidak murah, apalagi yang kualitasnya bagus. Tapi kalau kita bisa menabung untuk motor atau mobil, saya rasa mestinya kitchen set pun bisa. Namun jangan terburu-buru untuk merancang kitchen set. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatian.
Pertama, jangan "lapar mata". Desain yang bagus belum tentu cocok dengan rumah kita atau kebutuhan kita. Sebaiknya pertimbangankan masak-masak. Saya lebih menyarankan interior designer daripada kita mendesain sendiri, kecuali kalau kita memang berprofesi sebagai desaigner. Pilih designer yang kompeten. Hati-hati terjebak dengan harga murah, jangan-jangan kualitasnya hancur lebur.
Kedua, apabila kita menempati rumah baru yang masih kosong, sebelum membeli peralatan dapur, lebih baik bekerja sama dengan designer untuk membicarakan peralatan yang kita butuhkan. Terutama untuk apartemen yang menerapkan beberapa peraturan (misalnya, beberapa apartemen melarang penggunaan kompor gas sehingga kompor listrik).
Ketiga, jangan segan-segan untuk mengutarakan kebutuhan dan kebiasaan kita sehari-hari. Tapi kita harus bisa membedakan mana keinginan atau kebutuhan. Kebutuhan tentu didahulukan daripada keinginan. Misalnya kita merasa kompor empat tungku terlihat keren dan mewah daripada kompor dua tungku biasa; tapi sebenarnya untuk makan pun kita mengandalkan catering. Tentunya ini menjadi permasalahan, apabila ruangan yang tersedia sempit.
Keempat, perawatan kitchen set sebisa mungkin tidak menyulitkan kita. Kitchen set dengan granit India yang putih nan halus memang terlihat sangat cantik, tapi perawatannya pun sulit karena granit putih akan terlihat kusam apabila terkena asam (air jeruk, cuka, dll). Oleh karena itu, pertimbangkan dulu kapabilitas kita. Bila tidak sanggup merawat, tapi ingin menggunakan granit, pilihlah warna yang lebih gelap.
Selasa, 12 Juni 2012
Pengalaman Pertama Mengajukan KPR
Hari ini, saya dan keluarga menyelesaikan proses pengurusan KPR dan melakukan akad kredit. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti akad kredit, dan awalnya saya agak bingung apa yang harus saya lakukan. Tapi ternyata, prosesnya tidak serumit kelihatannya. Hanya dalam waktu satu setengah jam (itu pun satu jam pertama dihabiskan untuk menunggu kehadiran notaris dan developer), semua selesai. I officially own that new house.
Secara kronologis, inilah proses pengajuan KPR yang saya lakukan dengan Bank OCBC NISP.
1. Saya menyetorkan uang muka 20% kepada pihak developer sebagai tanda jadi. Saya berkata akan mengambil KPR di OCBC NISP karena saya adalah nasabah bank tersebut.
2. Sebelum saya mengajukan KPR, Ibu X dari OCBC NISP menelepon saya (sampai sekarang saya tidak tahu apa jabatan beliau), dan menawarkan diri untuk mengurus KPR yang saya butuhkan. Rupanya sang developer berinisiatif untuk menelepon Ibu X.
3. Saya bertanya bagaimana sebaiknya saya mengajukan kredit supaya pinjaman yang saya peroleh maksimal, apakah dengan joint income, atau personal guarantee. Saya menceritakan bahwa saya dan suami sama-sama bekerja; saya bekerja di perusahaan keluarga, sementara suami berwiraswasta namun masih perseorangan (belum dilembagakan). Namun Ibu X tidak bisa memberikan saran, dan saya memutuskan akan berkonsultasi dulu dengan seorang kenalan saya, yaitu Bapak Y. Bapak Y adalah Branch Manager salah satu cabang OCBC NISP yang telah mengurus berbagai urusan perbankan orangtua, termasuk perusahaan orangtua di mana saya bekerja. Ibu X berkata bahwa dia kenal Bapak Y dan dia juga setuju dengan langkah saya tersebut.
4. Saya menghubungi seorang Bapak Y dan beliau menyarankan agar pengajuan dilakukan oleh saya, dengan perusahaan sebagai penjamin. Kami pun mengikuti saran Bapak Y. Bapak Y berjanji akan berkoordinasi dengan Ibu X untuk mengurus KPR saya.
5. Saya mempersiapkan semua surat-surat yang dibutuhkan, yaitu surat penawaran rumah dari developer, fotokopi KTP dan NPWP, surat nikah, kartu keluarga, dan SPT. Semua berkas diserahkan kepada Ibu X.
6. Kira-kira seminggu kemudian, Ibu X berkata kalau dia akan datang ke perusahaan untuk observasi. Dia mengambil foto gudang, tempat proses, para pegawai yang sedang bekerja, serta kantor. Dia juga meminta data penjualan dan pembelian perusahaan selama enam bulan terakhir. Semuanya saya lengkapi. Dia berkata bahwa sebenarnya KPR sudah diapproval, namun dia masih membutuhkan data pelengkap saja. Sebelum pulang, dia bertanya kapan saya ingin akad kredit, lalu saya katakan secepatnya.
7. Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari Ibu X. Saya menelepon, tapi tidak diangkat. Saya menghubungi Bapak Y, dan berkata kalau Ibu X sedang cuti.
8. Tiga hari kemudian, Bapak Y menelepon lagi kalau cuti Ibu X diperpanjang. Dia berkata telah mengusahakan agar bisa diurus oleh orang lain, namun berkas-berkas saya disimpan Ibu X sehingga tidak bisa diproses oleh atasannya.
9. Dua minggu setelah penyerahan berkas, Ibu X datang lagi ke perusahaan bersama atasannya, yaitu Ibu Z. Ibu Z berkata kalau dia membutuhkan konfirmasi atas data-data yang saya serahkan melalui Ibu X. Rupanya Ibu X lupa mengenai penjelasan saya.
10. Beberapa hari kemudian, Ibu X memberitahu saya bahwa sekarang bank tidak bisa memberikan pinjaman sebesar 80% dari harga rumah yang diajukan, melainkan hanya maksimal 70%. Karena tidak ada pilihan lain, saya setuju. Ibu X mengirimkan SMS berisi biaya yang harus saya siapkan (provisi 1.5%, asuransi jiwa dan kebakaran, biaya notaris, administrasi, dll).
11. Besoknya, saya segera pergi ke bank untuk mentransfer sisa uang muka yang harus saya lunasi. Di sana, tanpa sengaja saya bertemu Bapak Y. Saya memberitahu mengenai biaya-biaya tersebut dan bertanya apakah ada kelonggaran karena saya baca melalui internet, banyak yang bilang kalau provisi biasanya 1% saja. Bapak Y segera menelepon Ibu X agar provisi saya ditinjau lagi. Beliau juga meminta agar Ibu X segera mengirimkan SPPK untuk saya pelajari. Sorenya, Bapak Y menelepon saya, memberitahukan bahwa biaya yang harus saya bayarkan berkurang karena provisi dipotong hingga menjadi 1% saja, dan biaya notaris dipotong setengahnya.
12. Besoknya, surat SPPK belum saya terima. Lusanya adalah hari Sabtu, sehingga saya menunggu sampai Senin.
13. Hari Senin, surat SPPK masih belum saya terima. Saya mencoba menghubungi Ibu X, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya SMS saja.
14. Hari Selasa, surat SPPK dikirim lewat e-mail. Saya mempelajari semuanya dan sudah sesuai. Saya menelepon Ibu X, bertanya apa yang harus saya persiapkan selanjutnya, tapi beliau berkata semua sudah selesai. Saya hanya tinggal menunggu jadwal akad kredit.
15. Hari Jumat, Ibu X menelepon untuk memberitahu bahwa jadwal akad kredit saya adalah Selasa, 12 Juni, pukul 8 pagi. Dia menyuruh saya membawa KTP asli, surat nikah, dan KK yang asli. Dia juga berjanji akan meng-SMS angka BPHTB yang harus saya bayarkan, namun sampai hari Selasa, sms itu tidak datang.
16. Tanggal 12 Juni, pukul setengah delapan pagi, Ibu X menelepon saya; beliau memberi tahu bahwa biaya yang harus dibayarkan saya dan developer adalah sekitar 50 juta rupiah, namun dia tidak tahu berapa yang dibebankan pada saya. Bukan itu saja, Ibu X berkata bahwa uang itu harus saya bawa cash alias tunai! Saya keberatan karena informasi itu tidak diberitahu sebelumnya, dan saat itu masih pagi sehingga bank belum beroperasi (sebagai informasi, bisnis yang dilakukan oleh keluarga kebanyakan menggunakan bank note atau dollar US sehingga kami jarang memegang uang cash dalam jumlah besar berbentuk Rupiah. Tentu saja saya harus menjual Dollar dulu!)
17. Saat akad kredit, pihak developer membawa uang cash sebesar 50 juta rupiah sehingga saya "dipinjamkan" dulu.
18. Akad kredit dilakukan tanpa Ibu X maupun Bapak Y. Yang ada saat itu adalah officer Bagian Legal yaitu Ibu R, notaris dan sekretarisnya, pihak saya, dan pihak developer. Akad kredit diselesaikan tanpa masalah.
19. Usai akad kredit, barulah saya ke teller untuk menjual dollar dan membayarkan "hutang" saya kepada developer.
20. Urusan dengan Bank selesai, dan saya tinggal menunggu serah terima karena rumah yang hendak saya jual belum sepenuhnya selesai finishing.
Itulah pengalaman saya mengajukan KPR. Terus terang saya kecewa dengan kinerja Ibu X yang lambat, tidak responsif, dan berkesan tidak serius. Walaupun demikian, saya tidak ingin mempermasalahkannya karena masih banyak urusan lain yang perlu saya bereskan. Tapi tentu saja, jika ada teman atau saudara yang ingin mengajukan kredit, saya tidak akan merekomendasikan beliau. Walaupun demikian, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Y yang sudah banyak membantu saya melakukan pengajuan kredit untuk pertama kalinya, serta kepada Bank OCBC NISP yang bersikap cukup fleksibel menangani permohonan KPR saya. Thank God, finally it's done!
Secara kronologis, inilah proses pengajuan KPR yang saya lakukan dengan Bank OCBC NISP.
1. Saya menyetorkan uang muka 20% kepada pihak developer sebagai tanda jadi. Saya berkata akan mengambil KPR di OCBC NISP karena saya adalah nasabah bank tersebut.
2. Sebelum saya mengajukan KPR, Ibu X dari OCBC NISP menelepon saya (sampai sekarang saya tidak tahu apa jabatan beliau), dan menawarkan diri untuk mengurus KPR yang saya butuhkan. Rupanya sang developer berinisiatif untuk menelepon Ibu X.
3. Saya bertanya bagaimana sebaiknya saya mengajukan kredit supaya pinjaman yang saya peroleh maksimal, apakah dengan joint income, atau personal guarantee. Saya menceritakan bahwa saya dan suami sama-sama bekerja; saya bekerja di perusahaan keluarga, sementara suami berwiraswasta namun masih perseorangan (belum dilembagakan). Namun Ibu X tidak bisa memberikan saran, dan saya memutuskan akan berkonsultasi dulu dengan seorang kenalan saya, yaitu Bapak Y. Bapak Y adalah Branch Manager salah satu cabang OCBC NISP yang telah mengurus berbagai urusan perbankan orangtua, termasuk perusahaan orangtua di mana saya bekerja. Ibu X berkata bahwa dia kenal Bapak Y dan dia juga setuju dengan langkah saya tersebut.
4. Saya menghubungi seorang Bapak Y dan beliau menyarankan agar pengajuan dilakukan oleh saya, dengan perusahaan sebagai penjamin. Kami pun mengikuti saran Bapak Y. Bapak Y berjanji akan berkoordinasi dengan Ibu X untuk mengurus KPR saya.
5. Saya mempersiapkan semua surat-surat yang dibutuhkan, yaitu surat penawaran rumah dari developer, fotokopi KTP dan NPWP, surat nikah, kartu keluarga, dan SPT. Semua berkas diserahkan kepada Ibu X.
6. Kira-kira seminggu kemudian, Ibu X berkata kalau dia akan datang ke perusahaan untuk observasi. Dia mengambil foto gudang, tempat proses, para pegawai yang sedang bekerja, serta kantor. Dia juga meminta data penjualan dan pembelian perusahaan selama enam bulan terakhir. Semuanya saya lengkapi. Dia berkata bahwa sebenarnya KPR sudah diapproval, namun dia masih membutuhkan data pelengkap saja. Sebelum pulang, dia bertanya kapan saya ingin akad kredit, lalu saya katakan secepatnya.
7. Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari Ibu X. Saya menelepon, tapi tidak diangkat. Saya menghubungi Bapak Y, dan berkata kalau Ibu X sedang cuti.
8. Tiga hari kemudian, Bapak Y menelepon lagi kalau cuti Ibu X diperpanjang. Dia berkata telah mengusahakan agar bisa diurus oleh orang lain, namun berkas-berkas saya disimpan Ibu X sehingga tidak bisa diproses oleh atasannya.
9. Dua minggu setelah penyerahan berkas, Ibu X datang lagi ke perusahaan bersama atasannya, yaitu Ibu Z. Ibu Z berkata kalau dia membutuhkan konfirmasi atas data-data yang saya serahkan melalui Ibu X. Rupanya Ibu X lupa mengenai penjelasan saya.
10. Beberapa hari kemudian, Ibu X memberitahu saya bahwa sekarang bank tidak bisa memberikan pinjaman sebesar 80% dari harga rumah yang diajukan, melainkan hanya maksimal 70%. Karena tidak ada pilihan lain, saya setuju. Ibu X mengirimkan SMS berisi biaya yang harus saya siapkan (provisi 1.5%, asuransi jiwa dan kebakaran, biaya notaris, administrasi, dll).
11. Besoknya, saya segera pergi ke bank untuk mentransfer sisa uang muka yang harus saya lunasi. Di sana, tanpa sengaja saya bertemu Bapak Y. Saya memberitahu mengenai biaya-biaya tersebut dan bertanya apakah ada kelonggaran karena saya baca melalui internet, banyak yang bilang kalau provisi biasanya 1% saja. Bapak Y segera menelepon Ibu X agar provisi saya ditinjau lagi. Beliau juga meminta agar Ibu X segera mengirimkan SPPK untuk saya pelajari. Sorenya, Bapak Y menelepon saya, memberitahukan bahwa biaya yang harus saya bayarkan berkurang karena provisi dipotong hingga menjadi 1% saja, dan biaya notaris dipotong setengahnya.
12. Besoknya, surat SPPK belum saya terima. Lusanya adalah hari Sabtu, sehingga saya menunggu sampai Senin.
13. Hari Senin, surat SPPK masih belum saya terima. Saya mencoba menghubungi Ibu X, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya SMS saja.
14. Hari Selasa, surat SPPK dikirim lewat e-mail. Saya mempelajari semuanya dan sudah sesuai. Saya menelepon Ibu X, bertanya apa yang harus saya persiapkan selanjutnya, tapi beliau berkata semua sudah selesai. Saya hanya tinggal menunggu jadwal akad kredit.
15. Hari Jumat, Ibu X menelepon untuk memberitahu bahwa jadwal akad kredit saya adalah Selasa, 12 Juni, pukul 8 pagi. Dia menyuruh saya membawa KTP asli, surat nikah, dan KK yang asli. Dia juga berjanji akan meng-SMS angka BPHTB yang harus saya bayarkan, namun sampai hari Selasa, sms itu tidak datang.
16. Tanggal 12 Juni, pukul setengah delapan pagi, Ibu X menelepon saya; beliau memberi tahu bahwa biaya yang harus dibayarkan saya dan developer adalah sekitar 50 juta rupiah, namun dia tidak tahu berapa yang dibebankan pada saya. Bukan itu saja, Ibu X berkata bahwa uang itu harus saya bawa cash alias tunai! Saya keberatan karena informasi itu tidak diberitahu sebelumnya, dan saat itu masih pagi sehingga bank belum beroperasi (sebagai informasi, bisnis yang dilakukan oleh keluarga kebanyakan menggunakan bank note atau dollar US sehingga kami jarang memegang uang cash dalam jumlah besar berbentuk Rupiah. Tentu saja saya harus menjual Dollar dulu!)
17. Saat akad kredit, pihak developer membawa uang cash sebesar 50 juta rupiah sehingga saya "dipinjamkan" dulu.
18. Akad kredit dilakukan tanpa Ibu X maupun Bapak Y. Yang ada saat itu adalah officer Bagian Legal yaitu Ibu R, notaris dan sekretarisnya, pihak saya, dan pihak developer. Akad kredit diselesaikan tanpa masalah.
19. Usai akad kredit, barulah saya ke teller untuk menjual dollar dan membayarkan "hutang" saya kepada developer.
20. Urusan dengan Bank selesai, dan saya tinggal menunggu serah terima karena rumah yang hendak saya jual belum sepenuhnya selesai finishing.
Itulah pengalaman saya mengajukan KPR. Terus terang saya kecewa dengan kinerja Ibu X yang lambat, tidak responsif, dan berkesan tidak serius. Walaupun demikian, saya tidak ingin mempermasalahkannya karena masih banyak urusan lain yang perlu saya bereskan. Tapi tentu saja, jika ada teman atau saudara yang ingin mengajukan kredit, saya tidak akan merekomendasikan beliau. Walaupun demikian, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Y yang sudah banyak membantu saya melakukan pengajuan kredit untuk pertama kalinya, serta kepada Bank OCBC NISP yang bersikap cukup fleksibel menangani permohonan KPR saya. Thank God, finally it's done!
Kamis, 07 Juni 2012
Finding New Home
Sudah sejak sebulan yang lalu, saya disibukkan dengan proses pembelian rumah dan pengajuan KPR ke bank OCBC NISP. Ini pertama kalinya saya membeli rumah dengan fasilitas KPR, dan ternyata lumayan melelahkan juga. Tapi nggak apa-apa deh, setidaknya jadi pengalaman berharga.
Alasan saya membeli rumah adalah karena sebentar lagi putri saya akan sekolah (toddler), dan rumah kami yang sekarang tidak ada sekolah Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah bekas di sekitar tempat usaha suami, dengan harga kisaran 350 sampai 400 juta. Kami mengajak mama hunting rumah, sebab kami pikir orangtua mempunyai pemikiran yang lebih matang daripada anak muda. Namun setelah seharian berkeliling, tidak ada satupun yang cocok. Hari sudah sore sehingga kami memutuskan untuk pulang.
Namun dalam perjalanan pulang, kami mampir di sebuah perumahaan baru yang tidak terlalu besar. Unit yang tersisa hanya tinggal dua, namun mama merasa cocok sekali dengan perumahaan itu. Suami juga suka rumah itu, begitu pula putri kami yang baru berusia 2 tahun. Dia langsung betah, berlari-lari gembira di rumah yang masih kotor. Sayangnya, developer tidak mau menerima "uang tanda jadi". Dia bilang, jika berminat, kami harus segera melunasi DP sebesar 20%. Memang sih, perumahan itu laku banget. Kami hanya diberi waktu dua hari untuk menyetorkan DP, itu pun terpotong hari Minggu.
Kami pulang dengan menyisakan perdebatan. Bagi orang seukuran saya, harga rumah itu terlalu tinggi, 700 juta. 20%-nya saja sudah 140juta. Padahal saya hanya menyediakan dana untuk DP sebesar 70-80 juta rupiah. Suami juga tidak mau memaksakan, dia khawatir DP yang terlalu besar akan mengganggu cash flow. Namun, mama merasa rumah itu lebih cocok untuk keluarga kami. Akhirnya mama bersedia menutupi sebagian uang DP dengan tabungan pribadinya. Orangtua suami juga bersedia menambahkan untuk PPN yang nilainya cukup besar. Beliau merasa antusias karena rumah yang akan kami beli lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mereka.
Alhasil, saya dan suami "gagal" membeli rumah dengan usaha kami sendiri karena lagi-lagi orangtua memberikan subsidi. Di satu sisi kami bersyukur karena mempunyai orangtua yang selalu menginginkan segala yang terbaik bagi anak dan cucunya, tapi di sisi lain saya merasa tidak kunjung "dewasa dan mandiri". Mungkin itu resikonya menikah di usia muda. Saya dan suami langsung mengatur strategi agar cicilan rumah bisa kami tangani sendiri - sebagai pembuktian pada diri sendiri bahwa kami bisa menyelesaikan apa yang kami mulai, tanpa perlu merepotkan orangtua lebih jauh lagi.
Ya, itulah pengalaman pertama kami mencari rumah baru. Saya harap semuanya lancar. Sampai sekarang kami masih mengurus proses KPR yang hanya tinggal menunggu akad kredit saja. Semangat!
Alasan saya membeli rumah adalah karena sebentar lagi putri saya akan sekolah (toddler), dan rumah kami yang sekarang tidak ada sekolah Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah bekas di sekitar tempat usaha suami, dengan harga kisaran 350 sampai 400 juta. Kami mengajak mama hunting rumah, sebab kami pikir orangtua mempunyai pemikiran yang lebih matang daripada anak muda. Namun setelah seharian berkeliling, tidak ada satupun yang cocok. Hari sudah sore sehingga kami memutuskan untuk pulang.
Namun dalam perjalanan pulang, kami mampir di sebuah perumahaan baru yang tidak terlalu besar. Unit yang tersisa hanya tinggal dua, namun mama merasa cocok sekali dengan perumahaan itu. Suami juga suka rumah itu, begitu pula putri kami yang baru berusia 2 tahun. Dia langsung betah, berlari-lari gembira di rumah yang masih kotor. Sayangnya, developer tidak mau menerima "uang tanda jadi". Dia bilang, jika berminat, kami harus segera melunasi DP sebesar 20%. Memang sih, perumahan itu laku banget. Kami hanya diberi waktu dua hari untuk menyetorkan DP, itu pun terpotong hari Minggu.
Kami pulang dengan menyisakan perdebatan. Bagi orang seukuran saya, harga rumah itu terlalu tinggi, 700 juta. 20%-nya saja sudah 140juta. Padahal saya hanya menyediakan dana untuk DP sebesar 70-80 juta rupiah. Suami juga tidak mau memaksakan, dia khawatir DP yang terlalu besar akan mengganggu cash flow. Namun, mama merasa rumah itu lebih cocok untuk keluarga kami. Akhirnya mama bersedia menutupi sebagian uang DP dengan tabungan pribadinya. Orangtua suami juga bersedia menambahkan untuk PPN yang nilainya cukup besar. Beliau merasa antusias karena rumah yang akan kami beli lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mereka.
Alhasil, saya dan suami "gagal" membeli rumah dengan usaha kami sendiri karena lagi-lagi orangtua memberikan subsidi. Di satu sisi kami bersyukur karena mempunyai orangtua yang selalu menginginkan segala yang terbaik bagi anak dan cucunya, tapi di sisi lain saya merasa tidak kunjung "dewasa dan mandiri". Mungkin itu resikonya menikah di usia muda. Saya dan suami langsung mengatur strategi agar cicilan rumah bisa kami tangani sendiri - sebagai pembuktian pada diri sendiri bahwa kami bisa menyelesaikan apa yang kami mulai, tanpa perlu merepotkan orangtua lebih jauh lagi.
Ya, itulah pengalaman pertama kami mencari rumah baru. Saya harap semuanya lancar. Sampai sekarang kami masih mengurus proses KPR yang hanya tinggal menunggu akad kredit saja. Semangat!
Langganan:
Postingan (Atom)