Minggu lalu, tiba-tiba saja saya memutuskan untuk membeli smartphone baru: Galaxy Note 2. This is a big thing for me. 7 juta lebih untuk sebuah alat komunikasi? What?!
Tapi tetap saja dibeli. *hahaha...*
Saya bukan seorang gadget mania, satu-satunya smartphone yang saya punya sebelum Galaxy Note 2 ini adalah Blackberry Onyx pertama yang saya beli lebih dari 2 tahun lalu. Itu pun karena tuntutan pekerjaan. Tapi sekarang kebutuhannya sudah bertambah rumit... saya harus bisa mengolah data di mana pun saya pergi. Saya enggan membawa laptop. Berat, repot, mengundang kejahatan, dipakai kerja pun tidak nyaman. Bagi saya, PC masih tetap lebih enak dipakai kerja atau main game daripada laptop.
Ngomong-ngomong, dalam sebulan ini, dua orang rekan kehilangan laptop di mobil. Modusnya sama, dengan memecahkan kaca belakang mobil.
Awalnya saya hendak membeli iPad. Tapi setelah bertanya sana-sini, katanya programnya tidak compatible dengan Windows. Akhirnya batal deh. Teman menyarankan, lebih baik menggunakan gadget berbasis Android. Waktu itu saya bingung: Android? Merk apaan tuh? *ketauan banget kampungnya!*
Lalu saat jalan-jalan di PVJ, tanpa sengaja melihat Galaxy Note 1 di salah satu gerai handphone. Orang bilang ini adalah produk nanggung: jadi handphone kebesaran, jadi tablet kekecilan. Tapi bagi saya, cocok sekali. Bisa dipakai mengetik Excel dan Word, bisa membuka file PDF, bisa menggunakan e-mail, dan kerjanya cepat! Ukurannya pun pas, tidak terlalu besar, sehingga bisa masuk tas. Kalau menggunakan cover, bentuknya seperti agenda sehingga tidak terlihat mencolok. Tapi waktu hendak membeli, pramuniaga berkata, sebaiknya saya beli Galaxy Note 2. Lebih baru. Lebih bagus. Lebih cepat. Lalu saya cuma iya-iya saja. Gesek kartu dan jreng... saya pulang dengan membawa Galaxy Note 2.
Lalu mulailah saya mendapatkan cibiran sana-sini. Kemahalan lah, nggak worth lah, modelnya standar lah, kameranya jelek lah, batrenya cepat habis lah, dll... Lebih baik ini, lebih baik itu, dll... Bikin senewen saja. Tapi ada satu orang yang menyambut gadget baru ini dengan sukacita. Putriku tersayang! Muah muah deh kamu, Nak... Saya langsung download game buat toddler dan dia main dengan sukacita.
Masalah belum selesai sampai di situ. Saya kebingungan, bagaimana cara menggunakan smartphone ini? Mana program Excel dan Word-nya? Bagaimana cara memakai teleponnya? Bagaimana mengubah bahasanya menjadi bahasa Inggris? Dan, banyak sekali aplikasinya! Ini untuk apa saja?
Akhirnya saya memutuskan pergi ke outlet Samsung, disambut oleh seorang CS yang reseh banget. Kalau ditanya, dia menjawab dengan nada meremehkan. Saat ditanya, "Mbak, bagaimana caranya kalau mau menjawab telepon?" Lalu dia jawab, "Ya gesek aja, gampang 'kan."
Gesek apanya? Kartu kredit?
Dalam hati saya kesal sekali. Saya ingin bilang : "Saya memang nggak becus menggunakan smartphone, tapi saya bisa beli produk yang perusahaanmu jual. Dan saya punya hak untuk mendapatkan penjelasan tentang produk yang saya beli!" Tapi akhirnya nggak jadi saya katakan. Soalnya saya membawa putri saya, dan saya takut dia meniru ucapan saya. Saya memutuskan untuk segera pulang meskipun informasi yang saya inginkan belum saya dapatkan.
Akhirnya saya memutuskan untuk belajar secara otodidak. Yah, mau bagaimana lagi? Hihihi... Saya masih punya waktu sampai awal tahun depan untuk menguasai smartphone itu. Tapi itulah pengalaman pertama saya menggunakan smartphone Android. Sungguh konyol hahaha...
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Desember 2012
Senin, 29 Oktober 2012
Pindah Rumah
Hari ini adalah malam terakhir saya dan keluarga tinggal di rumah lama. Sejak beberapa hari yang lalu, kami sudah sibuk berbenah, tapi sampai hari terakhir pun ternyata masih belum sepenuhnya selesai. Ternyata pindahan itu sangat merepotkan dan melelahkan ya? Sampai-sampai saya datang bulan sepuluh hari lebih cepat daripada jadwal karena kecapaian naik-turun.
Ada tiga kesan yang muncul ketika membereskan seisi rumah sebelum kami menyerahkan kunci pada pemilik baru rumah kecil kami. Pertama, adalah betapa banyaknya barang yang kami simpan padahal jarang atau bahkan tidak pernah kami gunakan. Hal ini membuat saya belajar bahwa ternyata sifat konsumerisme saya dan suami memang cukup parah. Kami membeli banyak barang hanya karena lucu, bagus, sepertinya akan berguna, unik, atau murah... padahal kami tidak terlalu membutuhkannya. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk ke depannya. Kami perlu lebih selektif dalam membeli barang-barang.
Kesan kedua, adalah excited - karena kami akan menempati rumah baru ( meskipun saat blog ini ditulis, rumah baru kami belum selesai renovasi ). Walaupun demikian, saat membereskan furniture dan peralatan elektronik, otak saya penuh dengan khayalan... di rumah baru nanti, dalam ruang manakah kami akan meletakkan barang-barang ini?
Kesan ketiga, adalah hal yang menurut kami pasti dirasakan oleh kebanyakan orang yang pernah pindah rumah, adalah rasa terharu. Meskipun rumah lama ini kecil dan sederhana, tapi di sinilah saya dan suami membangun keluarga pertama kali. Di sini kami membesarkan putri kami sampai berusia dua setengah tahun. Di sini kami bermain petak umpet dari sore sampai malam sampai Nana harus mandi dua kali. Di sini juga kami memelihara sembilan belas ekor ikan koi (satu di antaranya mati karena melompat keluar) serta empat ekor kura-kura brazil yang sekarang ukurannya lebih besar daripada telapak tangan saya. Di sini juga kami membuat kebun mini bunga bakung yang setiap tiga bulan sekali berbunga begitu indah. Kebetulan, saat ini pun bunga bakung mini kami sedang berkembang dengan indahnya. Ada begitu banyak kenangan di setiap sudut rumah ini sehingga terasa berat meninggalkannya. Bahkan si kecil Nana pun merasa gelisah dengan kepindahan ini. Dia bahkan pernah meminta papanya untuk membeli kembali rumah ini. Kami harus menjelaskan panjang lebar bahwa rumah ini harus kita tinggalkan karena kita akan pindah ke rumah baru yang lebih dekat dengan sekolah dan tempat kerja papanya.
Walaupun demikian, life must go on. Saya berdoa supaya kami betah di rumah baru, sebagaimana kami betah di rumah lama yang kecil ini. Saya yakin bukan soal "rumah"nya yang membuat kami bahagia, tapi bagaimana kami hidup bersama-sama di bawah satu atap. Saya juga berdoa semoga keluarga yang menempati rumah lama kami pun akan betah dan merasakan kegembiraan yang selama ini kami rasakan.
I will never forget you
every inch of you
everything about you
You are a beautiful part
in my life
Where miracles happened
Where I understand
how great God has done
in our life
I will never forget you
Goodbye
Ada tiga kesan yang muncul ketika membereskan seisi rumah sebelum kami menyerahkan kunci pada pemilik baru rumah kecil kami. Pertama, adalah betapa banyaknya barang yang kami simpan padahal jarang atau bahkan tidak pernah kami gunakan. Hal ini membuat saya belajar bahwa ternyata sifat konsumerisme saya dan suami memang cukup parah. Kami membeli banyak barang hanya karena lucu, bagus, sepertinya akan berguna, unik, atau murah... padahal kami tidak terlalu membutuhkannya. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk ke depannya. Kami perlu lebih selektif dalam membeli barang-barang.
Kesan kedua, adalah excited - karena kami akan menempati rumah baru ( meskipun saat blog ini ditulis, rumah baru kami belum selesai renovasi ). Walaupun demikian, saat membereskan furniture dan peralatan elektronik, otak saya penuh dengan khayalan... di rumah baru nanti, dalam ruang manakah kami akan meletakkan barang-barang ini?
Kesan ketiga, adalah hal yang menurut kami pasti dirasakan oleh kebanyakan orang yang pernah pindah rumah, adalah rasa terharu. Meskipun rumah lama ini kecil dan sederhana, tapi di sinilah saya dan suami membangun keluarga pertama kali. Di sini kami membesarkan putri kami sampai berusia dua setengah tahun. Di sini kami bermain petak umpet dari sore sampai malam sampai Nana harus mandi dua kali. Di sini juga kami memelihara sembilan belas ekor ikan koi (satu di antaranya mati karena melompat keluar) serta empat ekor kura-kura brazil yang sekarang ukurannya lebih besar daripada telapak tangan saya. Di sini juga kami membuat kebun mini bunga bakung yang setiap tiga bulan sekali berbunga begitu indah. Kebetulan, saat ini pun bunga bakung mini kami sedang berkembang dengan indahnya. Ada begitu banyak kenangan di setiap sudut rumah ini sehingga terasa berat meninggalkannya. Bahkan si kecil Nana pun merasa gelisah dengan kepindahan ini. Dia bahkan pernah meminta papanya untuk membeli kembali rumah ini. Kami harus menjelaskan panjang lebar bahwa rumah ini harus kita tinggalkan karena kita akan pindah ke rumah baru yang lebih dekat dengan sekolah dan tempat kerja papanya.
Walaupun demikian, life must go on. Saya berdoa supaya kami betah di rumah baru, sebagaimana kami betah di rumah lama yang kecil ini. Saya yakin bukan soal "rumah"nya yang membuat kami bahagia, tapi bagaimana kami hidup bersama-sama di bawah satu atap. Saya juga berdoa semoga keluarga yang menempati rumah lama kami pun akan betah dan merasakan kegembiraan yang selama ini kami rasakan.
I will never forget you
every inch of you
everything about you
You are a beautiful part
in my life
Where miracles happened
Where I understand
how great God has done
in our life
I will never forget you
Goodbye
Jumat, 14 September 2012
Perlindungan Konsumen: Antara Saya, IM2, dan Citibank
Setelah kurang lebih dua minggu tanpa koneksi internet, akhirnya hari ini saya bisa juga blogging. Alasannya, internet di rumah terputus sejak tanggal 1 September 2012. Sementara beberapa hari sebelumnya - saya lupa sejak tanggal berapa - jaringan internet sangat buruk sehingga sulit connect, atau kadang tidak bisa sama sekali. Kepada siapa saya berterima kasih atas masalah ini? Indosat M2 dan Citibank.
Sebelum menceritakan kronologis masalah yang saya alami, saya ingin membahas sedikit perihal "Perlindungan Konsumen". Menurut Wikipedia, perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Lebih jauh lagi, Wikipedia membahas bahwa UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen di antaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa; hak untuk memilih barang dan/atau jasa, serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Sudah cukup teori ditulis dalam satu paragraf. Kenapa? Karena semua yang saya ungkapkan pada paragraf di atas adalah teori saja. Pada kenyataannya, perlindungan konsumen dibatasi oleh "perjanjian" yang sifatnya membatasi konsumen untuk menuntut haknya (perhatikan bagian yang saya garisbawahi pada paragraf kedua). Berangkat dari keterbatasan inilah saya memilih untuk curhat di blog daripada berkoar-koar di hadapan perusahaan raksasa yang menurut opini saya gagal memberikan kepuasan pada saya sebagai pelanggan.
Saya telah berlangganan IM2 sejak masih kuliah, mungkin sekitar tahun 2006. Selama kurang lebih enam tahun, saya membayar tagihan IM2 melalui kartu kredit Citibank milik ibu saya. Selama enam tahun, saya tidak pernah menunggak pembayaran.
Tanggal 1 September 2012, saya tidak bisa melakukan koneksi sama sekali. Saya pikir, kejadian seperti ini sering terjadi sebelumnya, dan biasanya akan selesai dengan sendirinya, sehingga saya tidak segera menghubungi customer service IM2. Lagipula beberapa hari sebelumnya juga sering disconnect - saya pikir karena saat itu liburan lebaran baru saja selesai, sehingga ada penumpukan masalah teknis di pihak IM2. Keesokan harinya, yaitu tanggal 2 September, masih belum bisa koneksi juga. Saya masih bisa bersabar karena saat itu saya belum terlalu membutuhkan jaringan internet. Lagipula dari tanggal 3 sampai tanggal 7, saya berencana liburan ke luar pulau.
Sepulang liburan, saya mencoba connect untuk mengecek e-mail. Ternyata masih belum bisa. Saya menelepon CS, dan mendapatkan jawaban bahwa saya belum membayar tagihan IM2 sehingga layanan internet saya diblokir. Tentu saja saya heran, karena pembayaran IM2 saya lakukan lewat kartu kredit Citibank. Akhir perkara, saya diminta melunasi pembayaran lewat galeri Indosat. Sebelum ke galeri, saya memeriksa billing dari Citibank. Ternyata benar, bulan sebelumnya, pada billing itu tidak terdapat tagihan IM2.
Tanggal 9 September, saya segera pergi ke galeri Indosat sekaligus mencari tahu mengapa saya mendapatkan masalah seperti ini. Kebetulan sekali, Bank Citibank pun terletak persis di sebelah galeri Indosat sehingga saya bisa segera crosscheck. Setelah mengantri lama, akhirnya saya bisa berbicara dengan seorang CS di galeri indosat. Dia beralasan bahwa Citibank gagal melakukan pendebetan untuk dua kali tagihan (bulan Agustus dan September) sehingga saya harus membayar manual di kasir. Lagi-lagi saya mengantri untuk membayar.
Setelah beres melunasi biaya yang harus saya bayarkan, saya segera ke Citibank untuk mencari tahu mengapa Citibank tidak mendebet tagihan IM2. Jawaban yang saya dapatkan luar biasa: karena IM2 tidak menagih. What? Saya tidak mengerti sistem kedua perusahaan ini, tapi kenapa bisa pingpong sana sini?
Saya kembali ke galeri Indosat untuk mendapatkan kejelasan. Namun karena pelayanan CS menggunakan nomor antrian, saya dilayani oleh CS yang berbeda dengan sebelumnya. Setelah penjelasan yang berbelit-belit, saya menyimpulkan masalah ini terjadi karena IM2 mengganti ID saya tanpa pemberitahuan (awalnya menggunakan nomor ID, belakangan menggunakan nomor telepon Matrix). Pihak Citibank mencoba mendebet penagihan menggunakan nomor ID yang lama, tapi nomor itu sudah tidak digunakan lagi oleh pihak IM2 karena mereka sudah menggantinya dengan nomor telepon Matrix. Walaupun demikian, IM2 mengklaim bahwa mereka sudah memberikan konfirmasi pada Citibank. Saya memang menerima SMS dari Citibank berisi konfirmasi bahwa saya telah mengaktifkan nomor telepon yang baru pada tanggal 7 September 2012. Dengan demikian, konfirmasi itu terlambat dua bulan. Anda bingung? Jangankan Anda, saya pun sampai mengeryitkan kening mendengarnya.
Kejadian yang menghabiskan waktu sampai seharian ini membuat saya tercengang. Inikah wajah pelayanan jasa di Indonesia? Terus terang saya sangat kecewa pada kedua perusahaan besar ini, karena saya merasa dilempar sana-sini atas masalah yang bukan saya sebabkan. Walaupun demikian, pihak Citibank masih tahu sopan santun, sebab sang CS masih meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Bagaimana dengan pihak IM2? Tidak nampak penyesalan atau permintaan maaf sama sekali. Saya tidak membela pihak tertentu, tapi inilah kenyataan yang saya hadapi: saya berbicara dengan dua orang CS dari IM2, keduanya tidak ada yang mengucapkan kata maaf, dan mereka memberi penjelasan yang berbeda.
Akhirnya saya memutuskan untuk memberhentikan layanan IM2. Tapi lagi-lagi jawaban mencengangkan yang saya dapatkan. Saya harus membayar tagihan bulan Oktober untuk pemakaian bulan September. Tentu saja saya protes, sebab koneksi IM2 saya sudah diblokir sejak awal bulan sehingga terhitung bulan September, saya tidak menggunakan layanan IM2 sedikitpun. Tapi sang CS tetap tidak mau tahu, karena menurut dia perihal pemutusan layanan dan pembayaran tagihan bulan berjalan terdapat dalam perjanjian ketika pertama kali saya memasang IM2. Dengan kata lain, saya harus bayar untuk sesuatu yang tidak saya nikmati. Saya pun mengalah meskipun jengkel, dan tetap membayar (dengan sistem deposit). Bagi saya, lebih baik kehilangan 385 ribu rupiah daripada kejadian serupa terjadi lagi dan saya harus menghabiskan waktu seharian untuk mengurusnya.
Besoknya, saya segera mencari informasi untuk mencari penyedia layanan internet lain, dan akhirnya pilihan saya jatuh pada Speedy. Besoknya, modem Speedy telah "nangkring" di dekat komputer saya dan saya bisa kembali blogging dengan santai.
Yah, setidaknya itulah penyebab keterlambatan saya memposting kegiatan liburan saya. Setidaknya, dalam bulan ini saya mendapatkan tiga pelajaran berharga : Pertama, Perlindungan Konsumen hanyalah teori. Kedua, ucapan maaf adalah sesuatu yang langka sehingga harus dimasukkan ke dalam museum. Ketiga, ada banyak penyedia layanan internet yang lebih murah daripada IM2.
Sebelum menceritakan kronologis masalah yang saya alami, saya ingin membahas sedikit perihal "Perlindungan Konsumen". Menurut Wikipedia, perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Lebih jauh lagi, Wikipedia membahas bahwa UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen di antaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa; hak untuk memilih barang dan/atau jasa, serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Sudah cukup teori ditulis dalam satu paragraf. Kenapa? Karena semua yang saya ungkapkan pada paragraf di atas adalah teori saja. Pada kenyataannya, perlindungan konsumen dibatasi oleh "perjanjian" yang sifatnya membatasi konsumen untuk menuntut haknya (perhatikan bagian yang saya garisbawahi pada paragraf kedua). Berangkat dari keterbatasan inilah saya memilih untuk curhat di blog daripada berkoar-koar di hadapan perusahaan raksasa yang menurut opini saya gagal memberikan kepuasan pada saya sebagai pelanggan.
Saya telah berlangganan IM2 sejak masih kuliah, mungkin sekitar tahun 2006. Selama kurang lebih enam tahun, saya membayar tagihan IM2 melalui kartu kredit Citibank milik ibu saya. Selama enam tahun, saya tidak pernah menunggak pembayaran.
Tanggal 1 September 2012, saya tidak bisa melakukan koneksi sama sekali. Saya pikir, kejadian seperti ini sering terjadi sebelumnya, dan biasanya akan selesai dengan sendirinya, sehingga saya tidak segera menghubungi customer service IM2. Lagipula beberapa hari sebelumnya juga sering disconnect - saya pikir karena saat itu liburan lebaran baru saja selesai, sehingga ada penumpukan masalah teknis di pihak IM2. Keesokan harinya, yaitu tanggal 2 September, masih belum bisa koneksi juga. Saya masih bisa bersabar karena saat itu saya belum terlalu membutuhkan jaringan internet. Lagipula dari tanggal 3 sampai tanggal 7, saya berencana liburan ke luar pulau.
Sepulang liburan, saya mencoba connect untuk mengecek e-mail. Ternyata masih belum bisa. Saya menelepon CS, dan mendapatkan jawaban bahwa saya belum membayar tagihan IM2 sehingga layanan internet saya diblokir. Tentu saja saya heran, karena pembayaran IM2 saya lakukan lewat kartu kredit Citibank. Akhir perkara, saya diminta melunasi pembayaran lewat galeri Indosat. Sebelum ke galeri, saya memeriksa billing dari Citibank. Ternyata benar, bulan sebelumnya, pada billing itu tidak terdapat tagihan IM2.
Tanggal 9 September, saya segera pergi ke galeri Indosat sekaligus mencari tahu mengapa saya mendapatkan masalah seperti ini. Kebetulan sekali, Bank Citibank pun terletak persis di sebelah galeri Indosat sehingga saya bisa segera crosscheck. Setelah mengantri lama, akhirnya saya bisa berbicara dengan seorang CS di galeri indosat. Dia beralasan bahwa Citibank gagal melakukan pendebetan untuk dua kali tagihan (bulan Agustus dan September) sehingga saya harus membayar manual di kasir. Lagi-lagi saya mengantri untuk membayar.
Setelah beres melunasi biaya yang harus saya bayarkan, saya segera ke Citibank untuk mencari tahu mengapa Citibank tidak mendebet tagihan IM2. Jawaban yang saya dapatkan luar biasa: karena IM2 tidak menagih. What? Saya tidak mengerti sistem kedua perusahaan ini, tapi kenapa bisa pingpong sana sini?
Saya kembali ke galeri Indosat untuk mendapatkan kejelasan. Namun karena pelayanan CS menggunakan nomor antrian, saya dilayani oleh CS yang berbeda dengan sebelumnya. Setelah penjelasan yang berbelit-belit, saya menyimpulkan masalah ini terjadi karena IM2 mengganti ID saya tanpa pemberitahuan (awalnya menggunakan nomor ID, belakangan menggunakan nomor telepon Matrix). Pihak Citibank mencoba mendebet penagihan menggunakan nomor ID yang lama, tapi nomor itu sudah tidak digunakan lagi oleh pihak IM2 karena mereka sudah menggantinya dengan nomor telepon Matrix. Walaupun demikian, IM2 mengklaim bahwa mereka sudah memberikan konfirmasi pada Citibank. Saya memang menerima SMS dari Citibank berisi konfirmasi bahwa saya telah mengaktifkan nomor telepon yang baru pada tanggal 7 September 2012. Dengan demikian, konfirmasi itu terlambat dua bulan. Anda bingung? Jangankan Anda, saya pun sampai mengeryitkan kening mendengarnya.
Kejadian yang menghabiskan waktu sampai seharian ini membuat saya tercengang. Inikah wajah pelayanan jasa di Indonesia? Terus terang saya sangat kecewa pada kedua perusahaan besar ini, karena saya merasa dilempar sana-sini atas masalah yang bukan saya sebabkan. Walaupun demikian, pihak Citibank masih tahu sopan santun, sebab sang CS masih meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Bagaimana dengan pihak IM2? Tidak nampak penyesalan atau permintaan maaf sama sekali. Saya tidak membela pihak tertentu, tapi inilah kenyataan yang saya hadapi: saya berbicara dengan dua orang CS dari IM2, keduanya tidak ada yang mengucapkan kata maaf, dan mereka memberi penjelasan yang berbeda.
Akhirnya saya memutuskan untuk memberhentikan layanan IM2. Tapi lagi-lagi jawaban mencengangkan yang saya dapatkan. Saya harus membayar tagihan bulan Oktober untuk pemakaian bulan September. Tentu saja saya protes, sebab koneksi IM2 saya sudah diblokir sejak awal bulan sehingga terhitung bulan September, saya tidak menggunakan layanan IM2 sedikitpun. Tapi sang CS tetap tidak mau tahu, karena menurut dia perihal pemutusan layanan dan pembayaran tagihan bulan berjalan terdapat dalam perjanjian ketika pertama kali saya memasang IM2. Dengan kata lain, saya harus bayar untuk sesuatu yang tidak saya nikmati. Saya pun mengalah meskipun jengkel, dan tetap membayar (dengan sistem deposit). Bagi saya, lebih baik kehilangan 385 ribu rupiah daripada kejadian serupa terjadi lagi dan saya harus menghabiskan waktu seharian untuk mengurusnya.
Besoknya, saya segera mencari informasi untuk mencari penyedia layanan internet lain, dan akhirnya pilihan saya jatuh pada Speedy. Besoknya, modem Speedy telah "nangkring" di dekat komputer saya dan saya bisa kembali blogging dengan santai.
Yah, setidaknya itulah penyebab keterlambatan saya memposting kegiatan liburan saya. Setidaknya, dalam bulan ini saya mendapatkan tiga pelajaran berharga : Pertama, Perlindungan Konsumen hanyalah teori. Kedua, ucapan maaf adalah sesuatu yang langka sehingga harus dimasukkan ke dalam museum. Ketiga, ada banyak penyedia layanan internet yang lebih murah daripada IM2.
Jumat, 27 Juli 2012
Ketika Kanker Mengintai...
Dalam dua pekan ini, pikiran saya banyak tersita oleh masalah yang sedang menimpa kakak ipar suami, kami memanggilnya Cihe.
Semua berawal pada bulan Mei tahun ini, ketika Cihe dinyatakan hamil dua minggu. Cihe dan suaminya memang telah berencana ingin mempunyai anak kedua, sehingga berita kehamilan ini tentu membawa sukacita. Sayangnya, kehamilan Cihe tidak berjalan mulus karena janin yang dikandungnya tidak berkembang dengan baik. Bukan itu saja, akhirnya Cihe pun keguguran. Cihe pun kembali ke dokter untuk memeriksakan diri apakah rahimnya sudah bersih atau belum.
Bulan lalu, rahim Cihe dinyatakan sudah bersih. Tapi untuk memersiapkan kehamilan lagi, Cihe perlu berkonsultasi pada dokter kandungan karena dia baru keguguran. Dari sini, masalah muncul. Mendadak, di dalam rahim Cihe muncul "gumpalan" seukuran telur. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata gumpalan itu telah pecah menjadi serpihan yang berserakan di seluruh dinding rahim. Cihe pun mengalami pendarahan hebat. Ternyata, Cihe mempunyai kanker ganas di rahimnya. Dokter kandungannya pun angkat tangan. Dia mereferensikan Cihe pada seorang spesialis penyakit kandungan, namun beliau sedang pergi liburan sampai awal Agustus nanti.
Melalui serangkaian pertimbangan, akhirnya Cihe pergi ke dokter spesialis lain. Dokter tersebut berusaha untuk meminimalisir perkembangan kanker dengan suntikan obat. Rencananya, setelah lima kali, Cihe perlu dikemoterapi. Namun baru setengah jalan, Cihe sudah pendarahan lagi. Akhirnya dokter memutuskan untuk segera mengangkat rahim Cihe karena perkembangan kankernya begitu cepat. Sekarang Cihe masih terbaring di rumah sakit, menjalani beberapa kali perawatan kemoterapi untuk memastikan kankernya tidak menyebar ke organ lain.
Setiap malam, saya sekeluarga berdoa - mengharapkan mujizat Tuhan agar Cihe sembuh total. Ada kalanya saya bertanya-tanya, mengapa Cihe harus mengalami penyakit seganas itu. Tapi saya yakin Tuhan tidak buta. Dia mengizinkan Cihe memiliki kanker di rahimnya, namun pasti ada rencana besar yang indah di balik semua itu. Saya yakin Tuhan mengasihi Cihe sama seperti anak-anakNya yang lain.
Kejadian ini membuat saya sadar, bahwa kanker rahim adalah resiko yang bisa dialami oleh perempuan manapun - termasuk saya. Saya teringat peribahasa Latin : "bona valetudo melior est quam maximae divitae, good health is worth more than the greatest wealth." Ya, kesehatan adalah aset paling berharga yang bisa kita miliki. Sehat dalam arti jasmani dan rohani, tentu saja. Oleh karena itu, saya berusaha menguatkan hati Cihe, agar meskipun tubuhnya sakit, tetapi hatinya tetap sehat - seperti kata Firman Tuhan dalam Amsal 17:22, "hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang". Ketika saya menengok Cihe kemarin, saya lihat meskipun masih agak pucat, tapi Cihe lebih bersemangat untuk menjalani pemulihan. Saya yakin, Cihe pasti bisa pulih lagi!
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak agar semua wanita lebih hati-hati akan bahaya kanker rahim. Silahkan googling untuk informasi mengenai gejala, penyebab, dan pencegahan kanker rahim. Marilah kita pelihara dengan baik organ tubuh yang Tuhan berikan hanya kepada kaum hawa ini. Pesan saya, apabila terjadi gejala yang mengarah pada kanker rahim, segera periksakan ke spesialis penyakit kandungan. Ingatlah bahwa kanker rahim bisa berkembang dalam hitungan hari dan bisa menyebabkan kematian. Kedua, marilah kita jalani pola hidup yang sehat. Kebanyakan penyakit berbahaya seperti kanker bisa dicegah dengan rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, menjauhi rokok/obat-obatan terlarang/seks yang tidak sehat, serta melakukan aktivitas relaksasi yang positif agar terhindar dari stress. Kebanyakan dari kita mengorbankan kesehatan demi pekerjaan atau uang - tapi apalah arti segunung uang kalau kita sakit-sakitan dan akhirnya mati juga? Ketiga, apabila kita memang berdiagnosis memiliki kanker rahim, ataupun penyakit apapun, jangan patah semangat atau menyerah begitu saja. Berdoa dan berusahalah, jangan sia-siakan hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita. Hidup dan mati kita memang berada di tangan Tuhan, tapi saat hidup maupun saat mati, tetaplah kita percaya dan setia kepada Tuhan.
God bless you, all!
Semua berawal pada bulan Mei tahun ini, ketika Cihe dinyatakan hamil dua minggu. Cihe dan suaminya memang telah berencana ingin mempunyai anak kedua, sehingga berita kehamilan ini tentu membawa sukacita. Sayangnya, kehamilan Cihe tidak berjalan mulus karena janin yang dikandungnya tidak berkembang dengan baik. Bukan itu saja, akhirnya Cihe pun keguguran. Cihe pun kembali ke dokter untuk memeriksakan diri apakah rahimnya sudah bersih atau belum.
![]() |
| Hasil USG yang menunjukkan ada serpihan dalam rahim |
Bulan lalu, rahim Cihe dinyatakan sudah bersih. Tapi untuk memersiapkan kehamilan lagi, Cihe perlu berkonsultasi pada dokter kandungan karena dia baru keguguran. Dari sini, masalah muncul. Mendadak, di dalam rahim Cihe muncul "gumpalan" seukuran telur. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata gumpalan itu telah pecah menjadi serpihan yang berserakan di seluruh dinding rahim. Cihe pun mengalami pendarahan hebat. Ternyata, Cihe mempunyai kanker ganas di rahimnya. Dokter kandungannya pun angkat tangan. Dia mereferensikan Cihe pada seorang spesialis penyakit kandungan, namun beliau sedang pergi liburan sampai awal Agustus nanti.
![]() |
| Rahim yang baru diangkat, dengan kanker telah yang menyerang dinding-dindingnya |
Kejadian ini membuat saya sadar, bahwa kanker rahim adalah resiko yang bisa dialami oleh perempuan manapun - termasuk saya. Saya teringat peribahasa Latin : "bona valetudo melior est quam maximae divitae, good health is worth more than the greatest wealth." Ya, kesehatan adalah aset paling berharga yang bisa kita miliki. Sehat dalam arti jasmani dan rohani, tentu saja. Oleh karena itu, saya berusaha menguatkan hati Cihe, agar meskipun tubuhnya sakit, tetapi hatinya tetap sehat - seperti kata Firman Tuhan dalam Amsal 17:22, "hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang". Ketika saya menengok Cihe kemarin, saya lihat meskipun masih agak pucat, tapi Cihe lebih bersemangat untuk menjalani pemulihan. Saya yakin, Cihe pasti bisa pulih lagi!
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak agar semua wanita lebih hati-hati akan bahaya kanker rahim. Silahkan googling untuk informasi mengenai gejala, penyebab, dan pencegahan kanker rahim. Marilah kita pelihara dengan baik organ tubuh yang Tuhan berikan hanya kepada kaum hawa ini. Pesan saya, apabila terjadi gejala yang mengarah pada kanker rahim, segera periksakan ke spesialis penyakit kandungan. Ingatlah bahwa kanker rahim bisa berkembang dalam hitungan hari dan bisa menyebabkan kematian. Kedua, marilah kita jalani pola hidup yang sehat. Kebanyakan penyakit berbahaya seperti kanker bisa dicegah dengan rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, menjauhi rokok/obat-obatan terlarang/seks yang tidak sehat, serta melakukan aktivitas relaksasi yang positif agar terhindar dari stress. Kebanyakan dari kita mengorbankan kesehatan demi pekerjaan atau uang - tapi apalah arti segunung uang kalau kita sakit-sakitan dan akhirnya mati juga? Ketiga, apabila kita memang berdiagnosis memiliki kanker rahim, ataupun penyakit apapun, jangan patah semangat atau menyerah begitu saja. Berdoa dan berusahalah, jangan sia-siakan hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita. Hidup dan mati kita memang berada di tangan Tuhan, tapi saat hidup maupun saat mati, tetaplah kita percaya dan setia kepada Tuhan.
God bless you, all!
Rabu, 18 Juli 2012
Sekolah di Preschool : First days!
Minggu kemarin, Reina ( 2 tahun 4 bulan ) mulai bersekolah di TK BPK Penabur 246 Bandung, di jenjang "toddler". Tantangannya cukup berat, karena selain sifat Nana yang takut pada situasi/orang baru, dia juga sedang tidak enak badan. Tapi saya tetap membawanya ke sekolah, sekedar untuk mengenalkan lingkungan kelas. Seperti dugaan, Nana menolak masuk kelas. Hari kedua juga sama, Nana nangis sejadi-jadinya. Tapi hari ketiga dan selanjutnya, Nana mulai menunjukkan progress yang positif. Dia tidak menangis lagi, bisa mengikuti instruksi miss (guru), dan bisa mengikuti aktivitas kelas. Syukurlah!
Hari-hari pertama sekolah, terutama di jenjang preschool, tentunya menjadi buah simalakama bagi orang tua. Di satu sisi, tentunya orangtua ingin anak-anaknya bisa mengembangkan kemampuannya di sekolah. Di sisi lain, orangtua juga tentunya merasa kasihan melihat anak-anak yang menangis karena merasa jauh dari orangtuanya. Saya juga merasakannya. Di sekolah, saya banyak mengobrol dengan orangtua yang lebih berpengalaman, dalam artian lebih dewasa dari saya dan lebih berpengalaman dalam menyekolahkan anak. Dari hasil obrolan itu, saya menyimpulkan beberapa hal :
1. Sebaiknya orangtua "merelakan" anak-anaknya di dalam kelas tanpa didampingi, terutama pada hari ketiga sekolah dan selanjutnya. Jika orangtua ragu-ragu (misalnya mengintip ruang kelas, ragu saat menyerahkan anak pada guru), maka anak akan menganggap bahwa guru adalah orang lain yang mencoba mengambil/merebut dirinya dari orangtuanya.
2. Berikan pengertian pada anak bahwa sekolah bukan berarti orangtuanya meninggalkannya, tapi sekolah menawarkan seribu satu aktivitas yang tidak ditemukan di rumah. Sebagai contoh, saya sering mengajak Nana mengobrol seperti ini: "Na, di sekolah asyik banget ya? Kalau di rumah 'kan Nana main sama Mbak Ayu doang, tapi kalau di sekolah ada Richel, ada Elston, ada Nada, ada Elvina, ada Jay, ada Edward, ada Miss Yenna, ada Miss Zanneta, dan ada Miss Camel. Banyak ya!" Jelaskan pada anak-anak bahwa di sekolah dia bisa bermain sambil belajar bersama guru yang baik dan pandai, serta bersenang-senang dengan teman-teman seusianya yang mungkin sulit ditemukan di lingkungan rumah. Cara memberikan pengertian bisa dengan mengobrol dengan bahasa yang sederhana. Ingat nama-nama guru dan teman sekelas anak, sebutkan nama-nama itu di rumah.
3. Jelaskan juga bahwa orangtua tidak bisa mendampingi anak-anak di sekolah, dengan alasan yang sederhana dan bisa diterima anak. Saat pertama meninggalkan Nana sekolah, suami saya berkata pada Nana : "Nana main di kelas sama Miss dan teman-teman ya, Papih dan Mamih tunggu di luar. Soalnya kelas 'kan buat anak-anak kecil, jadi Mamih dan Papih nggak boleh di sini." Awalnya Nana tidak terima, tapi pada hari keempat, Nana rela lepas dari gendongan papanya dan beringsut-ingsut ke kelas dengan ucapan itu.
4. Pujilah penampilan anak saat mengenakan perlengkapan sekolah. Saat anak-anak menggunakan seragam, membawa tas, memakai kaos kaki dan sepatu sekolah, pujilah mereka dengan ekspresi yang kagum. Katakan kalau mereka cantik atau tampan, gagah, dan keren. Kalau perlu, foto mereka dengan kamera HP dan segera tunjukkan foto mereka.
5. Sebaiknya orangtua bangun lebih pagi dan mempersiapkan segalanya lebih baik. Jangan terburu-buru karena anak akan merasa khawatir. Jaga mood anak pada pagi hari supaya dia tidak merasa bete dan keberatan masuk ke dalam kelas. Jika anak menolak sarapan, jangan dipaksa. Beri susu atau biskuit yang dia suka. Pola sarapan yang baik bisa diterapkan setelah dia terbiasa ke sekolah. Berusahalah untuk tidak marah pada ketika anak hendak ke sekolah meskipun dia rewel, sebaliknya sebaiknya tunjukkan bahwa orangtua juga bersemangat.
6. Tanyalah pada guru, kegiatan apa yang mereka lakukan di kelas. Setelah itu, ulangi di rumah. Tanya juga pada anak apa yang mereka kerjakan, dan tanyalah lagu apa yang tadi mereka nyanyikan. Bila mereka merespon pertanyaan kita, berilah pujian dan senyuman bangga. Katakan pada mereka betapa hebatnya mereka bisa melakukan hal-hal tersebut. Tanyalah apakah mereka menangis atau tidak, dan katakan betapa bangganya kita apabila anak tidak menangis.
Saya rasa itu adalah tips-tips dari para orangtua yang saya temui di sekolah, dan setelah saya coba, hasilnya cukup memuaskan. Masih banyak yang harus Nana lalui, tapi saya yakin dia pasti bisa. Ganbatte kudasai, Reina-chan!
Hari-hari pertama sekolah, terutama di jenjang preschool, tentunya menjadi buah simalakama bagi orang tua. Di satu sisi, tentunya orangtua ingin anak-anaknya bisa mengembangkan kemampuannya di sekolah. Di sisi lain, orangtua juga tentunya merasa kasihan melihat anak-anak yang menangis karena merasa jauh dari orangtuanya. Saya juga merasakannya. Di sekolah, saya banyak mengobrol dengan orangtua yang lebih berpengalaman, dalam artian lebih dewasa dari saya dan lebih berpengalaman dalam menyekolahkan anak. Dari hasil obrolan itu, saya menyimpulkan beberapa hal :
1. Sebaiknya orangtua "merelakan" anak-anaknya di dalam kelas tanpa didampingi, terutama pada hari ketiga sekolah dan selanjutnya. Jika orangtua ragu-ragu (misalnya mengintip ruang kelas, ragu saat menyerahkan anak pada guru), maka anak akan menganggap bahwa guru adalah orang lain yang mencoba mengambil/merebut dirinya dari orangtuanya.
2. Berikan pengertian pada anak bahwa sekolah bukan berarti orangtuanya meninggalkannya, tapi sekolah menawarkan seribu satu aktivitas yang tidak ditemukan di rumah. Sebagai contoh, saya sering mengajak Nana mengobrol seperti ini: "Na, di sekolah asyik banget ya? Kalau di rumah 'kan Nana main sama Mbak Ayu doang, tapi kalau di sekolah ada Richel, ada Elston, ada Nada, ada Elvina, ada Jay, ada Edward, ada Miss Yenna, ada Miss Zanneta, dan ada Miss Camel. Banyak ya!" Jelaskan pada anak-anak bahwa di sekolah dia bisa bermain sambil belajar bersama guru yang baik dan pandai, serta bersenang-senang dengan teman-teman seusianya yang mungkin sulit ditemukan di lingkungan rumah. Cara memberikan pengertian bisa dengan mengobrol dengan bahasa yang sederhana. Ingat nama-nama guru dan teman sekelas anak, sebutkan nama-nama itu di rumah.
3. Jelaskan juga bahwa orangtua tidak bisa mendampingi anak-anak di sekolah, dengan alasan yang sederhana dan bisa diterima anak. Saat pertama meninggalkan Nana sekolah, suami saya berkata pada Nana : "Nana main di kelas sama Miss dan teman-teman ya, Papih dan Mamih tunggu di luar. Soalnya kelas 'kan buat anak-anak kecil, jadi Mamih dan Papih nggak boleh di sini." Awalnya Nana tidak terima, tapi pada hari keempat, Nana rela lepas dari gendongan papanya dan beringsut-ingsut ke kelas dengan ucapan itu.
4. Pujilah penampilan anak saat mengenakan perlengkapan sekolah. Saat anak-anak menggunakan seragam, membawa tas, memakai kaos kaki dan sepatu sekolah, pujilah mereka dengan ekspresi yang kagum. Katakan kalau mereka cantik atau tampan, gagah, dan keren. Kalau perlu, foto mereka dengan kamera HP dan segera tunjukkan foto mereka.
5. Sebaiknya orangtua bangun lebih pagi dan mempersiapkan segalanya lebih baik. Jangan terburu-buru karena anak akan merasa khawatir. Jaga mood anak pada pagi hari supaya dia tidak merasa bete dan keberatan masuk ke dalam kelas. Jika anak menolak sarapan, jangan dipaksa. Beri susu atau biskuit yang dia suka. Pola sarapan yang baik bisa diterapkan setelah dia terbiasa ke sekolah. Berusahalah untuk tidak marah pada ketika anak hendak ke sekolah meskipun dia rewel, sebaliknya sebaiknya tunjukkan bahwa orangtua juga bersemangat.
6. Tanyalah pada guru, kegiatan apa yang mereka lakukan di kelas. Setelah itu, ulangi di rumah. Tanya juga pada anak apa yang mereka kerjakan, dan tanyalah lagu apa yang tadi mereka nyanyikan. Bila mereka merespon pertanyaan kita, berilah pujian dan senyuman bangga. Katakan pada mereka betapa hebatnya mereka bisa melakukan hal-hal tersebut. Tanyalah apakah mereka menangis atau tidak, dan katakan betapa bangganya kita apabila anak tidak menangis.
Saya rasa itu adalah tips-tips dari para orangtua yang saya temui di sekolah, dan setelah saya coba, hasilnya cukup memuaskan. Masih banyak yang harus Nana lalui, tapi saya yakin dia pasti bisa. Ganbatte kudasai, Reina-chan!
Minggu, 17 Juni 2012
Father Day
Ketika sedang googling, tanpa sengaja saya menemukan foto ini.
Ini adalah foto seorang narapidana di sebuah penjara Amerika Serikat yang dipertemukan dengan keluarganya pada perayaan Hari Ayah. Foto ini membuat saya sesaat termenung... ada seribu perasaan yang terlukis dalam wajah-wajah itu. Seorang narapidana yang identik dengan kekerasan dan kejahatan, ternyata bisa menunjukkan wajah selembut itu bersama keluarganya. Sangat menyentuh!
Sesaat saya jadi teringat pada papa saya sendiri. Beliau bukan narapidana (meskipun saya dengar beliau pernah ditahan polisi karena kasus kekerasan pada saat masih bujangan), tapi papa adalah orang yang tidak kalah keras dan galak dari narapidana sekalipun. Bahkan saya sendiri sering bertengkar atau setidaknya beradu argumen dengan papa. Tapi mau sekeras apapun, he's my father and I love him so much.
Papa adalah seorang pekerja keras, dia mendedikasikan dirinya pada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dia bahkan mengorbankan waktu dan kesehatannya demi pekerjaan. Tapi papa selalu memberikan waktu bagi saya dan keluarga. That's why I really look up to him. Meskipun tidak sempurna, gampang marah, sering salah paham, tapi papa selalu berusaha untuk mengerti anak-anaknya dan tidak ragu meminta maaf jika salah. Dia juga tidak pernah ragu untuk membela orang yang ditindas atau difitnah. Oleh karena itulah, meskipun temperamennya keras, tapi papa sangat disukai banyak orang!
These are my latest memory about my beloved daddy:
May 2008, saat saya engagement.
July 2008, saat saya graduation.
April 2009, saat saya menikah.
April 2009, saat pemberkatan. He was crying so hard.
March 2011, saat ulang tahun pertama putri saya, Reina.
Selasa, 12 Juni 2012
Pengalaman Pertama Mengajukan KPR
Hari ini, saya dan keluarga menyelesaikan proses pengurusan KPR dan melakukan akad kredit. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti akad kredit, dan awalnya saya agak bingung apa yang harus saya lakukan. Tapi ternyata, prosesnya tidak serumit kelihatannya. Hanya dalam waktu satu setengah jam (itu pun satu jam pertama dihabiskan untuk menunggu kehadiran notaris dan developer), semua selesai. I officially own that new house.
Secara kronologis, inilah proses pengajuan KPR yang saya lakukan dengan Bank OCBC NISP.
1. Saya menyetorkan uang muka 20% kepada pihak developer sebagai tanda jadi. Saya berkata akan mengambil KPR di OCBC NISP karena saya adalah nasabah bank tersebut.
2. Sebelum saya mengajukan KPR, Ibu X dari OCBC NISP menelepon saya (sampai sekarang saya tidak tahu apa jabatan beliau), dan menawarkan diri untuk mengurus KPR yang saya butuhkan. Rupanya sang developer berinisiatif untuk menelepon Ibu X.
3. Saya bertanya bagaimana sebaiknya saya mengajukan kredit supaya pinjaman yang saya peroleh maksimal, apakah dengan joint income, atau personal guarantee. Saya menceritakan bahwa saya dan suami sama-sama bekerja; saya bekerja di perusahaan keluarga, sementara suami berwiraswasta namun masih perseorangan (belum dilembagakan). Namun Ibu X tidak bisa memberikan saran, dan saya memutuskan akan berkonsultasi dulu dengan seorang kenalan saya, yaitu Bapak Y. Bapak Y adalah Branch Manager salah satu cabang OCBC NISP yang telah mengurus berbagai urusan perbankan orangtua, termasuk perusahaan orangtua di mana saya bekerja. Ibu X berkata bahwa dia kenal Bapak Y dan dia juga setuju dengan langkah saya tersebut.
4. Saya menghubungi seorang Bapak Y dan beliau menyarankan agar pengajuan dilakukan oleh saya, dengan perusahaan sebagai penjamin. Kami pun mengikuti saran Bapak Y. Bapak Y berjanji akan berkoordinasi dengan Ibu X untuk mengurus KPR saya.
5. Saya mempersiapkan semua surat-surat yang dibutuhkan, yaitu surat penawaran rumah dari developer, fotokopi KTP dan NPWP, surat nikah, kartu keluarga, dan SPT. Semua berkas diserahkan kepada Ibu X.
6. Kira-kira seminggu kemudian, Ibu X berkata kalau dia akan datang ke perusahaan untuk observasi. Dia mengambil foto gudang, tempat proses, para pegawai yang sedang bekerja, serta kantor. Dia juga meminta data penjualan dan pembelian perusahaan selama enam bulan terakhir. Semuanya saya lengkapi. Dia berkata bahwa sebenarnya KPR sudah diapproval, namun dia masih membutuhkan data pelengkap saja. Sebelum pulang, dia bertanya kapan saya ingin akad kredit, lalu saya katakan secepatnya.
7. Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari Ibu X. Saya menelepon, tapi tidak diangkat. Saya menghubungi Bapak Y, dan berkata kalau Ibu X sedang cuti.
8. Tiga hari kemudian, Bapak Y menelepon lagi kalau cuti Ibu X diperpanjang. Dia berkata telah mengusahakan agar bisa diurus oleh orang lain, namun berkas-berkas saya disimpan Ibu X sehingga tidak bisa diproses oleh atasannya.
9. Dua minggu setelah penyerahan berkas, Ibu X datang lagi ke perusahaan bersama atasannya, yaitu Ibu Z. Ibu Z berkata kalau dia membutuhkan konfirmasi atas data-data yang saya serahkan melalui Ibu X. Rupanya Ibu X lupa mengenai penjelasan saya.
10. Beberapa hari kemudian, Ibu X memberitahu saya bahwa sekarang bank tidak bisa memberikan pinjaman sebesar 80% dari harga rumah yang diajukan, melainkan hanya maksimal 70%. Karena tidak ada pilihan lain, saya setuju. Ibu X mengirimkan SMS berisi biaya yang harus saya siapkan (provisi 1.5%, asuransi jiwa dan kebakaran, biaya notaris, administrasi, dll).
11. Besoknya, saya segera pergi ke bank untuk mentransfer sisa uang muka yang harus saya lunasi. Di sana, tanpa sengaja saya bertemu Bapak Y. Saya memberitahu mengenai biaya-biaya tersebut dan bertanya apakah ada kelonggaran karena saya baca melalui internet, banyak yang bilang kalau provisi biasanya 1% saja. Bapak Y segera menelepon Ibu X agar provisi saya ditinjau lagi. Beliau juga meminta agar Ibu X segera mengirimkan SPPK untuk saya pelajari. Sorenya, Bapak Y menelepon saya, memberitahukan bahwa biaya yang harus saya bayarkan berkurang karena provisi dipotong hingga menjadi 1% saja, dan biaya notaris dipotong setengahnya.
12. Besoknya, surat SPPK belum saya terima. Lusanya adalah hari Sabtu, sehingga saya menunggu sampai Senin.
13. Hari Senin, surat SPPK masih belum saya terima. Saya mencoba menghubungi Ibu X, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya SMS saja.
14. Hari Selasa, surat SPPK dikirim lewat e-mail. Saya mempelajari semuanya dan sudah sesuai. Saya menelepon Ibu X, bertanya apa yang harus saya persiapkan selanjutnya, tapi beliau berkata semua sudah selesai. Saya hanya tinggal menunggu jadwal akad kredit.
15. Hari Jumat, Ibu X menelepon untuk memberitahu bahwa jadwal akad kredit saya adalah Selasa, 12 Juni, pukul 8 pagi. Dia menyuruh saya membawa KTP asli, surat nikah, dan KK yang asli. Dia juga berjanji akan meng-SMS angka BPHTB yang harus saya bayarkan, namun sampai hari Selasa, sms itu tidak datang.
16. Tanggal 12 Juni, pukul setengah delapan pagi, Ibu X menelepon saya; beliau memberi tahu bahwa biaya yang harus dibayarkan saya dan developer adalah sekitar 50 juta rupiah, namun dia tidak tahu berapa yang dibebankan pada saya. Bukan itu saja, Ibu X berkata bahwa uang itu harus saya bawa cash alias tunai! Saya keberatan karena informasi itu tidak diberitahu sebelumnya, dan saat itu masih pagi sehingga bank belum beroperasi (sebagai informasi, bisnis yang dilakukan oleh keluarga kebanyakan menggunakan bank note atau dollar US sehingga kami jarang memegang uang cash dalam jumlah besar berbentuk Rupiah. Tentu saja saya harus menjual Dollar dulu!)
17. Saat akad kredit, pihak developer membawa uang cash sebesar 50 juta rupiah sehingga saya "dipinjamkan" dulu.
18. Akad kredit dilakukan tanpa Ibu X maupun Bapak Y. Yang ada saat itu adalah officer Bagian Legal yaitu Ibu R, notaris dan sekretarisnya, pihak saya, dan pihak developer. Akad kredit diselesaikan tanpa masalah.
19. Usai akad kredit, barulah saya ke teller untuk menjual dollar dan membayarkan "hutang" saya kepada developer.
20. Urusan dengan Bank selesai, dan saya tinggal menunggu serah terima karena rumah yang hendak saya jual belum sepenuhnya selesai finishing.
Itulah pengalaman saya mengajukan KPR. Terus terang saya kecewa dengan kinerja Ibu X yang lambat, tidak responsif, dan berkesan tidak serius. Walaupun demikian, saya tidak ingin mempermasalahkannya karena masih banyak urusan lain yang perlu saya bereskan. Tapi tentu saja, jika ada teman atau saudara yang ingin mengajukan kredit, saya tidak akan merekomendasikan beliau. Walaupun demikian, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Y yang sudah banyak membantu saya melakukan pengajuan kredit untuk pertama kalinya, serta kepada Bank OCBC NISP yang bersikap cukup fleksibel menangani permohonan KPR saya. Thank God, finally it's done!
Secara kronologis, inilah proses pengajuan KPR yang saya lakukan dengan Bank OCBC NISP.
1. Saya menyetorkan uang muka 20% kepada pihak developer sebagai tanda jadi. Saya berkata akan mengambil KPR di OCBC NISP karena saya adalah nasabah bank tersebut.
2. Sebelum saya mengajukan KPR, Ibu X dari OCBC NISP menelepon saya (sampai sekarang saya tidak tahu apa jabatan beliau), dan menawarkan diri untuk mengurus KPR yang saya butuhkan. Rupanya sang developer berinisiatif untuk menelepon Ibu X.
3. Saya bertanya bagaimana sebaiknya saya mengajukan kredit supaya pinjaman yang saya peroleh maksimal, apakah dengan joint income, atau personal guarantee. Saya menceritakan bahwa saya dan suami sama-sama bekerja; saya bekerja di perusahaan keluarga, sementara suami berwiraswasta namun masih perseorangan (belum dilembagakan). Namun Ibu X tidak bisa memberikan saran, dan saya memutuskan akan berkonsultasi dulu dengan seorang kenalan saya, yaitu Bapak Y. Bapak Y adalah Branch Manager salah satu cabang OCBC NISP yang telah mengurus berbagai urusan perbankan orangtua, termasuk perusahaan orangtua di mana saya bekerja. Ibu X berkata bahwa dia kenal Bapak Y dan dia juga setuju dengan langkah saya tersebut.
4. Saya menghubungi seorang Bapak Y dan beliau menyarankan agar pengajuan dilakukan oleh saya, dengan perusahaan sebagai penjamin. Kami pun mengikuti saran Bapak Y. Bapak Y berjanji akan berkoordinasi dengan Ibu X untuk mengurus KPR saya.
5. Saya mempersiapkan semua surat-surat yang dibutuhkan, yaitu surat penawaran rumah dari developer, fotokopi KTP dan NPWP, surat nikah, kartu keluarga, dan SPT. Semua berkas diserahkan kepada Ibu X.
6. Kira-kira seminggu kemudian, Ibu X berkata kalau dia akan datang ke perusahaan untuk observasi. Dia mengambil foto gudang, tempat proses, para pegawai yang sedang bekerja, serta kantor. Dia juga meminta data penjualan dan pembelian perusahaan selama enam bulan terakhir. Semuanya saya lengkapi. Dia berkata bahwa sebenarnya KPR sudah diapproval, namun dia masih membutuhkan data pelengkap saja. Sebelum pulang, dia bertanya kapan saya ingin akad kredit, lalu saya katakan secepatnya.
7. Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari Ibu X. Saya menelepon, tapi tidak diangkat. Saya menghubungi Bapak Y, dan berkata kalau Ibu X sedang cuti.
8. Tiga hari kemudian, Bapak Y menelepon lagi kalau cuti Ibu X diperpanjang. Dia berkata telah mengusahakan agar bisa diurus oleh orang lain, namun berkas-berkas saya disimpan Ibu X sehingga tidak bisa diproses oleh atasannya.
9. Dua minggu setelah penyerahan berkas, Ibu X datang lagi ke perusahaan bersama atasannya, yaitu Ibu Z. Ibu Z berkata kalau dia membutuhkan konfirmasi atas data-data yang saya serahkan melalui Ibu X. Rupanya Ibu X lupa mengenai penjelasan saya.
10. Beberapa hari kemudian, Ibu X memberitahu saya bahwa sekarang bank tidak bisa memberikan pinjaman sebesar 80% dari harga rumah yang diajukan, melainkan hanya maksimal 70%. Karena tidak ada pilihan lain, saya setuju. Ibu X mengirimkan SMS berisi biaya yang harus saya siapkan (provisi 1.5%, asuransi jiwa dan kebakaran, biaya notaris, administrasi, dll).
11. Besoknya, saya segera pergi ke bank untuk mentransfer sisa uang muka yang harus saya lunasi. Di sana, tanpa sengaja saya bertemu Bapak Y. Saya memberitahu mengenai biaya-biaya tersebut dan bertanya apakah ada kelonggaran karena saya baca melalui internet, banyak yang bilang kalau provisi biasanya 1% saja. Bapak Y segera menelepon Ibu X agar provisi saya ditinjau lagi. Beliau juga meminta agar Ibu X segera mengirimkan SPPK untuk saya pelajari. Sorenya, Bapak Y menelepon saya, memberitahukan bahwa biaya yang harus saya bayarkan berkurang karena provisi dipotong hingga menjadi 1% saja, dan biaya notaris dipotong setengahnya.
12. Besoknya, surat SPPK belum saya terima. Lusanya adalah hari Sabtu, sehingga saya menunggu sampai Senin.
13. Hari Senin, surat SPPK masih belum saya terima. Saya mencoba menghubungi Ibu X, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya SMS saja.
14. Hari Selasa, surat SPPK dikirim lewat e-mail. Saya mempelajari semuanya dan sudah sesuai. Saya menelepon Ibu X, bertanya apa yang harus saya persiapkan selanjutnya, tapi beliau berkata semua sudah selesai. Saya hanya tinggal menunggu jadwal akad kredit.
15. Hari Jumat, Ibu X menelepon untuk memberitahu bahwa jadwal akad kredit saya adalah Selasa, 12 Juni, pukul 8 pagi. Dia menyuruh saya membawa KTP asli, surat nikah, dan KK yang asli. Dia juga berjanji akan meng-SMS angka BPHTB yang harus saya bayarkan, namun sampai hari Selasa, sms itu tidak datang.
16. Tanggal 12 Juni, pukul setengah delapan pagi, Ibu X menelepon saya; beliau memberi tahu bahwa biaya yang harus dibayarkan saya dan developer adalah sekitar 50 juta rupiah, namun dia tidak tahu berapa yang dibebankan pada saya. Bukan itu saja, Ibu X berkata bahwa uang itu harus saya bawa cash alias tunai! Saya keberatan karena informasi itu tidak diberitahu sebelumnya, dan saat itu masih pagi sehingga bank belum beroperasi (sebagai informasi, bisnis yang dilakukan oleh keluarga kebanyakan menggunakan bank note atau dollar US sehingga kami jarang memegang uang cash dalam jumlah besar berbentuk Rupiah. Tentu saja saya harus menjual Dollar dulu!)
17. Saat akad kredit, pihak developer membawa uang cash sebesar 50 juta rupiah sehingga saya "dipinjamkan" dulu.
18. Akad kredit dilakukan tanpa Ibu X maupun Bapak Y. Yang ada saat itu adalah officer Bagian Legal yaitu Ibu R, notaris dan sekretarisnya, pihak saya, dan pihak developer. Akad kredit diselesaikan tanpa masalah.
19. Usai akad kredit, barulah saya ke teller untuk menjual dollar dan membayarkan "hutang" saya kepada developer.
20. Urusan dengan Bank selesai, dan saya tinggal menunggu serah terima karena rumah yang hendak saya jual belum sepenuhnya selesai finishing.
Itulah pengalaman saya mengajukan KPR. Terus terang saya kecewa dengan kinerja Ibu X yang lambat, tidak responsif, dan berkesan tidak serius. Walaupun demikian, saya tidak ingin mempermasalahkannya karena masih banyak urusan lain yang perlu saya bereskan. Tapi tentu saja, jika ada teman atau saudara yang ingin mengajukan kredit, saya tidak akan merekomendasikan beliau. Walaupun demikian, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Y yang sudah banyak membantu saya melakukan pengajuan kredit untuk pertama kalinya, serta kepada Bank OCBC NISP yang bersikap cukup fleksibel menangani permohonan KPR saya. Thank God, finally it's done!
Kamis, 07 Juni 2012
Finding New Home
Sudah sejak sebulan yang lalu, saya disibukkan dengan proses pembelian rumah dan pengajuan KPR ke bank OCBC NISP. Ini pertama kalinya saya membeli rumah dengan fasilitas KPR, dan ternyata lumayan melelahkan juga. Tapi nggak apa-apa deh, setidaknya jadi pengalaman berharga.
Alasan saya membeli rumah adalah karena sebentar lagi putri saya akan sekolah (toddler), dan rumah kami yang sekarang tidak ada sekolah Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah bekas di sekitar tempat usaha suami, dengan harga kisaran 350 sampai 400 juta. Kami mengajak mama hunting rumah, sebab kami pikir orangtua mempunyai pemikiran yang lebih matang daripada anak muda. Namun setelah seharian berkeliling, tidak ada satupun yang cocok. Hari sudah sore sehingga kami memutuskan untuk pulang.
Namun dalam perjalanan pulang, kami mampir di sebuah perumahaan baru yang tidak terlalu besar. Unit yang tersisa hanya tinggal dua, namun mama merasa cocok sekali dengan perumahaan itu. Suami juga suka rumah itu, begitu pula putri kami yang baru berusia 2 tahun. Dia langsung betah, berlari-lari gembira di rumah yang masih kotor. Sayangnya, developer tidak mau menerima "uang tanda jadi". Dia bilang, jika berminat, kami harus segera melunasi DP sebesar 20%. Memang sih, perumahan itu laku banget. Kami hanya diberi waktu dua hari untuk menyetorkan DP, itu pun terpotong hari Minggu.
Kami pulang dengan menyisakan perdebatan. Bagi orang seukuran saya, harga rumah itu terlalu tinggi, 700 juta. 20%-nya saja sudah 140juta. Padahal saya hanya menyediakan dana untuk DP sebesar 70-80 juta rupiah. Suami juga tidak mau memaksakan, dia khawatir DP yang terlalu besar akan mengganggu cash flow. Namun, mama merasa rumah itu lebih cocok untuk keluarga kami. Akhirnya mama bersedia menutupi sebagian uang DP dengan tabungan pribadinya. Orangtua suami juga bersedia menambahkan untuk PPN yang nilainya cukup besar. Beliau merasa antusias karena rumah yang akan kami beli lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mereka.
Alhasil, saya dan suami "gagal" membeli rumah dengan usaha kami sendiri karena lagi-lagi orangtua memberikan subsidi. Di satu sisi kami bersyukur karena mempunyai orangtua yang selalu menginginkan segala yang terbaik bagi anak dan cucunya, tapi di sisi lain saya merasa tidak kunjung "dewasa dan mandiri". Mungkin itu resikonya menikah di usia muda. Saya dan suami langsung mengatur strategi agar cicilan rumah bisa kami tangani sendiri - sebagai pembuktian pada diri sendiri bahwa kami bisa menyelesaikan apa yang kami mulai, tanpa perlu merepotkan orangtua lebih jauh lagi.
Ya, itulah pengalaman pertama kami mencari rumah baru. Saya harap semuanya lancar. Sampai sekarang kami masih mengurus proses KPR yang hanya tinggal menunggu akad kredit saja. Semangat!
Alasan saya membeli rumah adalah karena sebentar lagi putri saya akan sekolah (toddler), dan rumah kami yang sekarang tidak ada sekolah Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah bekas di sekitar tempat usaha suami, dengan harga kisaran 350 sampai 400 juta. Kami mengajak mama hunting rumah, sebab kami pikir orangtua mempunyai pemikiran yang lebih matang daripada anak muda. Namun setelah seharian berkeliling, tidak ada satupun yang cocok. Hari sudah sore sehingga kami memutuskan untuk pulang.
Namun dalam perjalanan pulang, kami mampir di sebuah perumahaan baru yang tidak terlalu besar. Unit yang tersisa hanya tinggal dua, namun mama merasa cocok sekali dengan perumahaan itu. Suami juga suka rumah itu, begitu pula putri kami yang baru berusia 2 tahun. Dia langsung betah, berlari-lari gembira di rumah yang masih kotor. Sayangnya, developer tidak mau menerima "uang tanda jadi". Dia bilang, jika berminat, kami harus segera melunasi DP sebesar 20%. Memang sih, perumahan itu laku banget. Kami hanya diberi waktu dua hari untuk menyetorkan DP, itu pun terpotong hari Minggu.
Kami pulang dengan menyisakan perdebatan. Bagi orang seukuran saya, harga rumah itu terlalu tinggi, 700 juta. 20%-nya saja sudah 140juta. Padahal saya hanya menyediakan dana untuk DP sebesar 70-80 juta rupiah. Suami juga tidak mau memaksakan, dia khawatir DP yang terlalu besar akan mengganggu cash flow. Namun, mama merasa rumah itu lebih cocok untuk keluarga kami. Akhirnya mama bersedia menutupi sebagian uang DP dengan tabungan pribadinya. Orangtua suami juga bersedia menambahkan untuk PPN yang nilainya cukup besar. Beliau merasa antusias karena rumah yang akan kami beli lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mereka.
Alhasil, saya dan suami "gagal" membeli rumah dengan usaha kami sendiri karena lagi-lagi orangtua memberikan subsidi. Di satu sisi kami bersyukur karena mempunyai orangtua yang selalu menginginkan segala yang terbaik bagi anak dan cucunya, tapi di sisi lain saya merasa tidak kunjung "dewasa dan mandiri". Mungkin itu resikonya menikah di usia muda. Saya dan suami langsung mengatur strategi agar cicilan rumah bisa kami tangani sendiri - sebagai pembuktian pada diri sendiri bahwa kami bisa menyelesaikan apa yang kami mulai, tanpa perlu merepotkan orangtua lebih jauh lagi.
Ya, itulah pengalaman pertama kami mencari rumah baru. Saya harap semuanya lancar. Sampai sekarang kami masih mengurus proses KPR yang hanya tinggal menunggu akad kredit saja. Semangat!
Kamis, 24 Mei 2012
Friendship and Marriage
Setiap manusia pasti membutuhkan sahabat. Meskipun tidak semua orang pandai bersahabat, tapi saya yakin pada dasarnya manusia membutuhkan keberadaan sahabat. Sewaktu kita sekolah, seringkali keberadaan sahabat menjadi poin krusial yang menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak.
Setelah menikah, kedudukan sahabat dalam hidup kita bergeser akibat munculnya peran-peran baru (sekaligus tanggung jawab baru) yang mesti kita lakukan. Bagi saya semua itu adalah hal yang wajar, sebab sudah kodratnya bagi manusia untuk lebih memperhatikan keluarganya, apalagi jika pernikahan itu baru seumur jagung. Walaupun demikian, persahabatan tidak boleh dibiarkan mati karena terlindas pernikahan. Meskipun seseorang telah menikah, dia tetap membutuhkan komunitas di mana dia dapat bertumbuh menjadi makhluk sosial yang positif dan sehat.
Walaupun demikian, setelah beberapa tahun menikah, saya baru merasakan bahwa persahabatan dan pernikahan tidak selamanya meluncur mulus. Sebagai seorang istri yang bekerja dan ibu dari seorang anak batita, saya merasakan bagaimana sulitnya mencari kesempatan untuk hang out dengan teman-teman lama. Sebagian besar sahabat saya tinggal/bekerja di luar kota, beberapa di luar negeri, sehingga jarang sekali saya bisa bertemu mereka. Dalam setahun, paling hanya satu kali saja saya bisa bertatap muka dengan mereka. Satu-satunya sahabat dekat yang masih tinggal sekota adalah teman sejak SMP, seorang cowok dan masih bujangan. Namun sebagai seorang wanita yang sudah menikah, saya menemui segudang kendala untuk bersahabat dengan seorang pria berstatus jomblo.
Cross-sex friendship (CSF) atau persahabatan dengan lawan jenis ternyata tidak semudah itu diterima oleh masyarakat. Umumnya mereka mengaitkan CSF dengan keinginan untuk affair/perselingkuhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka beranggapan sepolos itu, terutama jika CSF itu berlangsung sejak lama atau sejak kecil. Saya pikir, jika memang saya tertarik pada sahabat saya itu, tentunya sudah sejak dulu pun saya sudah pacaran dengannya. Justru karena saya merasa nyaman bersahabat dengannya, maka persahabatan itu bisa kami jaga dari remaja sampai sekarang. Apakah argumentasi itu cukup bagi orang lain untuk tidak berprasangka negatif? Sayangnya, jawabannya adalah tidak cukup. Silahkan cek lewat search engine mengenai CSF, banyak pendapat yang menolak atau setidaknya membatasi. Rupanya, persahabatan antara seorang wanita menikah dengan pria jomblo tetap menuai kontroversi, bahkan di negara bebas sekalipun.
Setelah menikah, kedudukan sahabat dalam hidup kita bergeser akibat munculnya peran-peran baru (sekaligus tanggung jawab baru) yang mesti kita lakukan. Bagi saya semua itu adalah hal yang wajar, sebab sudah kodratnya bagi manusia untuk lebih memperhatikan keluarganya, apalagi jika pernikahan itu baru seumur jagung. Walaupun demikian, persahabatan tidak boleh dibiarkan mati karena terlindas pernikahan. Meskipun seseorang telah menikah, dia tetap membutuhkan komunitas di mana dia dapat bertumbuh menjadi makhluk sosial yang positif dan sehat.
Walaupun demikian, setelah beberapa tahun menikah, saya baru merasakan bahwa persahabatan dan pernikahan tidak selamanya meluncur mulus. Sebagai seorang istri yang bekerja dan ibu dari seorang anak batita, saya merasakan bagaimana sulitnya mencari kesempatan untuk hang out dengan teman-teman lama. Sebagian besar sahabat saya tinggal/bekerja di luar kota, beberapa di luar negeri, sehingga jarang sekali saya bisa bertemu mereka. Dalam setahun, paling hanya satu kali saja saya bisa bertatap muka dengan mereka. Satu-satunya sahabat dekat yang masih tinggal sekota adalah teman sejak SMP, seorang cowok dan masih bujangan. Namun sebagai seorang wanita yang sudah menikah, saya menemui segudang kendala untuk bersahabat dengan seorang pria berstatus jomblo.
Cross-sex friendship (CSF) atau persahabatan dengan lawan jenis ternyata tidak semudah itu diterima oleh masyarakat. Umumnya mereka mengaitkan CSF dengan keinginan untuk affair/perselingkuhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka beranggapan sepolos itu, terutama jika CSF itu berlangsung sejak lama atau sejak kecil. Saya pikir, jika memang saya tertarik pada sahabat saya itu, tentunya sudah sejak dulu pun saya sudah pacaran dengannya. Justru karena saya merasa nyaman bersahabat dengannya, maka persahabatan itu bisa kami jaga dari remaja sampai sekarang. Apakah argumentasi itu cukup bagi orang lain untuk tidak berprasangka negatif? Sayangnya, jawabannya adalah tidak cukup. Silahkan cek lewat search engine mengenai CSF, banyak pendapat yang menolak atau setidaknya membatasi. Rupanya, persahabatan antara seorang wanita menikah dengan pria jomblo tetap menuai kontroversi, bahkan di negara bebas sekalipun.
Kamis, 17 Mei 2012
26
Hari ini, saya resmi menginjak usia 26 tahun. Yayy, it's my birthday! Sepertinya saya sudah terlalu tua untuk merasa excited menghadapi hari ulang tahun, apalagi memimpikan tiup lilin, potong kue, dan kado ultah. Tapi kalau sekedar bersyukur atas waktu yang sudah Tuhan berikan selama 26 tahun ini, boleh kan?!
Sebenarnya, ketika berulang tahun, ada saja hal besar yang terjadi dalam hidup saya dan keluarga. Saat berulang tahun ke-22, saya bertunangan dengan Andri. Saat merayakan ulang tahun ke-23, untuk pertama kalinya saya membeli mobil sendiri. Kemudian saat merayakan ulang tahun ke-24, saya melembagakan perusahaan keluarga dan otomatis "naik jabatan" jadi direktur. Ulang tahun ke-25, untuk pertama kalinya putri saya berjalan sendiri, tanpa pegangan pada apapun. Sekarang, di hari ulangtahun saya yang ke-26, saya membeli rumah baru.
Tapi semua kejadian besar itu dimulai dari ulang tahun ke-21 di tahun 2007, sewaktu saya masih kuliah. Saat itu saya tinggal dalam zona kenyamanan yang membuat saya enggan untuk berubah. Saya sangat manja, boros, cenderung bermalas-malasan, keras kepala, dan atheis. Tapi kemudian saya berpikir bahwa sifat saya itu membuat saya diri saya monoton, tidak menarik, dan hampa. Lalu di ulang tahun ke 21, saya mengambil keputusan untuk berubah. Saya memulai dengan menjalankan pola hidup sehat, menurunkan berat badan yang 70 kg, mengerjakan skripsi dengan serius, dan yang paling penting : kembali kepada Tuhan. Perubahan-perubahan yang saat lakukan membuat hidup teras lebih positif dan menyenangkan. Dan pada ulang tahun berikutnya, tiba-tiba saja saya menjadi All New Rin. Sejak saat itu, Tuhan menuntun saya untuk mengalami berbagai hal yang luar biasa.
Saya melihat banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya dalam dosa, atau menjalani hidup hanya karena "harus" dan bersikap pasrah pada keadaan. Mereka bersikap stagnan, tidak berani berubah atau membuat keputusan besar, dan kalah pada kekhawatiran. Sorry, tapi bagi saya semua itu nampak membosankan. Saya lebih suka melihat mereka yang berani keluar dari zona kenyamanan mereka, mencari celah-celah sempit dalam kesulitan, berpetualang dengan nasib, dan mengalami hal-hal luar biasa yang nggak mereka bayangkan sebelumnya.
Di usia 26 tahun, saya masih merasa sangat siap untuk mengalami hal-hal baru. Saya selalu membuka diri pada setiap kemungkinan dan berusaha menolak ucapan "nggak mungkin". Pegangan saya hanya satu: bersandar kepada Tuhan. So, God, take me wherever You want. I'm ready!
Jumat, 04 Mei 2012
Home Sweet Home
Sekarang saya sedang mencari rumah di pusat kota Bandung karena sebentar lagi Nana akan sekolah (toddler). Dari dulu sampai sekarang, saya tinggal di Padalarang dan sekolah ke Bandung - jadi untuk pergi sekolah memerlukan waktu hampir sejam; itu pun kalau tidak terlalu macet. Dulu saya mengalami bagaimana harus berangkat subuh supaya tidak terlambat. Ngantuk, terlewat sarapan, mengerjakan PR di kelas, belajar di mobil... semua itu saya rasakan hampir setiap hari. Saya tidak mau Nana mengalami hal yang sama dengan saya, sebab banyak waktu terbuang percuma. Daripada habis di jalan, lebih baik digunakan untuk istirahat yang di rumah.
Mencari rumah di pusat kota Bandung tidak semudah yang saya pikirkan. Terutama untuk saya, seorang yang lahir dan dibesarkan di daerah pinggiran. Dulu orangtua saya bukan orang kaya; mereka tidak punya uang untuk membeli rumah di kota, sehingga hanya bisa membeli rumah di kaki gunung. Tapi, kehidupan di sini sangat menyenangkan! Saya tumbuh dengan melihat pemandangan matahari terbit di balik gunung, sawah yang luas, dan lapangan berumput dengan jalan setapak yang dipenuhi kupu-kupu (dan ulat tentu saja). Rumah kami memiliki tanah belakang yang cukup luas untuk saya memelihara ikan, burung, kelinci, ayam, tupai, dll. Selain itu kami juga mempunyai kebun yang ditanami berbagai jenis pohon dan sayuran..
Sementara di Bandung, daerah seperti ini sangat sulit ditemukan. Rumah-rumah standar memiliki luas tanah hanya sekitar 90-120 meter persegi, harganya pun selangit (bandingkan dengan saya yang dibesarkan di rumah seluas 600 meter persegi). Saya jadi mengerti mengapa anak-anak zaman sekarang tidak biasa berinteraksi dengan alam - sebab banyak dari mereka yang bahkan tidak punya taman di rumah mereka sendiri. Anak-anak menghabiskan waktu dengan permainan yang mereka lakukan di dalam rumah. Akibatnya anak-anak kurang bergerak atau tidak cukup terkena paparan sinar matahari dan udara segar.
Saya rasa semakin hari, semakin sulit mencari tempat tinggal yang ideal di daerah perkotaan. Tuntutan pekerjaan orangtua, kebutuhan akan sekolah yang berkualitas, atau sekedar gengsi membuat masyarakat rela tinggal berdesak-desakan di kota. Sepertinya masa kecil yang saya alami semakin sulit dirasakan oleh anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Semoga saja suatu saat pemerintah membangun sebuah taman yang sangat besar di tengah kota, sehingga anak-anak kota pun masih memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan alam secara aktif. Jika tidak, yang ada bukan lagi home sweet home, tapi "home sempit home"!
Jumat, 23 Maret 2012
Goodbye Sus!
Terhitung kemarin siang, Suster (pengasuh) yang mengurus Nana sejak berusia sebulan, resmi meninggalkan rumah keluarga kami. Dua hari sebelumnya mendadak Suster berkata kalau dia akan pulang kampung dan tidak akan kembali lagi karena urusan keluarga. Keputusan dadakan ini membuat saya dan suami sempat kebingungan karena kami sudah mempunyai sejumlah rencana untuk beberapa minggu ke depan yang tidak mungkin terlaksana jika tidak ada Suster. Apalagi saya dan suami bekerja, ditambah lagi sekarang adalah bulan pelaporan pajak, tentu saja kami sangat sibuk. Tapi apa boleh buat, saya tidak punya hak untuk melarang Suster pulang sehingga dengan lapang dada kami merelakan rencana-rencana tersebut terbengkalai.
Aku mengajak Nana mengantarkan Suster pergi, dan nampak wajah Nana yang bingung saat melihat orang yang selalu menemaninya selama dua tahun ini pergi meninggalkannya. Nana tidak menangis, tapi ada kekecewaan yang terpancar di wajahnya. Saya berusaha merespon keheranan Nana secara positif; saya bilang pada Nana kalau Suster mempunyai adik bayi yang harus diurus, sementara Nana sudah besar sehingga tidak perlu ditemani Suster lagi. Nana menerima penjelasan saya sehingga tidak bertanya lagi mengapa Suster tidak ada di rumah.
Jika dilihat ke belakang, sebenarnya, kami tidak sepenuhnya cocok dengan Suster. Bagi kami yang hanya keluarga kecil dengan penghasilan cukup, dia terlalu mata duitan. Gajinya lebih tinggi daripada UMR, ditambah uang tiga bulanan, keperluan sehari-harinya, bahkan kalau dia sakit seperti batuk, obatnya tidak mau beli sendiri. Dia juga sudah cukup berumur sehingga agak keras kepala dan cenderung tidak mau menerima gagasan dari pasangan muda seperti saya dan suami. Dia juga kurang apik dalam menggunakan peralatan rumah tangga; mulai dari kompor, microwave, hingga rice cooker. Namun hal paling parah yang kadang membuat saya gregetan adalah sikap judesnya pada PRT ( pembantu rumah tangga ). Selama dua tahun tinggal bersama kami, sudah 6 kali kami berganti PRT dengan alasan tidak cocok atau bertengkar dengan Suster. Tetapi saya tetap mempertahankan Suster karena dia telaten dalam mengurus Nana. Dia sabar jika Nana sakit atau rewel, tidak menyerah jika Nana susah makan, juga tidak malas menjalankan rutinitas anak seperti ganti pampers, makan buah, vitamin, dan lain-lain. Itulah sebabnya saya tutup mata pada segala kekurangan Suster dan mempercayakan putri semata wayang kami padanya.
Kini setelah Suster pergi, saya menyadari bahwa meskipun sifatnya tidak sempurna, tapi Suster juga telah berjasa banyak pada keluarga kami. Di satu sisi saya berharap mendapatkan pengganti yang baik seperti Suster, di sisi lain saya juga berharap Suster bahagia dengan pekerjaannya sekarang.
Ketiadaan Suster membuat saya ekstra sibuk dengan pekerjaan kantor dan mengurus Nana. Sampai nanti saya mendapatkan pengganti Suster, kira-kira tanggal 10 April nanti, saya akan membawa Nana ke kantor (di satu sisi saya bersyukur karena bekerja di perusahaan orangtua, sebab saya tidak seleluasa ini jika bekerja di tempat lain). Saya selalu berusaha melihat segala sesuatu secara lebih positif. Setidaknya kalau saya capek karena banyak yang harus saya lakukan, program diet saya pun akan terbantu. Selain itu saya punya suami dan keluarga yang pengertian sehingga saya merasa tidak terlalu lelah. Prinsip saya yang "semua ada waktunya" membuat saya yakin kalau semua kesulitan yang saya jalani sekarang akan membuat saya lebih bijaksana, lebih dewasa, dan lebih tahan banting.
Aku mengajak Nana mengantarkan Suster pergi, dan nampak wajah Nana yang bingung saat melihat orang yang selalu menemaninya selama dua tahun ini pergi meninggalkannya. Nana tidak menangis, tapi ada kekecewaan yang terpancar di wajahnya. Saya berusaha merespon keheranan Nana secara positif; saya bilang pada Nana kalau Suster mempunyai adik bayi yang harus diurus, sementara Nana sudah besar sehingga tidak perlu ditemani Suster lagi. Nana menerima penjelasan saya sehingga tidak bertanya lagi mengapa Suster tidak ada di rumah.
Jika dilihat ke belakang, sebenarnya, kami tidak sepenuhnya cocok dengan Suster. Bagi kami yang hanya keluarga kecil dengan penghasilan cukup, dia terlalu mata duitan. Gajinya lebih tinggi daripada UMR, ditambah uang tiga bulanan, keperluan sehari-harinya, bahkan kalau dia sakit seperti batuk, obatnya tidak mau beli sendiri. Dia juga sudah cukup berumur sehingga agak keras kepala dan cenderung tidak mau menerima gagasan dari pasangan muda seperti saya dan suami. Dia juga kurang apik dalam menggunakan peralatan rumah tangga; mulai dari kompor, microwave, hingga rice cooker. Namun hal paling parah yang kadang membuat saya gregetan adalah sikap judesnya pada PRT ( pembantu rumah tangga ). Selama dua tahun tinggal bersama kami, sudah 6 kali kami berganti PRT dengan alasan tidak cocok atau bertengkar dengan Suster. Tetapi saya tetap mempertahankan Suster karena dia telaten dalam mengurus Nana. Dia sabar jika Nana sakit atau rewel, tidak menyerah jika Nana susah makan, juga tidak malas menjalankan rutinitas anak seperti ganti pampers, makan buah, vitamin, dan lain-lain. Itulah sebabnya saya tutup mata pada segala kekurangan Suster dan mempercayakan putri semata wayang kami padanya.
Kini setelah Suster pergi, saya menyadari bahwa meskipun sifatnya tidak sempurna, tapi Suster juga telah berjasa banyak pada keluarga kami. Di satu sisi saya berharap mendapatkan pengganti yang baik seperti Suster, di sisi lain saya juga berharap Suster bahagia dengan pekerjaannya sekarang.
Ketiadaan Suster membuat saya ekstra sibuk dengan pekerjaan kantor dan mengurus Nana. Sampai nanti saya mendapatkan pengganti Suster, kira-kira tanggal 10 April nanti, saya akan membawa Nana ke kantor (di satu sisi saya bersyukur karena bekerja di perusahaan orangtua, sebab saya tidak seleluasa ini jika bekerja di tempat lain). Saya selalu berusaha melihat segala sesuatu secara lebih positif. Setidaknya kalau saya capek karena banyak yang harus saya lakukan, program diet saya pun akan terbantu. Selain itu saya punya suami dan keluarga yang pengertian sehingga saya merasa tidak terlalu lelah. Prinsip saya yang "semua ada waktunya" membuat saya yakin kalau semua kesulitan yang saya jalani sekarang akan membuat saya lebih bijaksana, lebih dewasa, dan lebih tahan banting.
Langganan:
Postingan (Atom)




